Palembang (ANTARA) - Bank Indonesia membentuk Himpunan Ekonomi dan Bisnis Pesantren (Hebitren) untuk memperkuat pengembangan ekonomi syariah di Sumatera Selatan.
Deputi Gubernur Bank Indonesia Dody Budi Waluyo saat pengukuhan Hebitren di Pondok Pasantren Al-Ihsaniyah Al-Quran Al-Akbar di kawasan Gandus Palembang, Jumat, mengatakan, upaya ini sejalan dengan lima pilar yang diusung Bank Indonesia dalam mendukung pertumbuhan ekonomi.
Lima pilar itu adalah pengendalian inflasi, pengembangan ekspor, pengembangan ekonomi syariah, ekonomi digital, dan inklusif keuangan. “Ekonomi syariah menjadi sumber baru dalam mewujudkan pertumbuhan yang inklusif dan berkelanjutan,” kata dia.
Oleh karena itu, fokus utama yakni mendorong pengembangan dan penguatan usaha syariah di berbagai lini termasuk pesantren.
”Kami pun menghimpun Pondok Pesantren dalam suatu wadah Hebitren ini,” kata dia.
Baca juga: BI: Sistem pembayaran digital membuat proses ekonomi menjadi lebih baik
Sekretaris Jenderal DPP Herbitren Reza Fahlevi Bakhtiar mengatakan Hebitren juga dikembangkan untuk memperkuat kemandirian ekonomi di pondok pesantren.
“Agar ada kemandirian ekonomi itu maka diperlukan sejumlah strategi mulai dari penguatan kelembagaan bisnis, akses pasar, pembiayaan hingga digitalisasi,” katanya saat pengukuhan Hebitren wilayah Sumsel dan penyerahan program sosial Bank Indonesia, Jumat.
Reza mengatakan saat ini terdapat 200 pondok pesantren dari total 400 pondok pesantren di Sumsel yang bergabung dalam Hebitren.
Secara nasional, himpunan yang diinisiasi bank sentral itu telah terdiri dari 1.500 pondok pesantren.
Baca juga: BI: Keterbatasan infrastruktur menjadi tantangan digitalisasi UMKM
Menurut dia, sejumlah pondok pesantren itu telah menghasilkan berbagai produk dari beragam sektor usaha, mulai dari pertanian, peternakan hingga kuliner.
Sementara itu Ketua Hebitren Sumsel Izza Zein Sukri mengatakan pondok pesantren dapat memenuhi kebutuhan sendiri lewat pengembangan produk pertanian dan pangan.
“Contohnya di pondok pesantren yang saya kelola, kami mengembangkan pertanian hidroponik dan produksi makanan beku,” katanya.
Hasil dari usaha produktif itu, kata dia, untuk memenuhi kebutuhan pondok pesantren maupun dijual.
Bank Indonesia sendiri menilai pondok pesantren dapat menjadi garda terdepan untuk pemulihan ekonomi nasional, lewat unit usaha produktif.
Baca juga: BI: Presidensi G20 Indonesia harus mendorong UMKM manfaatkan teknologi digital
