
Apresiasi dolar hantam negara berkembang lebih keras dari negara maju
Kamis, 20 Juli 2023 07:34 WIB

IMF mengatakan dalam External Sector Report tahunannya bahwa nilai tukar riil efektif dolar naik 8,3 persen pada 2022 ke level terkuat dalam dua dekade, di tengah serangkaian kenaikan suku bunga Federal Reserve untuk mengekang inflasi dan harga-harga komoditas global yang lebih tinggi didorong oleh konflik Ukraina.
Dampak negatif sektor riil dari apresiasi dolar turun secara tidak proporsional di pasar negara berkembang, sementara dampaknya terhadap ekonomi maju kecil dan berumur pendek, kata IMF.
Di ekonomi pasar negara berkembang, apresiasi dolar 10 persen, terkait dengan kekuatan pasar keuangan global, menurunkan produksi produk domestik bruto (PDB) sebesar 1,9 persen setelah satu tahun, dan hambatan ini diperkirakan akan bertahan selama dua setengah tahun, menurut IMF.
Pewarta: Apep Suhendar
Uploader: Aang Sabarudin
COPYRIGHT © ANTARA 2026
