Perjuangan 41 hari berburu harimau Sumatera di Palembayan Agam

id harimau sumatera,Konflik harimau,Harimau agam,berita sumsel, berita palembang, antara palembang

Perjuangan 41 hari berburu harimau Sumatera  di Palembayan Agam

Petugas melakukan pemeriksaan harimau sumatera Puti Maua. (ANTARA/Yusrizal)

Ia mengaku sempat beberapa kali bertemu dengan harimau ini namun tidak menyerang dan mengejar
Padang (ANTARA) - Setelah 41 hari berjibaku di lapangan, perjuangan tim Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumatera Barat berburu harimau yang masuk ke permukiman warga tidak sia-sia karena si raja hutan tersebut akhirnya masuk perangkap kandang jebakan.

Kini warga Jorong Kayu Pasak Timur, Nagari Salareh Aia, Kecamatan Palembayan, Kabupaten Agam bisa bernapas lega karena ancaman hewan buas pemangsa ternak telah dapat diatasi. Sejak awal Desember 2021 tak kurang dari empat ekor sapi dimangsa harimau itu.

Awalnya pada 1 Desember 2021 empat ekor sapi milik warga setempat Rano dimangsa oleh harimau. Usai mendapat laporan warga, petugas BKSDA Sumbar melalui Resor Agam langsung turun ke lokasi mengidentifikasi jejak kaki, cakaran dan kotoran harimau yang memangsa ternak itu.

Setelah itu tim pun memutuskan memasang kamera jebak di lokasi serangan, proses pencarian berlanjut keesokan harinya dengan melakukan penghalauan dengan bunyi-bunyian di lokasi munculnya satwa.

Akan tetapi dua hari berlalu tidak ditemukan jejak baru sehingga untuk sementara waktu tim KSDA Agam memutuskan keluar dari lokasi.

Namun pada Senin (6/12) pagi, harimau kembali mengejar lima ekor sapi milik Doni Mawardi (18) dan Zara (38) dengan jarak sekitar 500 meter.

Karena kembali munculnya satwa itu, Tim KSDA Agam kembali ke lokasi konflik tersebut pada Selasa (7/12) pagi.

Di lokasi, Tim Resor KSDA Agam bersama masyarakat sekitar menemukan jejak kaki harimau dengan ukuran delapan sampai sembilan centimeter.

"Ukuran jejak kaki satwa ini sama dengan ukuran kaki harimau memangsa sapi milik Rano yang mengakibatkan anak sapi mati dan induk luka-luka," kata Kepala Resor KSDA Agam Ade Putra.

Tim Resor KSDA Agam bersama warga sekitar kemudian menelusuri hutan dan perkebunan kelapa sawit. Tim menemukan jejak kaki, tempat tidur dan air kencing satwa. Bahkan menemukan keberadaan harimau dengan jarak sekitar 10 meter.

Petugas lalu meningkatkan penghalauan satwa tersebut ke habitatnya siang dan malam hari sampai pada Minggu (12/12). Namun keberadaan satwa tersebut tidak ditemukan sehingga Tim Resor KSDA Agam kembali keluar.

Akan tetapi harimau kembali mengejar sapi milik Doni dan Zara sampai ke halaman rumah pada Kamis (16/12) pagi. Tim Resor KSDA Agam kembali ke lokasi untuk menangani konflik pada Selasa (21/12) pagi.

Petugas Resor KSDA Agam langsung memasang dua kandang jebak dan di sekitar kandang dipasang kamera jebak.

Satwa itu sempat melewati pintu masuk kandang jebak pada hari kedua pemasangan, Jumat (24/12) sekitar pukul 02.00 WIB, namun harimau tidak masuk.

Petugas menemukan jejak baru dan harimau melintas jalan masuk ke Maua Hilia menuju ke arah barat, sehingga kandang jebak dialihkan ke lokasi jejak itu.

Setelah kandang di pasang, tim melakukan penghalauan ke arah kandang, namun hasilnya nihil.

Tim berada di lokasi konflik sampai delapan hari dan keluar pada Rabu (29/12).

"Kami tidak menemukan jejak baru dan seolah-olah kami dengan harimau kucing-kucingan," kata Kepala Resor KSDA Agam Ade Putra.

Memasuki 2022 harimau itu kembali muncul ke permukiman sehingga petugas kembali ke lokasi pada Selasa (4/1) sampai Sabtu (8/1).

Salah seorang warga setempat atas nama Andri (48), melihat harimau masuk kandang perangkap dan ia sempat melihat secara dekat, sehingga harimau mengeluarkan suara dan langsung lari ketakutan.

Akhirnya pada 10 Januari 2022 seekor harimau sumatera yang berulang kali berkeliaran di permukiman masuk ke kandang jebak yang dipasang BKSDA Sumatera Barat.

Harimau tersebut berkelamin betina dengan perkiraan usia tiga sampai lima tahun.

Masyarakat setempat kemudian sepakat memberikan nama Puti Maua ke harimau yang tertangkap di daerah itu.

"Nama Puti Maua itu merupakan hasil kesepakatan dari tokoh adat setempat," kata Wali Nagari Salareh Aia, Iron Maria Edi.

Menurut dia sebelumnya ada sejumlah nama yang diusulkan warga yakni, malanca, buma dan lainnya.

Namun tokoh adat mencoba untuk mengakomodasi nama tersebut, sehingga disepakati nama Puti Maua.

Ia menjelaskan Puti merupakan bahasa Minangkabau yang artinya perempuan, karena harimau itu berkelamin betina.

Sementara Maua merupakan lokasi ditangkapnya harimau tersebut, sehingga Maua Hilia bisa dikenal seluruh masyarakat Indonesia, bahkan internasional.

Rehabilitasi

Harimau tersebut diputuskan untuk Pusat Rehabilitasi Harimau Sumatera Dharmasraya (PRHSD) Yayasan Arsari yang berada di Kabupaten Dharmasraya menggunakan kandang angkut untuk diobservasi dan diperiksa kesehatan.

Sebelum dimasukkan ke dalam kandang angkut, warga bersama petugas BKSDA Sumbar, Polsek Palembayan, Koramil 11 Palembayan dan Perangkat Nagari Salareh Aia bersma-sama menggotong harimau yang berada di dalam kandang jebak menuju lokasi kendaraan.

Ketika mobil membawa Puti Maua mulai bergerak, suasana mendadak hening dan terlihat keharuan di wajah masyarakat.

Beberapa ibu-ibu di lokasi itu, terlihat meneteskan air mata sembari melambaikan tangannya.

"Tabiak ai mato ambo maliek kapaian Puti Maua (keluar air mata saya melihat kepergian Puti Maua)," kata salah seorang ibu-ibu Maua Hilia, Atun (58).

Ia mengaku sempat beberapa kali bertemu dengan harimau ini namun tidak menyerang dan mengejar, ia hanya doa saja.

Ini menandakan harimau hanya tersesat saat memasuki pemukiman warga Maua Hilia, katanya.

Sementara Dokter Hewan Pusat Rehabilitasi Harimau Sumatera Dharmasraya Yayasan Arsari drh Daniel Hot Asih Sianipar mengatakan kesehatan harimau saat dievakuasi dalam kondisi baik.

Namun pihaknya belum bisa memastikan kesehatan, karena butuh pemeriksaan lebih lanjut.

Apabila kondisi sehat, maka akan segera melepasliarkan satwa itu ke habitatnya.

Pada Selasa (11/1) sekitar pukul 11.00 WIB, harimau tersebut diangkut menggunakan mobil milik BKSDA Sumatera Barat menuju Pusat Rehabilitasi Harimau Sumatera Dharmasraya (PRHSD) Yayasan Arsari.

Mobil yang didesain khusus membawa harimau sumatera tersebut dikawal oleh petugas bersenjata api laras panjang dan dua mobil yang berisikan tenaga medis PRHSD Yayasan Arsari dan petugas BKSDA Sumbar.

Mobil rombongan sempat istirahat sejenak di Kantor Resor Balai Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Agam di Lubukbasung, untuk menyiapkan perjalanan karena jarak tempuh ke PRHSD cukup jauh sekitar 15 jam dari lokasi harimau dievakuasi.

Selama perjalanan, Puti Maua diberikan perlakukan khusus mulai dari pemeriksaan kesehatan, pemberian minum satu kali dua jam. Bahkan kecepatan kendaraan selama perjalanan juga dibatasi maksimal sekitar 60 kilometer per jam.

"Ini sesuai dengan standar operasional prosedur (SOP) dalam membawa satwa," kata Kepala Resor KSDA Agam Ade.

Rombongan sempat berhenti sebanyak tujuh kali di perjalanan untuk memeriksa kesehatan, memberi minum satwa dilindungi Undang-undang Nomo 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya Agam dan Hayati.

Tepat Rabu (12/1) pukul 02.30 WIB, mobil membawa Puti Maua sampai di PRHSD Yayasan Arsari dan langsung dimasukkan ke kandang karantina pukul 03.17 WIB.

Selama di PRHSD Yayasan Arsari, harimau sumatera yang sempat memangsa sapi dan kambing warga itu di rehabilitasi dan diperiksa kesehatannya untuk beberapa hari ke depan.

Setelah dipastikan kesehatannya dan layak dilepasliarkan maka Puti Maua akan segera dilepas kembali ke hutan konservasi.

"Kami sedang menyiapkan lokasi lepas liar yang cocok untuk Puti Maua," kata Ade.
Pewarta :
Uploader: Aang Sabarudin
COPYRIGHT © ANTARA 2022