Pasal santet dan kisah "cinta ditolak dukun bertindak"

id santet, dukun

Pasal santet dan kisah "cinta ditolak dukun bertindak"

Ilustrasi (Antarasumsel.com/Grafis/Aw)

Ungkapan "Cinta ditolak dukun berindak", boleh jadi sepintas kedengarannya jenaka. Terlebih bagi orang yang sedang mengejar cewek atau gadis idaman. Kalimat itu kadang secara tak sengaja bisa dijumpai tertulis di belakang truk pasir atau angkutan barang lainnya. Bahkan lebih jenaka lagi ada yang menuliskan "Kutunggu Jandamu".

Kalimat dari rangkaian kata-kata jenaka tersebut sesungguhnya pencerminan bahwa masyarakat Indonesia -- khususnya pada strata pendidikan lapisan bawah -- sangat dekat dengan "dunia halus", cenderung berbau klenik dan mistik. Jadi, ungkapan "Cinta ditolak dukun bertindak", menggambarkan seorang pria (mungkin saja sang supir) yang putus asa untuk mendapatkan gadis dan kemudian ditolak. Pria bersangkutan lantas "melapor" ke sang dukun.

Tentu, dengan harapan, setelah menyerahkan imbalan, dukunnya bertindak agar sang pria mendapatkan cintanya kembali dari sang gadis.

Kalaupun tetap masih ditolak juga, tak apalah, jandanya pun masih tetap dituggu. Berikut di bawah ini sekelumit cerita orang yang disanten atau teluh, dan proses penyembuhannya.

 

          Jojo kena santet

Mang Jojo sudah sebulan tergolek di atas tempat tidur. Ia selalu menolak jika diminta istrinya untuk makan. Jika ditawari minum obat, ia pun makin bersikeras menunjukkan sikap menolak. Istrinya pun makin khwatir dengan kondisi suaminya itu yang dari ke hari makin terlihat kurus. Diajak ke dokter pun tak mau.

Anehnya, jika malam hari tiba, Mang Jojo selalu bangun. Minta makan dan minum. Ia datang sendiri ke meja yang sudah tersedia dengan beragam lauk-pauk. Makannya pun banyak, melebihi dari kebiasaan orang normal. Bisa habis nasi sebakul, aku istrinya, Fatimah yang tiap hari setia melayani suaminya itu.

Jika pagi hari tiba, Mang Jojo kembali ke tempat tidur. Ia menolak diajak keluar untuk berjalan-jalan. Maksud istrinya, agar Jojo bisa kena sinar matahari sehingga tidak terlihat loyo, pucat dan badannya bisa berkeringat. Tapi, lagi-lagi aneh. Jojo menolak keras keluar kamar dan terlihat merasa takut melihat sinar matahari.

Kekhawatiran Fatimah makin tinggi. Ia meminta pertolongan tetangga untuk memanggil dokter untuk memeriksa suaminya. Fatimah merasa bersyukur, dokter pun datang dan memeriksa Jojo di kamarnya. Usai diperiksa, dokter mengatakan kepada Fatimah bahwa suaminya tak menderita sakit seperti yang dikhawatirkannya. Dia cuma perlu minum vitamin agar badannya dapat terlihat segar. Dianjurkan agar bisa keluar kamar sehingga dapat menghirup udara lebih bersih.

Bersyukur Mang Jojo pun mau diberi minum vitamin. Cuma, itu bisa dilakukan pada malam hari. Imbauan agar Jojo bisa diajak ke luar kamar, tetap tak bisa dilakukan. Jojo tetap bersikeras berada di kamar yang gelap dan pengab. Dan ia baru mau meninggalkan kamar itu saat makan pada malam hari. Volume makannya pun tetap banyak, meski secara fisik ia pun tak mengalami perubahan. Jojo tetap kurus, pucat dan tak bersemangat. Siang hari lebih banyak tidur dan malam hari, selain makan juga banyak berdiam diri dengan mata melotot.

Beruntung Fatimah tak ketinggalan akal. Sebagai muslimah yang masih berdarah Arab, ia menghubungi kakaknya, Khodijah. Diceritakan tentang kondisi sebulan terakhir suaminya, Jojo yang mengalami kelainan jiwa tersebut. Lantas, Khodijah menyampaikan cerita adiknya itu kepada suaminya, Farhan. Disarankan oleh Farhan, agar Fatimah mengoleskan bawang putih yang telah diiris ke hidung Jojo yang lebih suka tidur pada siang hari itu. Saran Farhan pun dilakukan.

Apa yang terjadi?. Ketika bawang putih didekati ke hidung Jojo, reaksi yang muncul adalah suara aneh yang memaki-maki. Banyak orang disebut-sebut. Dengan muka terlihat buruk, Jojo minta agar Fatimah tidak mengoleskan irisan bawang putih ke hidungnya. Fatimah pun menuruti permintaan suaminya itu.

Lantas, kejadian itu dilaporkan ke kakak iparnya, Farhan. Farhan pun berjanji akan berkunjung ke kediaman Fatimah dengan membawa guru ngajinya, seorang habib yang oleh masyarakat sekitar dipanggil sebagai kiayi. Apa yang dilakukan Farhan dan guru ngajinya untuk mengobati Jojo? Cukup sederhana.

Sebelum tiba di kediaman Jojo, Farhan diminta membeli belerang di pasar tradisional. Belerang ini biasa dijual tukang kembang dan alat-alat kebutuhan orang meninggal. Setelah didapat belerang, barulah Farhan dan guru ngajinya melanjutkan perjalanan ke kediaman Fatimah.

Setelah tiba di rumah, Fatimah bercerita tentang kondisi suaminya. Farhan pun masuk ke kamar Jojo bersama sang kiayi. Lantas, tak lama kemudian keduanya keluar kamar. Mereka meminta piring kaleng dan arang. Lantas arang pun dibakar. Setelah menjadi bara, sang kiayi menaburi bara api itu dengan belerang. Maka, keluarlah asap baru belerang.

Bara api yang telah ditaburi belerang itu kemudian dibawa ke kamar Jojo untuk diletakkan di bawah tempat tidur. Farhan dan sang kiayi tadi sambil berdoa, membaca ayat kursi dan ayat lainnya dengan cukup keras. Jojo terbangun dan kemudian menangis. Meminta ampun.

Dua hari setelah itu, Jojo pun sembuh. Ia pun mau menjalankan sholat seperti sebelum sakit. Makan berlebihan pada malam hari tak terjadi lagi. Fatimah pun merasa bersyukur kepada Allah, karena suaminya kembali sehat seperti sejatinya.

          Basri tahu pembuatnya

Nyonya Basri marah-marah kepada pekerja bangunan. Ia kecewa lantaran tiang-tiang penyangga pada tangga menuju lantai dua di rumahnya -- yang sedang dibangun -- tidak menggunakan kayu berukiran. Sambil marah, ibu rumah tangga beranak dua itu memukul-mukul tangga dengan sepotong balok. Suaranya pun keras sehingga para tukang bangunan tak satu pun berani melawan tuan rumahnya.

Sambil marah, sang nyonya melontarkan kata-kata dengan emosional. Katanya, jika tak diperbaiki dan menggunakan kayu berukir, bakal kena santet orang disini.

Setelah merasa cukup puas memarahi para pekerja tukang itu, Nyonya Basri "ngeloyor" pergi dan melaporkan kepada sang suami tentang kekecewaannya pada para pekerja tukang tadi. Sang suami hanya bisa memberi nasihat kepada istrinya yang cerewet itu bahwa para tukang tidak memahami tentang itu. Jika ingin memprotes, datangi kepada mandor atau pemborongnya.

Esok harinya pak Basri baru saja menyelesaikan zikirnya seusai sholat subuh. Di teras kediamannya ia mendengar suara asing dan gaduh. Seperti banyak orang berdatangan. Ia pun bangun dan membuka hordeng jendela di ruang tamu. Apa yang ia saksikan, Basri disambut kilatan bola api merah ke hadapannya. Beruntung bola tersebut mengenai tiang jendela dan mengeluarkan suara ledakan. Suara ledakan serupa juga terdengar di atap rumah dan dapur. Basri terhindar dari serangan bola api, yang ia sebut kemudian sebagai tenung atau santet.

Ia menyadari bahwa peristiwa tersebut merupakan perbuatan orang yang merasa sakit hati. Basri pun, saat itu juga, melakukan instrospeksi dan beristigfar. Pikiran Basri tercurah kepada istrinya, yang ia duga akibat marah kepada para pekerja bangunan. Dan, tanpa menunda waktu, ia pun pergi ke lokasi rumahnya yang sedang dibangun dan menjumpai para pekerja. Di situ, sambil berbasa-basi, minta agar para tukang bekerja serius dan selalu berkoordinasi dengan mandor bangunan. Tak lupa, jika istrinya marah kepada para tukang sebelumnya tidak dimaksudkan untuk melukai perasaan para tukang. Basri minta maaf jika istrinya berbuat salah dengan mengeluarkan kata-kata kasar.

        Santet, fenomena sosial

Bukan rahasia umum lagi, ketika terjadi konflik horizontal antaretnis seperti di Kalimantan, kerap dijumpai polong atau santet berjatuhan ke rumah seseorang. Dengan mata telanjang, seseorang bisa menyaksikan makhluk berekor seperti komet jatuh itu menimpa kediaman seseorang pada malam hari. Fenomena seperti itu bukan sekali dua kali saja. Konflik muncul, perang menggunakan santet pun terjadi.

Peristiwa yang menimpa Jojo dan keluarga Basri sesungguhnya menggambarkan bagaimana santet, tenung, menenung, guna-guna, dan teluh bekerja. Lantas, apakah peristiwa yang dialami Basri -- sesuai dengan keyakinannya sendiri -- bahwa para pelaku santet itu berasal dari para pekerja bangunan. Jika dugaan bahwa pelaku santet adalah para pekerja, apakah Basri bisa membuktikan di hadapan hukum. Tentu, sulit membuktikannya.

Namun jika menduga-duga sah-sah saja. Sebab, indra manusia -- yang diberikan Allah -- bisa memberikan keyakinan kepada seseorang bahwa pelakunya santet itu ada. Tapi, lagi-lagi, tidak semua manusia memiliki keliebihan dengan indra keenam. Jadi, pembuktian santet tak bisa dilakukan. Sulit. Jika dugaan seorang kemudian dijadikan pembenaran oleh orang banyak, bisa jadi akan menimbulkan fitnah.

Peristiwa Jojo yang mengalami penyakit kejiwaan dan kemudian sembuh dengan cara diasapi belerang oleh sang kiayi, juga sulit dibuktikan secara ilmiah.

Tapi yang jelas, pelaku-pelaku santet adalah orang-orang yang melibatkan diri dengan setan untuk mencederai pihak yang menyakiti hatinya. Tak punya kekuatan secara fisik untuk melawan, cara lain ditempuh. Tak heran, "Cinta ditolak, Dukun pun bertindak" merupakan salah satu bentuk ungkapan orang-orang yang kecewa dan berkolaborasi dengan kekuatan "dunia lain" untuk mencapai tujuannya.

         Perlindungan warga dikedepankan

Terkait upaya memasukkan pasal santet dalam Revisi Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP), hingga kini masih menuai kontroversi. Paranormal Permadi, yang juga politikus itu, minta pemerintah agar pasal santet dimasukkan secara menyeluruh. Tak hanya orang yang diduga pelaku santet, tapi juga harus diatur pasal tentang orang yang menyuruhnya melakukan santet tersebut. Dukun santet lazimnya hanya orang yang menyediakan jasa, menggunakan ilmu santetnya berdasarkan suruhan, di mana dukun santetnya tidak mengenal korban.

Pasal 293 KUHP itu kini masih menjadi kontroversi. Karena itu harus didampingi dengan pasal perlindungan terhadap orang yang diduga sebagai dukun santet. Mantan Menteri Pembangunan Desa Tertinggal (PDT) Lukman Edy, mengaku bahwa dalam revisi KUHP perlu memasukkan pasal perlindungan bagi korban dan pelaku santet. Hal itu dimaksudkan untuk mencegah aksi main hakim sendiri yang kerap dilakukan masyarakat terhadap orang yang diduga sebagai dukun santet.

Ketika seseorang dituduh sebagai tukang santet dan yang tertuduh di bawah sumpah menyatakan tidak melakukannya, maka otomatis tuduhan itu gugur. Sebaliknya bila di bawah sumpah pelaku santet mengakui perbuatannya, maka bisa divonis bersalah dan dijatuhi hukuman atas perbuatannya.

Dalam hal ini dua poin harus ada yaitu, pertama bukti perbuatan harus nyata, dan kedua adanya pengakuan dari pelaku santet. Bila kedua syarat ini tidak dipenuhi maka otomatis gugur. Dengan adanya pasal perlindungan bagi korban dan pelaku, maka dapat dicegah terjadinya penghakiman massa terhadap orang yang dituduh melakukan santet. Di tanah air masih terjadi penghakiman massa terhadap orang yang diduga melakukan santet.

Untuk memvonis pelaku santet, perlu pembuktian dari korban santet dan pengakuan dari tukang santet itu sendiri.

"Zaman Nabi Muhammad SAW, beliau pernah mengadili tukang sihir dan ketika ada bantahan dari tukang sihir dibawah sumpah, maka persoalan selesai dan tidak dilanjutkan. Nabi hanya mengancam bila sumpah itu palsu, neraka ancamannya," tutup Lukman Edy.

Sekjen Kementerian Agama (Kemenag) Bahrul Hayat mengatakan, pembuktian santet memang sulit. Tapi, memasukkan pasal santet dalam Revisi KUHP juga tidak salah. Yang penting, esensi dari pasal tersebut adalah adanya kemauan untuk memberi perlindungan bagi masyarakat terhadap perbuatan jahat. Sejauh ini pihak Kemenag sendiri belum dimintai pendapat soal santet itu.

Majelis Ulama Indonesia (MUI) setuju praktek santet dan sihir diatur dalam KUHP. Ketua MUI Ma'ruf Amin, mengatakan, santet itu bagian dari sihir. Sihir itu tidak baik dan tidak boleh. Sihir berbahaya dan merusak, itu harus ditangkal. Karena itu ia menilai mengatur santet dalam KUHP dianggap positif. Tapi yang perlu dilakukan bagaimana cara pembuktiannya.

"Itu bagus-bagus saja, supaya orang tidak bermain sihir. Soal pembuktiannya kita serahkan kepada ahli hukum saja," tuntasnya.

Sesungguhnya fenomena santet di dalam negeri bukan dikenal saat Indonesia memasuki dunia maya saja. Jauh sebelum itu, zaman kerajaan Sriwijaya dan Majapahit pun sesungguhnya sudah ada.  Tapi kini menjadi aneh, justru para petinggi di DPR ingin belajar mengenai santet ke Eropa. Toh, jika ingin belajar santet di negeri ini lebih kaya.

Pewarta :
Editor: Awi
COPYRIGHT © ANTARA 2021