Petugas kebersihan JSC mampu kuliahkan anak hingga lulus

id kartini,jsc

Zahra (53) dan Nuraini (48) tukang sapu JSC sosok Kartini masa kini sukses kuliahkan anak hingga lulus (21/4) (ANTARA News Sumsel/Aziz Munajar/Erwin Matondang/18)

....Kadang ada omongan dari tetangga, kerja cuma tukang sapu bagaimana mungkin menguliahkan anak, tapi bagi saya yang penting anak kuliah, itu saja....
Palembang (ANTARA News Sumsel) - Zahra dan Nuraini selayang menyandang sosok Kartini masa kini, sebab kedua wanita ini begitu mementingkan pendidikan anak meski hanya bekerja sebagai petugas kebersihan namun  mereka mampu membiayai anak hingga lulus dari bangku perguruan tinggi.

Zahra (53) dan Nuraini (48) sehari hari membersihkan area Jakabaring Sport City Palembang. Profesi sebagai petugas kebersihan mereka yakini bukanlah halangan untuk membatasi pendidikan anak. Mereka percaya pendidikan mampu membuat perubahan yang lebih baik untuk masa depan. 

"Bagi saya pendidikan anak sangat penting, karena setidaknya kalau pendidikannya tinggi bisa dapat kerja yang lebih baik, kalau pekerjaanya baik tentu kehidupan bisa lebih baik," kata Zahra.

Zahra memiliki dua anak dan semuanya telah menyelesaikan kuliah pada dua universitas swasta di Palembang bahkan telah bekerja di salah satu institusi kesehatan. 

"Kadang ada omongan dari tetangga, kerja cuma tukang sapu bagaimana mungkin menguliahkan anak, tapi bagi saya yang penting anak kuliah, itu saja," jelasnya.
 
Zahra (53) dan Nuraini (48) tukang sapu JSC sosok tengah bercengkrama (ANTARA News Sumsel/Aziz Munajar/Erwin Matondang/18)


Sementara Nuraini warga Kelurahan Tegal Binangun, memiliki tiga anak dimana anak pertama sudah menyelesaikan kuliah di salah satu sekolah tinggi di Palembang, dan dua lainnya masih bersekolah di SMA serta SMP. 

Zahra dan Nuraini mengaku terinspirasi dari sosok RA Kartini yang mahsyur akan kisahnya mengenai kebebasan dan cita-cita tinggi akan pendidikan.

"RA Kartini itukan mengajarkan kalau wanita jangan cuma diam saja dirumah, harus ada cita-cita yang tinggi, misal ada peluang segera manfaatkan. Kami memang cuma tamatan SMA, tapi anak kami harus lebih dari kami, sebab kami ingin anak sukses semua," ungkap Zahra. 

Pada masa-masa mengkuliahkan anak, mereka tak lepas dari kesulitan biaya apalagi jika mengandalkan penghasilan perbulan amatlah pas-pasan. 

"Waktu anak kuliah dulu biaya memang harus banyak, pengeluaran perbulan dan iuran persemester, sempet berhutang sana-sini, jual barang, tapi sebagai orang tua semua diusahakan demi anak kuliah," jelas Nuraini.
Pewarta :
Editor: Erwin Matondang
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar