Dalam pertemuan National Association for Business Economics di kota Philadelphia, Amerika Serikat (AS), dia menyampaikan bahwa The Fed akan menetapkan kebijakan berdasarkan evolusi prospek ekonomi dan keseimbangan risiko, alih-alih mengikuti jalur yang telah ditentukan sebelumnya.
Seiring penutupan pemerintahan federal AS dan laporan data ekonomi resmi yang kurang karena tertunda, Powell menyatakan bank sentral memiliki sumber data sendiri untuk memantau kesehatan ekonomi AS.
Berdasarkan data yang dimiliki, dapat dikatakan bahwa prospek ketenagakerjaan dan inflasi tak banyak berubah sejak pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) bulan September 2025.
Saat pertemuan FOMC bulan Oktober, diperkirakan The Fed kembali memangkas suku bunga seperempat poin akhir bulan ini.
Sentimen lain terhadap rupiah berasal dari rilis data Bank Indonesia (BI) terkait utang luar negeri dan survei kegiatan dunia usaha.
"Utang luar negeri pemerintah per Agustus 2025 diperkirakan masih akan tumbuh 4,5 persen menjadi di kisaran 475 miliar dolar AS," kata Rully.
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Rupiah berpotensi menguat seiring ekspektasi penurunan suku bunga Fed
