Maggot dan jangkrik
Maggot dan jangkrik semakin dicari dan kebutuhannya terus meningkat karena harga komponen bahan pembuat pakan, seperti jagung dan dedak, harganya terus melangit serta semakin langka di pasaran.
Maggot dan jangkrik juga mengandung komponen aditif yang dapat meningkatkan kadar nutrisi, terutama dari sampah organik berupa meat bone meal (MBM). MBM banyak digunakan untuk ransum atau bahan penyusun pakan hewan ternak, seperti unggas, ikan, dan babi.
MBM selama ini dipenuhi dari impor sebanyak 800 ribu ton per tahun. Indonesia masih belum dapat memproduksi MBM karena bahan utama dari sisa daging dan tulang yang masih dikonsumsi oleh masyarakat.
Maggot yang merupakan larva dari lalat buah dari jenis Black Soldier Fly (BSF) adalah komponen yang dapat digunakan untuk substitusi MBM.
Maggot memenuhi syarat sebagai pakan ternak dan hewan karena komposisi nutrisi terpenuhi, harga bersaing, dan ketersediaan banyak. Produksi maggot juga cepat. Satu ekor lalat BSF dapat menghasilkan 500 maggot dalam sekali reproduksi. BSF juga bukan serangga vektor penyakit, sehingga aman.
Demikian pula jangkrik budi daya dapat menjadi alternatif pakan. Jangkrik merupakan salah satu hewan yang mempunyai potensi sangat besar menjadi sumber pakan alternatif karena berkadar protein tinggi.
Jangkrik olahan bisa digunakan sebagai pakan ayam pedaging, ayam petelur, burung, dan ikan karena memiliki kandungan nutrisi yang tinggi. Protein kasarnya berkisar 50–60 persen. Jangkrik juga dapat digunakan langsung sebagai pakan dan makanan. Penggunaan tepung jangkrik, bahkan sudah banyak diteliti.
