BMKG prakirakan Sumsel alami kemarau basah

id bmkg, kemarau basah, susmel mengalami kemaray basah, tetap waspadai karhutla, bencana kabut asap, karhutla musim kemarau

BMKG prakirakan Sumsel alami kemarau basah

Pantau wilayah Sumsel antisiipasi karhutla (ANTARA/Yudi Abdullah/20)

Palembang (ANTARA) - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan wilayah Provinsi Sumatera Selatan dengan 17 kabupaten dan kota itu pada tahun 2020 ini mengalami kemarau basah.

"Memasuki musim kemarau Juli 2020 ini masih terdapat cukup banyak hujan di wilayah Sumsel, kondisi ini sering disebut kemarau basah," kata Kepala Stasiun Krimatalogi Kelas I Kenten, Nuga Putrantijo, di Palembang, Minggu.

Beberapa hari terakhir Kota Palembang dan daerah Sumsel lainnya sering turun hujan, kondisi ini disebabkan kelembapan yang tinggi di sejumlah wilayah Indonesia.

Dalam kondisi kemarau basah tahun ini, kemungkinan terjadinya titik panas (hotspot) yang dapat memicu kebakaran hutan dan lahan (karhutla) penyebab bencana kabut asap relatif kecil, namun penyebab bencana itu harus tetap diwaspadai.

"Dengan kewaspadaan yang tinggi diharapkan pada musim kemarau tahun 2020 ini bisa dihindari atau paling tidak diminimalkan timbulnya masalah kebakaran hutan dan lahan pertanian atau perkebunan serta kabut asap seperti kemarau pada beberapa tahun sebelumnya," ujarnya.

Menurut dia, musim kemarau di provinsi berpenduduk sekitar 8,6 juta jiwa ini, sesuai dengan masa musimnya atau masih tergolong normal.

Dalam kondisi awal kemarau basah Juli 2020 ini, secara umum kondisi cuaca di 17 kabupaten/kota berawan hingga berpotensi turun hujan sedang diserta angin kencang.

Hujan disertai angin kencang berpeluang turun di wilayah Sumsel dengan karakter secara tiba-tiba dengan sebarannya tidak merata atau hujan lokal, ujarnya.

Sebelumnya, Gubernur Sumsel, Herman Deru menjelaskan untuk mencegah terjadinya kebakaran hutan dan lahan yang parah, pihaknya berupaya meningkatkan pemantauan kawasan hutan dan lahan di 10 daerah rawan karhutla seperti Kabupaten Ogan Komering Ilir, Ogan Ilir, Musi Banyuasin, dan Kabupaten Banyuasin.

Untuk mencegah terjadinya bencana kabut asap pada tahun ini, memasuki musim kemarau, kegiatan pemantauan kawasan hutan dan lahan rawan terbakar lebih ditingkatkan dengan melakukan operasi udara dan darat.

Dalam melakukan kegiatan operasi udara, pihaknya menggunakan empat unit helikopter sedangkan operasi darat menurunkan 8.000 personel satgas gabungan dibantu TNI/Polri, kelompok masyarakat peduli api serta Manggala Agni, ujar gubernur.
Pewarta :
Editor: Indra Gultom
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar