Meyakini ada binatang buas, warga dihantui ketakutan

id diterkam harimau,petani karet ketakutan,binatang buas,harimau,warga desa jernih,warga dihantui ketakutan,bksda, jejak harimau

Tim BKSDA Sumatera Selatan SKW II Lahat melakukan observasi di lokasi penemuan mayat yang diduga diterkam harimau dalam kawasan perkebunan karet di Desa Sungai Jernih, Kabupaten Musi Rawas Utara, Rabu (19/6) (ANTARA News Sumsel/Rahmat Aizullah/I016/19)

....Kemarin memang ada petugas yang turun ke lokasi, mereka tidak menemukan jejak binatang buas, tapi kami masih ada rasa ketakutan....
Muratara, Sumsel (ANTARA) - Warga Desa Sungai Jernih, Kabupaten Musi Rawas Utara, Sumatera Selatan, masih dibayang-bayangi rasa ketakutan setelah ada kejadian petani karet tewas mengenaskan diduga diterkam binatang buas.

"Kemarin memang ada petugas yang turun ke lokasi, mereka tidak menemukan jejak binatang buas, tapi kami masih ada rasa ketakutan," kata seorang warga Sutrisno (55) di Sungai Jernih, Musi Rawas Utara (Muratara), Kamis.

Sutrisno yang juga merupakan petani karet mengakui saat ini belum berani pergi ke kebun, karena takut binatang buas yang menewaskan tetangganya masih berada di sekitar lokasi kejadian.

Sutrisno dan warga petani karet lainnya masih meliburkan diri dari aktivitas menyadap karet sampai situasi dan kondisi di kawasan perkebunan karet wilayah setempat benar-benar aman.

"Untuk saat ini kami masih istirahat dulu di rumah, belum berani ke kebun, takut terjadi apa-apa," kata pria yang mengaku kebun karetnya bersebelahan dengan kebun karet tempat kejadian mengenaskan Senin (17/6) lalu.

Ia berharap pemerintah setempat dan pihak terkait lainnya dapat memberikan rasa aman khususnya kepada para petani, mengingat perkebunan karet merupakan mata pencaharian mayoritas warga di desa itu.

"Seluruh petani karet di sini resah, mau menyadap karet takut, padahal mata pencaharian hanya di sini, tolonglah terutama pemerintah, supaya kami di sini benar-benar aman begitu, tidak ada rasa ketakutan lagi," harapnya.
Pewarta :
Editor: Indra Gultom
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar