Rektor IPB lunasi "utang" harapan orang tuanya

id Rektor IPB,Arif Satria,Ekologi dan politik

Rektor IPB lunasi "utang" harapan  orang tuanya

Rektor IPB Prof Dr Airf Satria pada upacara pengukuhan guru besar tetap IPB University di kampus IPB Dramaga, Bogor, Sabtu (11/1/2020). (Antara/Humas IPB)

Bogor (ANTARA) - Rektor IPB University Prof Dr Arif Satria menyatakan telah melunasi utang dari harapan-harapan orang tuanya kepada dirinya, hingga menjadi guru besar.

"Ayah memberikan kebebasan kepada kamu setelah lulus kuliah, ingin bekerja dimana. Apakah ingin menjadi PNS, bekerja di swasta, atau menjadi dosen," kata Arif Satria menyitir pernyataan ayahnya, saat menyampaikan orasi ilmiahnya pada upacara pengukuhan guru besar tetap IPB University, di kampus IPB Dramaga, Bogor, Sabtu.

Hadir pada upacara pengukuhan guru besar tetap IPB University, antara lain, Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional Bambang Brodjonegoro, Menteri Kelautan dan Perikanan Edhi Prabowo, mantan Wakil Menteri Perdagangan Bayu Krisnamurti, mantan Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sapta Nirwandar, sejumlah anggota DPR RI, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, dan tamu undangan lainnya.



Arif Satria bercerita soal masa anak-anaknya dan dia tampak sangat terharu hingga kata-katanya terbata-bata ketika mengingat nasihat-nasihat ayahnya kepada dirinya.

Dia bercerita ketika masih kelas 3 sekolah dasar ayahnya memberikan mesin tik kepadanya, yang membuatnya saat itu merasa sangat gembira. "Ayah saya menasihati, kalau bisa ngetik harus bisa jadi penulis," ujarnya.

Ketika ayahnya Arif membelikan gitar, dia juga mengingatkan, kalau bisa main gitar harus bisa mencipta lagu.

Setelah Arif kuliah, ayahnya juga menasihati bahwa setelah lulus boleh bekerja sebagai PNS, menjadi pegawai swasta, atau menjadi dosen. "Kalau menjadi dosen, harus bisa menjadi profesor," tambah mahaiswa IPB angkatan 27 itu.

Kata-kata nasihat dari ayahnya itu terus diingat-ingat Arif, yang kuliah di Fakultas Ekologi Manusia IPB, dan lulus tahun 1995. "Nasihat-nasihat dari ayah terus terngiang-ngiang dan memotivasi saya untuk semakin maju," katanya.



Setelah menjadi dosen di IPB, Arif Satria yang lahir di Pekalongan, pada 17 September 1971 ini, kalau sedang kumpul lebaran bersama keluarga besarnya di Pekalongan, ayahnya beberapa kali bertanya, "kapan kamu menjadi profesor?".

Pertanyaan-pertanyaan dari ayahnya itu semakin memotivasi dirinya untuk segera menjadi profesor, meskipun jalan untuk menjadi profesor itu tidak mudah dilakukan.

Namun, nasihat dan pertanyaan dari ayahnya, yang cukup lama menjadi beban dalam benak Arif, kini terbayar. Arif Satria yang lebih dulu menjadi rektor IPB University itu dikukuhkan sebagai guru besar tetap pada Fakultas Ekologi Manusia IPB.

"Ayah, saat ini saya sudah melunasi semua harapan ayah kepada saya," ujarnya dengan terbata-bata.

Arif juga bercerita sejak kuliah dia sudah mulai menulis opini dan opini pertamanya dimuat di sebuah surat kabar di Bandung.

Dari menulis opini, doktor lulusan Kagishima University, di Jepang ini juga meningkatkan kreativitasnya menjadi penulis buku. Arif sudah menulis beberapa buah buku.

Di luar perkiraan banyak orang, Arif juga telah mencipta lagu untuk memenuhi harapan orang tuanya.




 
Pewarta :
Uploader: Aang Sabarudin
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar