Pemuda Sumsel cinta literasi bercita-cita mulia

id Pemuda,Sumsel,literasi,cita-cita,mulia

Pendiri Komunitas Sobat Literasi Jalanan (SLJ), Hardi Saputra (kiri) dan pendiri Taman Baca Masyarakat (TBM) Hestimora, Yuhesti (kanan) di Palembang. (ANTARA News Sumsel/Aziz Munajar/Erwin Matondang/18)

....pernah saat menggelar lapak baca, kami diminta  pindah dan bergabung dengan lapak jualan, padahal kami tidak melakukan kegiatan jual beli....
Palembang (ANTARA News Sumsel) - Banyak cara membuat indonesia menjadi lebih baik, salah satunya menumbuhkan rasa cinta literasi serta menyebarkan semangat membaca.

Duta baca Indonesia Najwa Shihab dalam seminarnya di Palembang, Jumat (19/10) mengatakan membaca adalah kunci sebuah inovasi dan kreatifitas, terutama menghadapi tantangan global yang berubah-ubah agar bangsa Indonesia tak semakin tertinggal. 

Disatu sisi, menumbuhkan rasa cinta literasi merupakan kerja 'kroyokan' yang mengandalkan berbagai pihak, tak terkecuali pemuda-pemudi Indonesia sebagai motor semangat, dinilainya lebih efektif menebarkan semangat membaca dengan berbagai macam kegiatan.

Hestimora

Salah satu Pemudi tersebut Yuhesti, pendiri Taman Baca Masyarakat (TBM) di Kota Lubuklinggau, dengan kondisi ruang yang apa adanya ia berinisiatif membuat perpustakaan agar anak-anak setempat tertarik membaca buku di luar jam sekolah.

"Awalnya dulu saya sedang mengerjakan modul, tiba-tiba adik saya bawa temannya masuk ke kamar, katanya sih mau numpang belajar. Eh tapi lama-lama mereka minta saya jadi guru les, karena di kamar saya banyak buku ternyata mereka juga tertarik baca, akhirnya saya dan dua teman lain inisiatif mendirikan Taman Baca Masyarakat Hestimora," kata Yuhesti.

Satu tahun pertama, TBM Hestimora masih dikelola oleh Yuhesti dan dua rekannya, tetapi sekarang ia terpaksa mengelola sendiri karena dua rekannya memiliki kesibukan lain, hal tersebut tak membuatnya patah semangat,  ia terus memberikan anak didiknya berbagai macam ilmu dan keahlian.

Wanita kelahiran Lubuklinggau 6 September 1990 tersebut menyadari, jika TBM yang hanya mengandalkan buku-buku semata tidak akan menambah minat anak didik terhadap perkembangan mereka, sehingga ia berinisiatif mengajarkan anak didik berbagai ilmu keahlian seperti menulis, menari, kerajinan tangan, hingga membuat film pendek agar timbul semangat anak didik ke belajar TBM.

Hasilnya cukup membanggakan, meskipun baru 1,5 tahun berdiri, TBM Hestimora sudah banyak menyabet berbagai juara lomba baik kelas lokal hingga Nasional, salah satunya pada Linggau Short Movie Festival bulan Juni 2018 lalu, dimana pesertanya banyak sineas dari berbagai daerah di Indonesia, Film berjudul 'Saguradam' karya anak-anak TBM Hestimora sendiri berhasil keluar menjadi film terbaik.

Hasil  tersebut patut di acungi jempol sebab tidak banyak TBM yang berani dan mampu menjuarai sebuah lomba film, mengingat TBM di Indonesia masih berfokus  pada  sebatas peminatan literasi masyarakat, meskipun mendirikan sebuah TBM sendiri sebenarnya cukup sulit.

Yuhesti juga tahu betul paparan gadget yang menyentuh usia anak-anak saat ini seperti sulit dihindari dan berpengaruh dengan minat baca buku anak didik TBM, sehingga ia berinisiatif membuat chanel youtube (Yuhesti mora) khusus karya anak didiknya.

Tak kurang dari 160 lebih video sudah diproduksi dengan ragam tema seperti projek sains, tutorial, puisi, tarian, hingga film pendek, selain aktif di youtube TBM Hestimora juga aktif di Instagram (@hestimora) untuk menampilkan berbagai  kegiatan anak didiknya.

Berbagai cara dilakukan Yuhesti agar TBMnya  bisa bernafas panjang dengan tetap menggratiskan biaya apapun kepada anak didik, salah satunya lewat donasi online baik berupa buku maupun uang.

Meskipun bentuknya sederhana, namun TBM Hestimora memiliki tujuan yang mulia, yakni berusaha menghindarkan anak-anak dari kegiatan negatif seperti tawuran atau pergaulan bebas, mengembangkan bakat anak didik di luar sekolah dan membiasakan anak  berkarya sejak kecil.

Sobat Literasi jalanan

Didirikan oleh Pemuda asal Palembang Hardi Saputra tanggal 28 Oktober 2016, bermaksud meneruskan semangat perjuangan sumpah pemuda melalui gerakan semangat literasi, bersama empat rekannya Delian, Marzuki, Zaki dan Ichsan, ia mengusung konsep 'ngapar' buku.

"Ide  awalnya melihat fenomena masyarakat yang kurang berminat mengunjungi perpustakaan dan lebih memilih mengajak keluarga ke taman kota saat akhir pekan, akhirnya kami mencari solusi agar masyarakat tetap bisa membaca buku sambil berinteraksi dengan keluarganya yakni dengan menyediakan perpustakaan jalanan atau 'ngapar'," kata Hardi Saputra.

Komunitas Sobat Literasi Jalanan (SLJ) awalnya memanfaatkan taman kota Kambang Iwak, belakangan mereka mulai berekspansi ke beberapa taman kota lainnya seperti Taman TVRI, Taman Wisata Alam Punti Kayu dan Pelataran Benteng Kuto Besak serta Pedestrian Sudirman.

Proses 'ngapar' buku dimulai dengan mengumpulkan buku bacaan koleksi pribadi terlebih dahulu, lalu mereka menyusun buku di titik paling ramai, agar masyarakat bisa menjangkau buku-buku tersebut, saat ini SLJ sudah memiliki banyak buku bacaan hasil donasi dari para donatur.

Hardi mengaku ada banyak kendala dihadapi saat mengapar buku, seperti kurangnya fasilitas  penerangan di taman kota sehingga tidak bisa menggelar lapak baca sampai malam hari dan  masih kurangnya  variasi buku bacaan. 

Fasilitas menggelar lapak baca sejauh ini masih terbilang sederhana hasil  donasi relawan dan donatur, dan memanfaatkan spanduk bekas serta kursi kecil untuk tempat duduk pengunjung

"Terkadang terkendala masalah perizinan juga, pernah saat menggelar lapak baca, kami diminta  pindah dan bergabung dengan lapak jualan, padahal kami tidak melakukan kegiatan jual beli," ujar Hardi.

Tidak sia-sia, masyarakat mulai tertarik membaca buku, terutama anak - anak yang memiliki rasa ingin tahu tinggi.

Selain menggelar lapak baca, SLJ sudah beberapa kali mengadakan kegiatan literasi seperti diskusi literasi antar relawan, membuat festival literasi dengan mengundang narasumber nasional seperti  Gol A Gong, Generasi Jaguar, Kang Maman Suherman, Frischa Aswarini, Anwar Putra Baru, Widodo Sigit Widarso, Anto Narasoma, Wanda Lesmana, Gemi Mowhak dan Arco Transep.

SLJ juga mengadakan perayaan Hari Puisi Indonesia selama 2 tahun terakhir, dari perayaan Hari Puisi Indonesia tahun 2017, SLJ masuk penghargaan 10 poster terbaik penyelenggara Hari Puisi Indonesia dari 60 penyelenggara yang ada, kini SLJ sudah memiliki satu cabang  di Kabupaten Pali Sumsel dengan nama Sobat Literasi Pali.

"Kami ingin ikut mengkampanyekan cinta baca kepada masyarakat agar Indonesia terbebas dari buta literasi, itu saja," tambah Hardi
 
Pewarta :
Editor: Erwin Matondang
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar