Sebanyak 60 unit instalasi penjernih air dipasang di Aceh Tamiang

id kemenhan,instalasi air,aceh tamiang,bencana aceh,pemulihan bencana,bencana banjir

Sebanyak 60 unit instalasi penjernih air dipasang di Aceh Tamiang

Kadet Universitas Pertahanan (Unhan) memasang instalasi mesin reverse osmosis (RO) di Musholla Taqwa, desa Kota Lintang, Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh, Minggu (25/1/2026). Kementerian Pertahanan (Kemhan) bersama Universitas Pertahanan (Unhan) memasang 60 instalasi mesin reverse osmosis (RO) yang menghasilan air siap minum dan air bersih di sejumlah sekolah, puskesmas, pesantren dan posko pengungsian korban bencana alam di Aceh Tamiang. ANTARA FOTO/Nova Wahyudi/YU

Aceh Tamiang, Aceh (ANTARA) - Kementerian Pertahanan (Kemhan) bersama Universitas Pertahanan (Unhan) memasang 60 unit instalasi penjernih air siap minum melalui reverse osmosis (RO) di sejumlah layanan fasilitas umum wilayah Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh.

Komandan Satuan Tugas Air Bersih di wilayah Aceh Tamiang sekaligus Kepala Program Studi (Kaprodi) Informatika Unhan Kolonel Infanteri Adam Mardamsyah mengatakan sebelum penyaluran instalasi, pihaknya terlebih dahulu melaksanakan survei pemetaan untuk kebutuhan air bersih dan air minum di sekitar wilayah tersebut.

"Unhan sebagai think-tank-nya pertahanan sudah mendesain sustainable tentang kebutuhan air bersih di saat bencana. Inilah memang salah satu karya anak bangsa untuk membantu wilayah yang terkena dampak bencana," kata Kolonel Adam ditemui ANTARA di Aceh Tamiang, Minggu (25/1).

Kolonel Adam menuturkan motode RO merupakan karya dari dosen Unhan, mendesain agar air yang terdampak di wilayah bencana dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari atau pun sebagai konsumsi.

Istalasi itu yang salah satunya dipasang di SDN 1 Tualang Cut di Desa Tualang Baro, Kecamatan Manyak Payed.

"Sejak 20 Desember 2025, kami sudah melaksanakan pemasangan titik-titik air. Tiga titik berada di Kabupaten Bener Meriah, sisanya ada di seputaran Aceh Tamiang," ujarnya.

Kolonel Adam mengatakan penyediaan air bersih dilakukan secara maraton atas arahan Menteri Pertahanan RI Sjafrie Sjamsoeddin dengan meninjau langsung wilayah yang paling membutuhkan agar warga segera memperoleh akses air layak konsumsi.



Komandan Satuan Tugas Air Bersih di wilayah Aceh Tamiang sekaligus Kepala Program Studi (Kaprodi) Informatika Unhan Kolonel Infanteri Adam Mardamsyah menjawab pertanyaan ANTARA di Aceh Tamiang, Minggu (25/1/2026). ANTARA/Harianto

Ia menjelaskan, titik prioritas pemasangan instalasi difokuskan pada seluruh puskesmas di Aceh Tamiang karena kebutuhan air bersih sangat krusial bagi layanan kesehatan, terutama bagi pasien dan masyarakat terdampak banjir.

Selain fasilitas kesehatan, instalasi juga dipasang di sekolah, meunasah, masjid, perkantoran, hingga koramil terdampak, dengan perhatian khusus pada wilayah terisolir seperti Kampung Babo yang mengalami keterbatasan akses air bersih.

Adam menegaskan seluruh instalasi dihibahkan kepada pengelola setempat dan dilarang diperjualbelikan, dengan pengawasan serta pelatihan operator dilakukan agar alat terawat, berkelanjutan, dan tepat sasaran bagi masyarakat yang benar-benar membutuhkan.

Di tempat yang sama, Dosen Prodi Fisika Universitas Pertahanan (Unhan) Dian Parwati Ningtyas sekaligus peneliti instalasi RO itu menjelaskan, teknologi RO bekerja memurnikan air melalui filtrasi dan tekanan tinggi sehingga menghasilkan air bebas bakteri dan virus, sekaligus menjaga parameter penting seperti pH netral, salinitas nol, dan total zat terlarut sesuai standar konsumsi.

"Jadi pada dasarnya Reverse Osmosis itu adalah pembalikan suatu nilai air, bagaimana kita mengembalikan esensi air itu menjadi jernih, menjadi murni lagi melalui beberapa teknik," ujar Dian.

Ia menyebut sistem RO dilengkapi sensor Total Dissolved Solids (TDS) dan pengujian laboratorium tersertifikasi untuk memastikan air aman diminum maupun digunakan mandi dan mencuci, dengan kualitas yang terus dipantau secara berkala.

"Terutama untuk air minum kita menjaga pH-nya selalu netral antara 6,5 hingga 7 ya. Kemudian masalah salinitas, karena untuk konsumsi jadi diharapkan masyarakat itu tidak meminum air yang koagulan asinnya tinggi," bebernya.

Dia mengatakan di Aceh Tamiang, Dian menyesuaikan karakteristik air baku Sumatera yang cenderung asam dan mengandung oksalat, melalui formulasi batuan mineral alami hasil riset panjang timnya. Pemasangan RO ditargetkan mencapai 100 unit di sejumlah titik fasilitas umum, yang mana saat ini jumlah terpasang dan siap pakai telah mencapai 60 unit.

Air hasil olahan dibagi menjadi dua jalur, yakni air bersih untuk kebutuhan harian dan air minum yang diperkaya mineral alami serta disterilisasi ultraviolet sebelum siap dikonsumsi masyarakat.

Dian mengungkapkan riset RO tersebut telah dikembangkan lebih dari satu dekade, melalui berbagai uji coba, kegagalan, hingga penyempurnaan membran, tekanan, dan formulasi batuan agar optimal di berbagai kondisi air.

Saat ini, satu unit RO mampu memproduksi sekitar 15 ribu liter air per hari dan terus dikembangkan Kementerian Pertahanan untuk mendukung wilayah bencana, termasuk daerah terpencil hingga perbatasan.

Pewarta :
Editor: Dolly Rosana
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.