Menikmati wisata kuliner di warung terapung Sungai Musi

id warung, warung kopi terapung

Menikmati wisata kuliner di warung terapung Sungai Musi

Warung kopi terapung di Sungai Musi Palembang (Foto Antarasumsel.com/13/Fenny Seli))

Palembang (ANTARA Sumsel) - Makan pempek di warung biasa tentu sudah sering dirasakan, namun nikmatnya makan pempek di warung kopi terapung di Sungai Musi Palembang tentunya jadi hal yang harus dicoba, terbukti cukup banyak pengunjung.

Warung Kopi terapung biasa dijumpai di dermaga Pelataran Benteng Kuto Besak (BKB) Palembang, merupakan kapal kayu yang menjual minuman, makanan khas Palembang seperti pempek, model, dan penganan ringan lainnya.

Harga makanan pun sangat murah, sementara rasanya tidak kalah bila dibandingkan warung kopi dan warung pempek di darat.

Pemilik warung kopi terapung "Mang Ujuk", salah satu warung yang merapat di sana, Harun menceritakan bahwa warung terapung sendiri merupakan konsep menikmati makanan berlatar jembatan Ampera di atas Sungai Musi.

"Memang agak goyang, selama memasak juga menyesuaikan gelombang air," kata pria berumur lima puluhan itu.

Buka mulai pukul 15.00 Wib warung kopi terapung miliknya sudah ramai pengunjung baik yang sengaja ingin makan di sana atau pun sekedar mencoba karena kebetulan berkunjung ke BKB dan ingin mencicipi penganan.

Para pengunjung memang disuguhi pengalaman warung kopi yang tidak biasa. Saat siang hari ketika gelombang tengah tinggi pengunjung akan disuguhi aneka pemandangan kapal lalu lalang selain ngopi sore disertai sensasi gelombang sungai.

Saat malam pengunjung menikmati pemandangan yang lain lagi, yaitu gemerlapnya lampu jembatan Ampera yang kerlap-kerlip.

"Apalagi kalau sedang bulan purnama pemandangannya lebih memesona," ujar Serly salah satu pengunjung yang mengaku baru tiga kali berkunjung ke warung kopi terapung.

Sayangnya warng kopi ini hanya buka sampai dengan pukul 21.00 Wib.

"Jam sembilan kami sudah mulai beres-beres dan kembali ke rumah di Kelurahan 7 Ulu," jelas dia.

Dalam sehari Harun menyiapkan sekitar 150 - hingga 200 buah pempek yang tinggal digoreng saat sudah merapat. Sementara untuk pengganan seperti gorengan harun yang dibantu keluarga besarnya memasak di atas kapal dan langsung dihidangkan di dalam wadah-wadah plastik di atas meja panjang dalam kapal.

Sajian yang paling istimewa adalah model-tekwan hanya seharga Rp4.000 per buah, namun nikmatnya luar biasa karena didukung dengan suasana menggugah selera makan.

Di samping kapal utama, Harun juga menyiapkan kapal tambahan, untuk mengantisipasi pengunjung yang tidak kebagian tempat duduk.

Pewarta :
Editor: Awi
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.