Merawat sistem irigasi demi ketahanan pangan

id Irigasi belanda, Bendung agroguruh, irigasi way tebu, irigasi lampung, infrastruktur air,World water forum

Merawat sistem irigasi demi ketahanan pangan

Penjaga tengah memperlihatkan mercu peninggalan Belanda di Bendung Agroguruh. ANTARA/Ruth Intan Sozometa Kanafi.

Bandarlampung (ANTARA) - Sisa-sisa peninggalan kolonial Belanda di Sai Bumi Ruwa Jurai, Provinsi Lampung, masih terjaga dengan baik hingga saat ini. 

Sejumlah saluran irigasi dan bendungan yang dibangun pada masa kolonial masih dimanfaatkan sebagai penyedia dan pengatur distribusi air bagi pertanian masyarakat maupun keperluan lain.

Salah satu bendungan atau stuwdam peninggalan masa kolonial Belanda yang masih kokoh berdiri dan beroperasi adalah Bendung Agroguruh yang berada sekitar 7 kilometer  dari Bandara Radin Inten II Lampung.
 
Bendungan dengan panjang bangunan utama mencapai 70 meter dan tinggi empat meter ini tidak memiliki sand trap atau bangunan penangkap lumpur. 
 
Pada bangunan ini ada pula bangunan mercu atau menara menjulang tinggi kokoh bergaya arsitektur khas Belanda dengan tulisan 1935 yang menandakan peresmiannya di masa lampau.

Kemudian di dekat banguan tersebut terdapat bangunan untuk kantor pengairan tempo dulu dengan ventilasi besar penangkap udara untuk daerah beriklim tropis, khas bangunan-bangunan zaman kolonial Belanda.
 
Selain itu, tanggul bendungan di bagian selatan disusun dengan bebatuan. Kemudian, memasuki area tersebut disambut dengan sebuah alat pemecah batu tua terbuat dari besi yang cukup kokoh buatan perusahaan Inggris H.R Marsden Ltd. 
 
Alat pemecah batu buatan Inggris yang digunakan untuk membangun Bendung Agroguruh zaman kolonial Belanda. ANTARA/Ruth Intan Sozometa Kanafi.

Bendungan itu dibangun mulai 1930 dan selesai  pada 1935. Bendungan ini berada di aliran Sungai Sekampung, tepatnya di Desa Tegineneng, Kabupaten Pesawaran.