Komarudin Hidayat nilai wacana NKRI bersyariah pepesan kosong

id NKRI bersyariah, Komarudin Hidayat, ijtima ulama

Wakil Walikota Banda Aceh Illiza Sa'aduddin Djamal membawa dua buku berjudul Wawasan Kebangsaan Menuju NKRI Bersyariah dan Hancurkan Liberalisme Tegakkan Syariat Islam yang diserahkan Habib Muhammad Rizieq bin Hussein Shihab (kanan) seusai memberikan tausyiah di Taman Sari, Banda Aceh, Jumat (29/11). Tausyiah yang dihadiri ribuan warga kota Banda Aceh itu pendiri Front Pembela Islam (FPI) Habib Muhammad Rizieq bin Hussein Shihab mengajak umat muslim terutama di Aceh untuk menegakkan dan melaksanakan hukum syariat islam yang telah berlaku di Serambi Mekkah tersebut. (ANTARA FOTO/Irwansyah Putra)

Jakarta (ANTARA) - Rektor Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII) Komarudin Hidayat menyebut wacana NKRI bersyariah sebagai pepesan kosong karena secara substansi syariat Islam telah dilaksanakan di negara ini.

"Jadi, kita harus kembali ke substansi. Jangan lagi ada label-label itu (bersyariah). Label itu hanya emosi saja itu. Itu (wacana NKRI bersyariah) pepesan kosong saja," kata Komarudin dikutip dari siaran pers di Jakarta, Selasa.

Wacana NKRI bersyariah muncul dari rekomendasi Ijtima Ulama IV di Lorin Hotel Sentul, Babakan Madang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Senin (5/8).

Menurut Komarudin sejatinya NKRI bersyariah yang diwacanakan itu hanya label semata karena substansi agama sudah dilaksanakan di Indonesia.

Komarudin mencontohkan agama mengajarkan antikorupsi, Indonesia punya Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Agama mengajarkan antikebodohan, ada pendidikan di negara ini.

"Agama antisakit yang mana ada rumah sakit. Jadi, sebenarnya tanpa label agama pun sejatinya agama itu sudah dilaksanakan," tutur Komarudin.

Komarudin Hidayat mengatakan tantangan bagi tokoh agama adalah menjadikan agama dan penganutnya produktif sehingga tak mudah dikapitalisasi oleh politisi untuk kepentingan politik.
Pewarta :
Editor: Indra Gultom
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar