Pada batas kebanggaan mencium Hajar Aswad, namun penuh dengan kemudharatan

id Haji 2019, mch 2019,hajar aswad,mencium hajar aswad,mencium batu hitam,pelaksanaan haji, jamaah haji indonesia,berita sumsel, berita palembang, antara

Pada batas kebanggaan mencium Hajar Aswad, namun penuh dengan kemudharatan

Sudut Kakbah yang terdapat hajar aswad selalu menjadi target jamaah sehingga dijaga askar. Selain hajar aswad, di sisinya terdapat multazam dan pintu Kakbah yang juga selalu dipenuhi jamaah. (ANTARA/Hanni Sofia)

Haji adalah wukuf, maka kesehatan dan keamanan untuk pelaksanaannya lebih besar manfaatnya ketimbang mengejar sunnah, namun penuh dengan kemudharatan
Mekkah (ANTARA) - Bagi sebagian besar jamaah Indonesia, Hajar Aswad masihlah ibarat bintang dalam rangkaian ibadah haji.

Meski menciumnya adalah sunnah, namun kebanggaan tersendiri bisa dibawa jamaah pulang tatkala berhasil menyimpan kisah menyentuh bahkan mencium batu hitam tersebut.

Jamak di kalangan masyarakat Tanah Air, saat pulang berhaji justru yang ditanyakan adalah sudahkah mencium Hajar Aswad dan bukan kebanggaan pada rukun dan wajib hajinya.

Maka, batas mencium batu yang terletak di salah satu sudut Kakbah itu kadang menjadi melampaui sesuatu yang tak seharusnya.

Jamaah asal Jakarta, Dharmono, misalnya, sesaat setelah usai melakukan umrah wajib mengabarkan kebanggaannya bisa melakukan sunnah mencium Hajar Aswad.

Tak berbeda dengannya, banyak jamaah lain memiliki tujuan serupa bahkan dua calon haji Indonesia terluka pada Senin, 22 Juli 2019 karena berusaha melakukannya.

Seorang ibu, anggota jamaah dari Palembang, kehilangan uang hingga puluhan juta lantaran ingin mencium Hajar Aswad dengan cara membayar jasa penolong di lingkungan Masjidil Haram.

Fakta ini menjadi fenomena yang memprihatinkan manakala ibadah sunnah justru dikejar sebegitu rupa namun ibadah wajib dan rukun kehilangan esensi.

Haji adalah wukuf, maka kesehatan dan keamanan untuk pelaksanaannya lebih besar manfaatnya ketimbang mengejar sunnah, namun penuh dengan kemudharatan.


                  Terluka

Kepala Daerah Kerja Mekkah PPIH 2019 Subhan Cholid semakin prihatin tatkala memperoleh laporan beberapa anggota jamaah haji yang terluka ketika berusaha mencium batu berwarna hitam itu.

Dia mengimbau jamaah untuk tidak memaksakan diri mencium Hajar Aswad. “Saat melaksanakan ibadah, perhatikan juga keamanan diri. Ukur kemampuan fisik, jangan sampai karena ingin mengejar sunnahnya, malah menjadi mudharat,” kata Subhan Cholid.

Konsultan ibadah Daerah Kerja (Daker) Mekkah KH Ahmad Wazir menyebutkan bahwa mencium Hajar Aswad bisa menjadi haram hukumnya jika tidak mempertimbangkan aspek-aspek mudharat, kesehatan, dan keamanannya.

Ahmad Wazir yang juga pengelola Pondok Pesantren Denanyar Jombang Jawa Timur itu mengisahkan pada zaman Nabi, boleh jadi populasi penduduk masih sedikit sehingga tidak ada kesulitan untuk mencium batu Hajar Aswad.

Namun, dalam konteks sekarang, hal itu menjadi sulit karena semua orang berlomba ingin mendekat dan mencium Hajar Aswad.

Menurut dia, tentu di satu sisi mengejar sunnah ada sisi baiknya, tapi di sisi lain harus mempertimbangkan aspek-aspek mudharat, mempertimbangkan aspek kesehatan, dan keamanan.

Ia menekankan dalam Islam juga menjaga kesehatan, keamanan, sangat dikedepankan sehingga intinya, kalau sampai mengejar sunnah, mencium Hajar Aswad dengan cara-cara tidak terpuji menjadi haram hukumnya.

Namun, ia kembali menekankan bahwa ada solusi, kalau yang dikejar afdholiah atau keutamaan, toh masih ada tempat-tempat yang bisa dikunjungi dan dilakukan ibadah di dalamnya yang juga masih utama.

“Dalam kondisi tidak memungkinkan sampai ke hajar aswad karena ramai dan padat (crowded), dan lain sebagainya cukup melambaikan tangan dan dicium, itu juga tidak mengurangi pahalanya,” katanya.


Hukum bagi perempuan

Di sisi lain, jamaah perempuan yang memaksakan diri berdesakan dengan laki-laki untuk mencium Hajar Aswad, disebut oleh Konsultan Ibadah Daerah Kerja Mekkah KH DR Ahmad Kartono sebagai tindakan yang justru haram dilakukan.

Oleh karena itu, ia menyarankan kepada jamaah perempuan untuk melihat situasi dan kondisi jika ingin menjalankan sunnah mencium batu tersebut.

Menurut dia, lebih utama mengerjakan sesuatu yang menjadi wajib dan rukun dalam berhaji ketimbang mengejar yang sunnah namun mendapatkan lebih banyak mudharatnya.

“Jika ada keinginan untuk mencium Hajar Aswad adalah harus lihat situasi dan jaga kesehatan diri sendiri adalah wajib daripada kita jatuh dalam kebinasaan,” katanya.

Di sisi lain ada pula orang yang rela membayar jasa orang lain untuk bisa membantu mencium Hajar Aswad dan jasa tersebut memang banyak ditawarkan oleh oknum-oknum di Masjidil Haram.

Kartono menyebut hal itu sebagai pelanggaran karena tidak ada ketentuan dan adabnya dalam Islam.

“Ini pelanggaran seseorang yang menjajakan jasanya untuk mencari orang yang ingin mencium Hajar Aswad kemudian harus bayar, tidak ada ketentuan tentang itu bahwa adab dan tata kramanya tidak ada, orang dalam situasi semestinya sedang khusyuk beribadah tapi dipengaruhi dengan cara-cara lain malah membayar, ini suatu pelanggaran dalam pelaksanaan ibadah,” katanya.

Hajar Aswad hanya satu dari sekian banyak amaliah sunnah, seyogyanya tidak menjadi batas dan ukuran kebanggaan dalam beribadah haji.

Hajar Aswad, menurut Wikipedia, merupakan sebuah batu yang diyakini oleh umat Islam berasal dari surga, dan yang pertama kali menemukannya adalah Nabi Ismail dan yang meletakkannya adalah Nabi Ibrahim.

Dahulu kala batu ini memiliki sinar yang terang dan dapat menerangi seluruh jazirah Arab. Namun, semakin lama sinarnya semakin meredup dan hingga akhirnya sekarang berwarna hitam.

Batu ini memiliki aroma yang unik dan ini merupakan aroma wangi alami yang dimilikinya semenjak awal keberadaannya, dan pada saat ini batu Hajar Aswad tersebut ditaruh di sisi luar Kakbah sehingga mudah bagi seseorang untuk menciumnya. Adapun mencium Hajar Aswad merupakan sunnah Nabi Muhammad SAW karena beliau selalu menciumnya setiap saat tawaf.*
 
Pewarta :
Uploader: Aang Sabarudin
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar