PAMKI: Vaksinasi tetap jadi perlindungan terbaik melawan super flu

id super flu,influenza,influenza A,H3N2

PAMKI: Vaksinasi tetap jadi perlindungan terbaik melawan super flu

Vaksin influenza (ANTARA/Shutterstock)

Jakarta (ANTARA) - Perhimpunan Dokter Spesialis Mikrobiologi Klinik Indonesia (PAMKI) mengatakan, vaksin influenza tetap menjadi perlindungan terbaik melawan super flu atau influenza A (H3N2) subclade K, terutama untuk mencegah penyakit berat dan kematian.

"Varian ini bukan virus baru, melainkan bagian dari influenza musiman yang mengalami mutasi genetik sehingga lebih mudah menular. Influenza sendiri merupakan virus yang terus berevolusi, sehingga kemunculan varian baru merupakan hal yang lazim terjadi," kata Pengurus Pusat PAMKI dr. Anis Karuniawati.

Anis mengatakan di Jakarta, Selasa, bahwa meskipun virus dapat bermutasi, vaksin influenza masih memberikan perlindungan silang yang bermanfaat.

Selain vaksinasi, langkah pencegahan sederhana tetap sangat efektif, antara lain mencuci tangan secara rutin, menggunakan masker saat sakit atau berada di tempat ramai, menutup mulut dan hidung saat batuk atau bersin, beristirahat di rumah bila mengalami gejala flu, serta segera mencari pertolongan medis apabila gejala memburuk.

Dalam beberapa pekan terakhir, katanya, dunia kembali menaruh perhatian pada meningkatnya kasus influenza musiman yang oleh media internasional kerap disebut sebagai “super flu”. Menyikapi hal tersebut, Kementerian Kesehatan meningkatkan kewaspadaan serta pengawasan terhadap varian influenza yang saat ini beredar.

Dia menjelaskan, istilah “super influenza” bukan merupakan istilah medis resmi. Istilah tersebut digunakan secara populer untuk menggambarkan virus influenza yang menyebar dengan cepat, terutama yang disebabkan oleh varian influenza A (H3N2) subclade K.

"Para ahli menyampaikan bahwa hingga saat ini tidak terdapat bukti ilmiah bahwa varian tersebut menyebabkan penyakit yang jauh lebih berat dibandingkan influenza musiman pada umumnya," katanya.

Gejala yang muncul masih serupa, ujarnya, antara lain demam, batuk dan pilek, sakit tenggorokan, nyeri otot, serta lemas dan kelelahan. Namun, karena daya penularannya tinggi, jumlah kasus dapat meningkat dengan cepat, terutama pada kelompok rentan.

Pewarta :
Uploader: Aang Sabarudin
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.