Menjadi chep untuk orang gangguan jiwa

id jurumasak, orang gila, chep

Juru masak untuk orang gila, gelandangan dan pengemis (Antarasumsel.com/Banu S/Parni/17)

Palembang (Antarasumsel.com) - Menjadi juru masak atau Chef bagi Kocik (58) tentu memiliki keunikan sendiri, apalagi jika yang dimasak itu untuk orang gangguan jiwa, pengemis dan orang terlantar suka dan dukanya pasti berbeda.

"Saya menjadi juru masak untuk ratusan orang penderita gangguan jiwa, pengemis, dan orang terlantar sudah 15 tahun," kata ibu Kocik (58) di lokasi penampungan Kelurahan Sukamaju Kota Palembang, Minggu.

Dijelaskannya, pada awalnya memasak dan berkumpul dengan orang gila, pengemis dan orang terlantar tidak terbersit dibenaknya.

"Setelah suaminya meninggal 15 tahun lalu, pekerjaan ini terus digelutinya dengan ikhlas. Ada satu anak saya yang harus dihidupi dan diperjuangkan masa depanya,"kata Kocik.

Pada mulanya saat memulai menjadi tukang masak untuk penampungan orang gila, pengemis dan orang terlantar cukup mengerikan, karena mendengar suara jeritan, tangisan dari warga penampungan yang mengalami gangguan jiwa sempat membuatnya takut.

Namun, kata dia, lambat laun seiring waktu menjadi terbiasa dengan para warga penampungan ini, karena mereka tidak mengganggu atau jahil, justru warga penampungan menurut dengannya.

"Pada awal  memasak untuk para warga dipenampungan sangat banyak, dan masih menggunakan kawah atau wajan berukuran cukup besar seperti akan memasak untuk hajatan saja. Memasak dengan takaran yang sangat banyak ini, tentunya membutuhkan tenaga  cukup besar, apalagi dilakukan tiga kali dalam setiap hari," katanya.

Sementara, jumlah wajan satu buah untuk memasak nasi, satu buah lagi untuk memasak sayur dan lauk-pauk, serta kebutuhan memasak untuk pagi, siang dan sore hari dibutuhkan 60 kilogram beras bersama menu lauk-laup.

Menu saji makanan yang dihidangkan seperti sayur, lauk-pauk untuk setiap waktu pagi, siang dan sore hari berubah-ubah. Seperti untuk menu sarapan pagi jika lauk pauk ayam, maka sore hari bisa ikan asin, telur atau tahu dan tempe, terus berganti setiap hari.

Mengurus orang dengan gangguan jiwa dan mental harus banyak sabar, dukanya terkadang jatah lauk makan diberi satu ambil dua. Ya.. namanya orang gangguan jiwa dan mental tidak bisa disamakan dengan menggurus orang sehat, kata Kocik.

Hal lain yang membuat dirinya tegar adalah buah hatinya kini sudah tamat sekolah lanjutan atas. Bersyukur dengan Allah SWT diberi kecukupan makan minum Alhamdulillah.

"Setelah lima tahun terakhir sistem memasak disini agak ringan karena sudah ada kontrak dengan katering yang menyuplai semua kebutuhan menu makanan disini. Kita hanya mengerjakan menyiapkan masakan dan menu saja, karena semuanya dipenuhi oleh katering, katanya.

Sementara, kebutuhan air minum,  masak setiap hari untuk warga di penampungan minimal dua drum air minum. Untuk minum susu setiap minggu satu kali, sebelumnya jatah susu seminggu dua kali.

Sementara untuk gaji bulanan yang diterimanya ditambah gaji pensiun suaminya cukup untuk bantu biaya anak sekolah.

"Hadiah terindah yang pernah diperolehnya tanpa terpikirkan dan dibayangkan yaitu di ajak Ibadah Umrah oleh salah satu keluarga. Sesuatu yang tidak bisa saya bayangkan ketika panggilan Ibadah Umroh menghampiri saya," ucapnya.

Ia berharap, putra satu satunya ini menjadi seorang Tentara Nasional Indonesia, ini juga merupakan cita-cita anaknya yang harus didukung, semoga Allah memudahkan usahanya mencapai cita-citanya.
Pewarta :
Editor: M. Suparni
COPYRIGHT © ANTARA 2017

Komentar