Menyelami Atlantis, mereguk kehangatan cinta keluarga romantis

id aquaman,aquaman: the lost kingdom

Menyelami Atlantis, mereguk kehangatan cinta keluarga romantis

Aktor Jason Momoa memerankan karakter Aquaman di film "Aquaman: The Lost Kingdom". (ANTARA/HO/Warner Bros. Pictures)

Humor dan efek visual

Tak cuma krisis dan pertempuran, "Aquaman: The Lost Kingdom" juga masih menyajikan sajian humor ringan pada beberapa bagian. Apalagi sosok Jason Momoa memang sudah kadung terlanjur lekat dengan selera humor yang lumayan sejak menahbiskan diri sebagai Aquaman pada lima tahun lalu.



Kali ini, bumbu-bumbu humor ringan masih sesekali muncul dalam taraf menggelitik hingga ke tingkatan tawa lepas nan singkat. Dentuman lagu "Born to Be Wild" dipopulerkan oleh band Steppenwolf yang menguar sejak permulaan film, sebenarnya sudah memberi petunjuk bahwa unsur komedi tak akan pergi jauh dari watak khas Arthur Curry.

Meski tidak banyak, namun sempalan ragam lelucon dan kelakar yang muncul di film ini cukup memberikan nyawa sekaligus warna dari alur cerita yang amat mudah diterka. Pada lain sisi, sektor efek visual di film ini tentu masih memanjakan mata sama seperti film pendahulunya dan memberikan pengalaman menyenangkan bagi penonton, utamanya yang menyaksikan "Aquaman: The Lost Kingdom" dengan teknologi IMAX.

Sutradara, produser, sekaligus penulis cerita James Wan berhasil menampilkan beragam efek visual untuk menghadirkan petualangan dunia bawah air Kerajaan Atlantis. Film ini memberi gambaran yang lebih jelas mengenai kerajaan, detail bangunan, dan lokasi-lokasi lain yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Atlantis kali ini bahkan lebih besar, terang, berwarna, dan semarak.

Sejumlah fakta mengemuka terkait adegan bawah air proses produksi film ini. Misalnya, tim efek visual menggunakan pendekatan baru untuk membebaskan pemain dan pergerakan kamera. Lewat teknologi terbaru dan inovatif Eyeline Studio, James Wan dan tim mampu menciptakan dunia akuatik 360 derajat. Teknologi Eyeline Studio menggunakan bilik melingkar yang dibuat khusus dengan 136 kamera pada posisi tetap dari ketinggian kaki hingga di atas kepala alias melingkari aktor.

Para aktor kemudian tampil di tengah bilik dengan kostum lengkap, mengenakan ikat kepala sensor yang memungkinkan terciptanya rambut mereka yang tergerai di bawah air melalui efek visual canggih. Bilik ini cukup besar untuk menampung seekor kuda mekanik dan memotret para pemain yang sedang menunggangi berbagai makhluk laut yang diciptakan oleh efek visual.

Di dalam bilik tersebut, aktor dapat melihat dinding plasma 360 derajat yang menampilkan visual adegan. Sedangkan di luar bilik, sesama pemeran yang tampil di depan kamera dapat melihat wajah mereka dan menempatkannya sesuai layar plasma di dalam bilik. Metode baru tersebut memungkinkan para aktor bebas bergerak dan bereaksi terhadap penampilan satu sama lain.

Rekaman yang diambil dari sesi teknologi Eyeline tadi kemudian digabungkan dengan adegan yang difilmkan pada layar biru kemudian dirajut dengan avatar, set, dan makhluk laut yang dibuat oleh efek visual.

Hasilnya? Atlanna dan Mera terlihat bagus kala duduk mengangkangi hiu. Begitu pula Arthur saat menaiki kuda laut raksasa Storm sambil bertarung melawan Black Manta di jantung Kerajaan Atlantis. Menarik pula mencermati beberapa set yang belum pernah terlihat di layar sebelumnya seperti kawasan perumahan yang ramai "Times Square" ala Atlantis, atau petualangan turun hingga kedalaman kota kuno.



Lain lagi soal Octobot yang berukuran raksasa. Film ini sedikitnya membutuhkan sebanyak 12 anggota kru selama empat bulan untuk membuat tiga unit Octobot sungguhan. Setiap Octobot terdiri atas 45 bagian cetakan dengan bingkai logam pada bagian dalam. Satu unit Octobot memiliki bagian dalam logam utuh, sedangkan Octobot kedua untuk adegan air didesain dengan bagian dalam yang disesuaikan bagi pemeran pengganti. Sementara unit Octobot ketiga, hanya memiliki bagian luar yang ditata untuk pengambilan gambar dari belakang.

Unit Octobot tersebut digerakkan berdasarkan gerakan enam sumbu rotasi yang memungkinkan gerakan sepanjang sumbu depan dan belakang, lateral, dan vertikal, serta tiga sumbu rotasi. Di film ini, penonton akan melihat akting maksimal dari para aktor kala berada dari balik kemudi Octobot yang memiliki pergerakan begitu luwes dan apik.

Satu hal menarik lain soal teknologi adalah penggunaan jam tangan. Bila diperhatikan di dalam film, karakter Black Manta mengenakan sebuah jam tangan yang selalu menyala di pergelangan tangan kirinya. Jam tangan tersebut adalah purwarupa yang disediakan oleh pembuat jam tangan mewah IWC Schaffhausen. Hingga saat ini hanya ada tiga unit jam tangan tersebut di dunia: satu untuk Manta (dengan lampu berwarna merah) dan dua lagi dengan lampu berwarna biru untuk Dr. Stephen Shin dan Letnan Stingray (diperankan oleh Jani Zhao).

"Aquaman: The Lost Kingdom" memiliki durasi sekitar 120 menit dengan klasifikasi usia 13 tahun ke atas. Film di bawah bendera Warner Bros. Pictures ini menghadirkan deret ratusan nama seniman digital dan kru visual efek pada bagian kredit.

Dari balik set, sutradara, produser, sekaligus penulis cerita James Wan berkolaborasi dengan tim hebatnya yaitu produser Peter Safran dan Rob Cowan, eksekutif produser Galen Vaisman dan Walter Hamada, dan penulis skenario David Leslie Johnson-McGoldrick.

Sementara di belakang kamera, sejumlah nama beken juga turut beraksi yaitu D.O.P Don Burgess yang berada di balik “The Conjuring 2”, desainer produksi Bill Brzeski-nya “Jumanji: The Next Level”, editor Kirk Morri yang memegang “Furious 7”, komposer Rupert Gregson-Williams pada film “Wonder Woman”, serta supervisor musik Michelle Silverman yang turut ambil bagian pada “Malignant”.

Urusan efek visual film ini dipercayakan kepada sosok Nick Davis yang begitu apik menangani “The Clash of the Titans” dan “The Dark Knight”, sedangkan urusan desain kostum berada di tangan desainer Richard Sale yang sempat terlibat dalam film “Back in Action”.

Film hangat untuk keluarga

Sesungguhnya, tidak ada cerita bertema luar biasa yang muncul dalam "Aquaman: The Lost Kingdom". Intisari film ini tak lebih dari sekadar petualangan fantasi antara kebaikan melawan kekuatan gelap, tok!

Adegan pertempuran berskala masif atau pertempuran jarak dekat pun tergolong biasa, tidak ada kesan yang terlalu mencuri perhatian atau menimbulkan kesan wah.

Padahal kalau ingin agak dramatis, sutradara Wan mungkin bisa menampilkan adegan keren berbalut nuansa komikal ketika Orm akhirnya berhasil berlari mencapai bibir pantai dan mereguk air lautan setelah sekian lama berada di dalam gua. Bisa pula Wan dan tim penulisnya, membangun ketakutan penonton yang lebih intens dari kekejaman sosok Black Manta yang memiliki peningkatan kekuatan berkali-kali lipat.

Tetapi, satu hal yang paling terasa dari sekuel Aquaman ini adalah romantisme kehangatan cinta keluarga yang menguar begitu kuat sebagai pesan dari balik setiap adegan. Secara alam bawah sadar, penonton akan dapat meyakini bahwa sejahat-jahatnya Orm -- apalagi dengan tampilan wajah tak berdosa milik Patrick Wilson, dia tidak akan tega mengkhianati keluarga besarnya.

Semuanya menjadi begitu sederhana pada sekuel Aquaman kali ini. Dominasi kisah cinta Arhur-Mera pada film sebelumnya, kini mendapatkan spektrum lebih luas yang mengarah pada keutuhan sebuah keluarga. Semua anggota keluarga mendapatkan porsi untuk menunjukkan kasih sayang -- termasuk ayah Arthur yaitu Thomas yang sedikit sekali mendapatkan sorotan kamera di film ini.

Selain itu, hal yang cukup terasa berbeda dari sekuel film ini adalah kenyataan bahwa Aquaman tidak terlalu banyak mengandalkan kemampuannya sebagai penguasa lautan seperti yang dia tunjukkan pada film pertama. Penonton akan dapat dengan mudah menghitung berapa kali Aquaman mengeluarkan kemampuan indera atau kelihaian dengan trisula maut, hanya berbekal jemari di satu bagian telapak tangan.

Pada akhirnya, tidak ada satu pun penonton yang berharap rasa persaudaraan antara Arthur dengan Orm terputus begitu saja karena perebutan takhta untuk menguasai samudera. 
 
Layaknya dugaan banyak orang, sepertinya pada pencinta pahlawan super DC tersebut bakalan gigit jari selama beberapa tahun ke depan karena tidak ada tanda-tanda kelanjutan kisah panjang Aquaman. Tidak perlu menanti hingga bagian pasca-kredit karena memang tidak akan ada apa-apa di sana. Penonton hanya akan mendapatkan secuil sisa potongan burger keju milik Orm lengkap beserta isinya.

Maka, pesan kemanusiaan dari peradaban Atlantis dalam menyelamatkan bumi hingga keterlibatan Perserikatan Bangsa-bangsa, rasanya cukup epik untuk mengakhiri kisah petualangan heroik Aquaman kali ini. Sebuah film sederhana namun menawan yang cocok untuk dinikmati bersama seluruh anggota keluarga jelang menutup tahun ini.