Kisah Mama Aleta dalam perenungan seorang Antropolog

id Mama Aleta Baun dari Mollo

Kisah Mama Aleta dalam perenungan seorang Antropolog

Ilustrasi.(FOTO ANTARA)

Antropolog Budaya dari Universitas Katolik Widya Mandira Kupang Pater Gregor Neonbasu SVD, PhD dengan cermat membaca dan menyimak sebuah kisah nyata tentang Mama Aleta Baun dari Mollo, Kabupaten Timor Tengah Selatan di sebuah media lokal.

Dalam permenungannya, Ketua Komisi Sosial Budaya Dewan Riset Daerah Nusa Tenggara Timur itu menangkap sebuah makna mendalam dibalik kisah peraih penghargaan lingkungan hidup dari "Goldman Environmental Prize 2013" yang diterima Mama Aleta di San Fransisco Opera House, Amerika Serikat pada 15 April 2013.

"Ketika kubaca laporan tersebut, spontan ku bisik dalam lubuk hati, adakah sesuatu yang baik datang dari ufuk Gunung Mutis nun jauh di sana, dan serta merta muncul ke atas permukaan peristiwa internasional," kata rohaniawan Katolik itu dalam nada tanya.

Pihak Goldman Prize dalam laporannya menyebutkan prestasi yang diraih Mama Aleta Baun, wanita Dawan Timor itu, karena sanggup menghentikan perusakan tanah hutan yang sakral di Gunung Mutis, di wilayah Kabupaten Timor Tengah Selatan, sekitar 110 km timur Kupang, ibu kota Provinsi NTT.

"Dengan mengorganisir ratusan warga desa setempat untuk secara damai menduduki tempat-tempat penambangan marmer dalam suatu protes sambil menenun, Aleta Baun menghentikan perusakan tanah hutan yang sakral di Gunung Mutis," demikian Goldman Prize dalam situsnya.

Mama Aleta Baun melakukan aksi tersebut sekitar tahun 1980-an ketika pemerintahan setempat memberikan izin pada perusahaan penambangan marmer untuk memotong batu-batu marmer dari pegunungan di kawasan Mollo, tanpa meminta izin kepada penduduk setempat sebagai penghuni kawasan tersebut.

Atas dasar itu, Mama Aleta Baun berhak mendapatkan hadiah sebesar 150.000 dolar AS atau setara Rp1,4 miliar dari Goldman Prize dalam sebuah acara khusus nan istimewa di San Fransisco Opera House, Amerika Serikat, 15 April 2013.

"Ini merupakan sebuah apresiasi atas ketekunan dan komitmen Mama Aleta tanpa pamrih. Mata luar negeri lebih tajam untuk menilai, mana yang layak dan pantas diapresiasi secara terbuka. Orang luar lebih jeli memberi panghargaan atas jeri lelah dan kucuran keringat serta air mata untuk meratapi kerusakan ekologi kawasan Mollo," kata Neonbasu.

Ia menambahkan pihak yang tidak punya akses sama sekali untuk mengecapi keindahan Gunung Mutis, justru memikiki porspektif analisis jauh lebih tajam ke depan untuk mendukung upaya Mama Aleta.

Menurut Neonbasu, usaha tanpa pamrih memang selalu diawali dengan sesuatu yang sederhana, biasa dan tidak terkenal. Terhadap cara dan pola ini, media telah mengurai dengan amat kaya, awal usaha Mama Aleta, yang memulai protes dengan sebuah gerakan sangat kecil, yang tidak memakan biaya.

"Namun toh mereka kehabisan tenaga oleh karena hanya terdiri dari tiga wanita dengan berjalan kaki untuk menyampaikan kata hati dan keprihatinan mereka akan nasib ekologi sekitar Gunung Mutis yang semakin amburadul," ujarnya.

"Tiada rintangan yang menghadang di jalan, dan ternyata Mama Aleta diancam untuk dibunuh, walau ia masih memiliki akal untuk bersembunyi bersama bayinya serta penduduk desa yang memiliki keprihatinan bersama Mama Aleta justru ditangkap dan dipukul," tambahnya.

Menurut Neonbasu, yang pantas dicatat dari perhelatan kemanusiaan dan pawai keprihatinan tanpa bayar atas makna dan nilai ekologi bagi kehidupan manusia adalah usaha yang tulus untuk mengecam sesuatu yang tidak benar dalam paradigma pembangunan selama ini.

"Mama Aleta dengan teman-temannya berjuang tanpa pamrih, tidak kenal lelah, tidak pikir banyak tentang harta benda dan bahkan harga diri mereka yang dipersembahkan bagi keindahan kawasan Mollo manise," katanya.

"Mereka berjuang agar Gunung Mutis tetap cantik, dan itu tergantung pada seberapa jauh lingkungan sekitar tetap dijaga dari berbagai rekayasa untuk melipat-gandakan penghasilan rupiah bagi usaha manusia menuju puncak kesejahteraan," tambahnya.

Di sini, semua orang harus berpikir serius, apakah kesejahteraan hanya semata diukur oleh sedikit dan melimpahnya rupiah atau tergantung juga pada kelestarian lingkungan hidup yang memberi aroma kehidupan yang damai, bahagia dan sejahtera.

"Apakah kesejahteraan hanya sebatas menata kehidupan ekonomi tanpa memperhatikan aspek kehidupan manusia yang lainnya," kata Neonbasu dan menambahkan pembangunan hendaknya tidak saja memperkaya diri dengan berbagai rancangan material tanpa memperhatikan aspek penataan lingkungan yang baik, indah, menarik dan mempesona.

"Pesan terindah dari usaha Mama Aleta dari Mollo adalah prospektif pembangunan kita hendaknya diarahkan untuk secara serius merefleksi peran dan fungsi lingkungan hidup selama ini," ujarnya.

Menurut dia, Yayasan Lingkungan Hidup Goldman sebetulnya sangat "concerned" pada usaha setiap manusia, yang tanpa rasa takut melawan semua rintangan demi melindungi lingkungan hidup dan komunitas manusia dalam sebuah prospektif ke depan yang berdaya guna.

"Mama Aleta yang telah berjuang semenjak tahun 1980-an, ketika dengan gigih melawan dua perusahaan tambang yang hendak menguasai bukit sakral bagi orang Mollo, memang akhirnya membuahkan hasil tahun 2007 dengan dihentikannya operasional tambang di daerah tersebut," ujarnya.

Ia menambahkan itikad terpuji yang ditunjuk Mama Aleta secara damai, yakni dengan cara sederhana dan sangat ekonomis, yakni menduduki tempat-tempat penambangan marmer dengan aksi "protes sambil menenun" di lokasi tambang. Luar biasa, jalan manusiawi yang amat sederhana ini berhasil mencegah kehausan untuk merusak tanah hutan sakral di Gunung Mutis.

"Kita setuju sikap Richard dan Rhoda Goldman dari San Francisco, yang mengatas namai Goldman justru memberi julukan kepada Mama Aleta sebagai pahlawan lingkungan hidup, duta-duta keindahan alam, dan para musafir harta karun alam-raya yang sangat mencintai tatakrama kecantikan dewi bumi, citra alam nan perkasa," ujarnya.

Ia menambahkan tampilnya Mama Aleta, tidak saja memberi keharuman nama Mutis, melainkan Mollo, juga ibunda Timor, dan berturut-turut Nusa Tenggara Timur, Indonesia dan bahkan setiap insan yang perduli akan harkat dan martabat ekologi.

Pewarta :
Editor: Awi
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.