Yayasan Lentera Anak fasilitasi nobar dan diskusi film Negara Perokok Anak

id Lentera Anak, Nobar, Negara Perokok Anak, COVID-19,penanganan corona,virus corona,corona,covid-19,2019-ncov,novel corona

Yayasan Lentera Anak fasilitasi nobar dan diskusi film Negara Perokok Anak

Aksi nobar dan diskusi daring tentang film Negara Perokok Anak yang dilakukan komunitas Pembaharu Muda, Jakarta, Sabtu (11/4/2020). (ANTARA/HO-Humas Lentera Anak)

Nobar ini menggunakan aplikasi diskusi online yang memungkinkan untuk melakukan panggilan video berkapasitas 100 anggota
Jakarta (ANTARA) - Yayasan Lentera Anak memfasilitasi komunitas Pembaharu Muda menggelar nonton bareng (nobar) dan diskusi berbasis daring tentang film berjudul Negara Perokok Anak (NPA) untuk menyiasati seruan menjaga jarak di tengah pandemi CCOVID-19.

"Nobar ini menggunakan aplikasi diskusi online yang memungkinkan untuk melakukan panggilan video berkapasitas 100 anggota, sehingga bisa diikuti hingga 100 anak muda dari berbagai komunitas di Indonesia," kata Ketua Lentera Anak Lisda Sundari melalui keterangan pers yang diterima ANTARA di Jakarta, Sabtu.

Seiring dengan terus bertambahnya kasus positif virus SARS-COV-2, penyebab wabah COVID-19 di Indonesia, pemerintah meminta masyarakat untuk tidak ke luar rumah untuk memutus mata rantai penyebarannya, tidak terkecuali pelajar dan mahasiswa yang harus tinggal di rumah karena sekolah dan kampus mereka diliburkan sementara.

Bagi sebagian anak muda, beraktivitas di rumah secara terus menerus terkadang membuat mereka bosan.

Meskipun sekolah dan universitas memberlakukan belajar online, waktu luang yang tersisa masih cukup banyak, sehingga mereka bingung memilih cara untuk mengisi aktivitas harian mereka.

Kondisi tersebut, kata Lisda, mendorong Pembaharu Muda FCTC untuk membuat acara kreatif yang bisa melibatkan komunitas anak muda meskipun dilakukan di rumah.

Pembaharu Muda merupakan komunitas yang terdiri dari 20 anak muda di 20 kota yang aktif melakukan aksi berbasis media sosial untuk mendukung pengendalian tembakau yang melindungi anak Indonesia dari dampak rokok.

Mereka membuat gagasan untuk nonton bareng secara digital menggunakan aplikasi diskusi online.

Ide kreatif itu disambut baik oleh Lentera Anak dengan memfasilitasi Pembaharu Muda melakukan nonton bareng Film berjudul Negara Perokok Anak (NPA).

Lisda mengatakan aksi nobar telah dilakukan oleh beberapa anggota Pembaharu Muda, di antaranya oleh Fathi Muhammad Rahmadi, Pembaharu Muda Kota Tasikmalaya yang pada hari ini (11/04) menggelar nobar Film NPA bersama Himpunan Mahasiswa Kesehatan Masyarakat Universitas Siliwangi.

Sebelumnya, pada 5 April, Sarah Haderizky, Pembaharu Muda kota Tangerang, juga menggelar nobar bersama anggota Forum Anak Kota Tangerang dan pada 29 Maret nobar dilakukan Pembaharu Muda bersama komunitas anak muda di beberapa kota lain di Indonesia.

Lisda memuji akso nobar tersebut sebagai upaya untuk mensiasati seruan untuk menjaga jarak guna menghindari penyebaran virus lebih luas lagi.

"Awalnya Pembaharu Muda sudah merencanakan agenda Nobar Film NPA di kotanya masing-masing. Namun, ketika wabah COVID-19 merebak dan diberlakukan social distancing, maka tidak memungkinkan untuk nobar bersama komunitas, hingga tercetus ide menggelar nobar online dengan melibatkan komunitas anak muda," katanya.

Aksi tersebut, kata dia, merupakan bukti bahwa anak muda tidak hanya kreatif, tetapi juga kritis menyuarakan perlindungan anak dari dampak rokok,” katanya.

Acara nobar online Film NPA, menurut dia, tidak sekadar ajang nonton, tapi juga mengajak anak muda kritis terhadap isu perokok anak.

Oleh karena itu, di setiap acara nobar diadakan juga tanya jawab dan diskusi terkait anak muda dan rokok dengan menghadirkan narasumber yang kompeten di bidangnya.

Sementara itu, Youth Empowerment Officer Lentera Anak Rama Tanta mengatakan acara nobar dan diskusi online Film NPA akan digelar hingga awal Mei 2020 dengan peserta yang diharapkan akan terus bertambah.

“Alhamdulillah peserta nobar terus meningkat. Peserta pada 29 Maret 68 orang dan meningkat menjadi 86 pada 5 April,” katanya.

Terkait perokok anak, ia menyebutkan berdasarkan Riskesdas tahun 2018 jumlah perokok anak di Indonesia meningkat hingga 9,1 persen atau 7,8 juta anak, atau setara dengan 101 gedung Gelora Bung Karno yang penuh berisikan anak-anak Indonesia sedang merokok.

Ia berharap aksi nobar dan diskusi online tersebut dapat meningkatkan kesadaran lebih banyak anak muda terkait dampak rokok dan juga meningkatnya peran pemerintah untuk mengatasi persoalan perokok anak tersebut.

Pewarta :
Editor: Indra Gultom
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar