Kabupaten Banyuasin kembangkan Pulau Ekor Tikus sebagai destinasi ekowisata

id ekowisata,wisata,banyuasin,pemkab,pulau,destinasi wisata,destinasi

Sejumlah pengunjung menikmati suasana matahari tenggelam (sunset) di Kawasan Ekowisata Mangrove Lantebung, Makassar. Kawasan ekowisata serupa akan dikembangkan Pemkab Banyuasin di Pulau Ekor Tikus. (ANTARA/ARNAS PADDA)

Pangkalan Balai (ANTARA) - Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan akan mengembangkan Pulau Ekor Tikus menjadi destinasi ekowisata atau kegiatan wisata berwawasan lingkungan karena memiliki lokasi yang strategis dan alam yang masih asri.

Kepala Dinas Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Banyuasin Erwin Ibrahim di Pangkalan Balai, Selasa, mengatakan, pemkab sudah memetakan lokasi-lokasi yang bisa dikembangkan menjadi kawasan ekowisata terutama di Sungsang-Sembilang, salah satunya Pulau Ekor Tikus.

Pulau yang berada di wilayah administrasi Kecamatan Banyuasin II ini dinilai berpotensi di masa datang karena berdekatan dengan pelabuhan.

“Jika kita kelola dengan serius dan dengan perencanaan matang, maka Pulau Ekor Tikus ini akan banyak dikunjungi wisatawan,” kata Erwin.

Untuk itu, pemkab akan membuat ‘master plan’ pengembangan pulau ini, termasuk rencana pembangunan fasilitas infrastruktur penunjang yang masuk dalam pengembangan kawasan Sungsang-Sembilang.

Kawasan ini akan dikembangkan menjadi destinasi wisata yang mengutamakan aspek konservasi alam, aspek pemberdayaan sosial budaya ekonomi masyarakat lokal serta aspek pembelajaran dan pendidikan.

Sementara itu, Pulau Ekor Tikus yang terletak di perairan wilayah Desa Sungsang 2, Kecamatan Banyuasin II, Kabupaten Banyuasin, Provinsi Sumatera Selatan, ini sudah lama dikenal masyarakat setempat sebagai pusat habitat ikan dan udang.

Camat Banyuasin II Salinan mengatakan asal mula nama Pulau Ekor Tikus karena pulau ini berbentuk seperti ekor tikus.

“Di Pulau ini banyak sekali udangnya, ada juga hutan bakau. Jika mau ke sini tidak sulit, cuma pakai kapal cepat saja,” kata dia.

Kabupaten Banyuasin merupakan daerah yang 60 persen wilayahnya merupakan perairan.

Di kabupaten ini terdapat Taman Nasional Berbak Sembilang seluas 205.750 hektare yang selalu dikunjungi burung migran dari Siberia pada bulan Oktober. Momen ini kerap tidak disia-siakan para wisatawan dengan menangkap potensi wisata susur sungai.

Pewarta :
Uploader: Aang Sabarudin
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar