"Peed Aya" virtual awali Pembukaan Pesta Kesenian Bali

id peed aya,pawai PKB 2021,pembukaan pkb 2021,Peed Aya virtual awali Pembukaan Pesta Kesenian,Pembukaan Pesta Kesenian Bali

"Peed Aya" virtual awali Pembukaan Pesta Kesenian Bali

Salah satu bagian garapan Peed Aya untuk Pembukaan Pesta Kesenian Bali 2021 saat pengambilan syuting (Antaranews Bali/HO-Disbud Bali/2021)

Denpasar (ANTARA) - Pawai atau "Peed Aya" secara virtual akan mengawali pembukaan Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-43 tahun 2021 yang akan dibuka Presiden Joko Widodo secara virtual pada Sabtu (12/6) dan untuk pembukaan secara luring dipusatkan di Taman Budaya Provinsi Bali, Denpasar

"Peed Aya muncul dalam perda untuk mengganti istilah pawai. Kalau tidak masa pandemi, maka pawai PKB itu diselenggarakan seperti biasanya," kata Tim Kurator PKB I Gde Nala Antara disela-sela gladi pembukaan PKB di Denpasar, Jumat.

Namun, karena kondisi pandemi COVID-19, maka tim kurator dan tim kreatif mengkondisikan pawai itu secara virtual, direkam dengan tetap mengedepankan konsep pawai.

Nala Antara mengemukakan, konsep Peed Aya mengangkat ciri khas keunggulan seni budaya di masing-masing kabupaten dan kota di Bali. Awalnya, konsep pawai berdurasi 30 menit, namun karena akan dibuka oleh Presiden, maka dipersingkat dengan tetap mengedapankan tema besarnya, yaitu Wana Kertih.

"Peed Aya secara virtual ini menggambarkan konsep Wana Kerthi dengan judulnya 'Pretiti'. Konsep pretiti di Bali itu, dari awal sampai akhir bagaimana kita memuliakan hutan itu. Dengan itulah konsepnya, mengedepankan potensi seni budaya di masing masing kabupaten dan kota yang digarap hampir 3 bulan lamanya," ujarnya.

Materi dan bentuknya, itu beda dengan pawai sebelumnya. Pawai ini langsung direkam di alam nyata di kabupaten sesuai dengan konsep awal. Lokasinya memilih tempat-tempat potensial, seperti di Gianyar, Bangli, Karangasem dan lainnya dengan konsep "ngider bhuana".

Pemilihan lokasi di alam nyata itu, sekaligus itu menggambarkan bagaimana hutan di Bali masih tetap dimuliakan. "Peed Aya ini tetap menggambarkan pawai, tetapi lokasinya di alam terbuka dengan konsep Wana Kerthi dengan pesannya memuliakan pohon atau hutan," ucap akademisi Universitas Udayana itu.

Konseptor garapan, Kadek Wahyudita mengatakan, Peed Aya diawali dengan pengambilan gambar di sejumlah lokasi melibatkan sejumlah sanggar dan komunitas seni.

Pengambilan gambar, dimulai dari Bukit Campuhan Ubud, Pura Besakih Karangasem, Desa Penglipuran Bangli, Kawasan Gunung Kawi Gianyar dan Air Terjun Kanto Lampo Desa Beng Gianyar sejak 9 Mei hingga 17 Mei 2021.

"Peed Aya ini secara penggarapan berupa video, bukan sajian dokumentasi. Video yang dikemas dengan memadukan beberapa teknik sinematografi, sehingga menjadi sebuah sajian video art," katanya,

Peed Aya merupakan salah satu materi pokok PKB tahun ini yang penggarapannya disesuaikan dengan tema "Pratiti Wana Kerthi" bermakna memuliakan pohon, membangun simponi, harmoni semesta raya menuju kehidupan yang sejahtera dengan jiwa yang maha sempurna.

Berpijak dari judul tersebut, maka sajian Peed Aya dibagi menjadi beberapa konsep dengan mengambil setting lokasi di beberapa tempat yang berbeda. Pendukungnya Sanggar Seni Gumiart, Sanggar Gita Semara, Ari Wijaya Palawara, Komunitas Bali Pixelart dan Komunitas Sama Kaki.

"Pemilihan tempat syuting sesuai dengan kebutuhan konsep garapan, sekaligus untuk mempromosikan keberadaan objek tersebut kepada masyarakat," ucapnya.

Peed Aya yang didukung 100 penari ini dalam penyajiannya menampilkan berbagai seni, budaya dan kebiasaan masyarakat Bali serta disesuaikan dengan lokasi, sehingga sajian seni menjadi lebih dan sesuai tema PKB.

Misalnya, di salah satu situs unik di Pura Gunung Kawi, Tampak Siring, Gianyar, materi Peed Aya berupa topeng dan rantasan yang menggambarkan pohon memberikan pengetahuan untuk umat manusia tentang adab dan kesujian jiwa.

Pada garapan Peed Aya ini juga menghadirkan mitos lahirnya kalpataru yang dikemas dengan koreo lingkungan, sehingga mengambil setting di Air Terjun Kantolampo, Desa Beng Gianyar dan Sungai Pura Gunung Kawi, Kabupaten Gianyar.
Pewarta :
Editor: Indra Gultom
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar