Menumbuhkan optimisme pelaku UMKM pada masa pandemi corona

id Festival UMKM Sembada,Umkm sleman,Pandemi COVID-19 ,Kabupaten Sleman ,UMKM bangkit,berita sumsel, berita palembang, antara sumsel, palembang hari ini

Menumbuhkan optimisme pelaku UMKM  pada masa pandemi corona

Produk UMKM Sleman "Blunder Ratu" saat turut dalam pameran Festival UMKM Sleman 2020. Foto Antara/HO-UMKM Blunder Ratu

Semua pihak tak bisa memprediksi sampai kapan pandemi COVID-19 akan berakhir, namun masyarakat harus bangkit, berani keluar untuk beraktivitas
Sleman (ANTARA) - Pandemi COVID-19 yang menimpa Indonesia, bahkan dunia hampir sepuluh bulan ini telah membuat semua sektor terpuruk, tak terkecuali bidang ekonomi yang di dalamnya termasuk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Semua UMKM nyaris tak bisa berkutik dihantam pandemi pandemi COVID-19 yang berkepanjangan ini. UMKM tak bisa menjalankan aktivitasnya karena pangsa pasar sepi. Hal ini menyebabkan kerugian dan pengurangan tenaga kerja.

Pemerintah Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, menyebutkan pandemi COVID-19 menyebabkan kerugian mencapai sekitar Rp900 miliar akibat terhentinya aktivitas ekonomi (UMKM), sosial, dan budaya di daerah ini.

Menyikapi keadaan ini Pemkab Sleman membuka ruang untuk kegiatan perekonomian di tengah masa pandemi COVID-19 dengan penerapan protokol kesehatan yang ketat, terutama untuk membangkitkan kembali UMKM di daerah ini yang jumlahnya mencapai ribuan. 

Upaya untuk membangkitkan kembali perekonomian masyarakat, maka Pemkab Sleman terus mendorong sektor-sektor perekonomian seperti jasa, pariwisata, dan perdagangan agar bisa berjalan dan tumbuh baik, kata Sekretaris Daerah Sleman Harda Kiswaya.

Langkah ini sebagai dorongan psikologis bagi masyarakat di tengah ketidakpastian kapan wabah COVID-19 akan berakhir, karena tidak mudah untuk menggerakkan pasar di tengah suasana kecemasan dan kekhawatiran akibat adanya pandemi ini.

Di sektor UMKM,  Pemkab Sleman mencoba memfasilitasi dengan membantu pemasaran produk UMKM baik secara daring maupun kombinasi pameran UMKM secara daring maupun luring (online dan offline).

Salah satu upaya untuk membangkitkan UMKM dan Industri Kecil Menengah (IKM), maka Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sleman menggelar "Sleman Virtual Expo" pada November 2020 dan akan dilanjutkan pada tahun 2021.

Kepala Disperindag Kabupaten Sleman Mae Rusmi Suryatiningsih menyebutkan "Sleman Virtual Expo" ini merupakan wujud dukungan Pemerintah Kabupaten setempat untuk membangkitkan ekonomi dan mempromosikan produk-produk IKM agar dapat bangkit kembali.

"Sleman Virtual Expo" merupakan sarana menjembatani keterbatasan aktivitas yang melibatkan tatap muka antarpelaku usaha. "Sleman Virtual Expo" ini disajikan secara online melalui platform berbasis web yang jdibuat nyaman untuk diakses melalui smartphone dan perangkat lain untuk melakukan promosi dan pemasaran produk IKM maupun UMKM di Sleman.

Pandemi COVID-19 menyebabkan penyelenggaraan hampir 90 persen MICE di Indonesia ditunda bahkan dibatalkan. Pada masa kebangkitan ekonomi diperlukan wujud nyata dukungan pemerintah terhadap IKM dan UMKM agar dapat bangkit kembali, di antaranya pelaksanaan program-program promosi dan pemasaran.

Penyelenggaraan pameran secara maya (virtual exhibition) dapat menjadi menjadi solusi yang sangat tepat, sebagai wadah untuk mempromosikan produk-produk IKM melalui model pameran secara digital yang bisa diakses secara online.

Dengan mengangkat konsep virtual tour galeri, "Sleman Virtual Expo" menampilkan galeri masing-masing IKM peserta dalam sudut kamera 3600. Detil informasi  lima produk unggulan masing-masing IKM tersaji pada katalog.

Pada pergelaran ini, kata dia, sebanyak 50 IKM peserta dan 250 macam produk  yang ditampilkan dalam kategori makanan dan minuman, kerajinan, home deco, batik dan produk turunannya, fashion, furniture, mainan dan perlengkapan anak, dan mesin Alat Tepat Guna (ATG).

Festival UMKM Sembada

Bahkan, Dinas Koperasi, Usaha Kecil, dan Menengah Kabupaten Sleman menggelar "Festival UMKM Sembada" yang bertujuan untuk memperkuat model pemberdayaan UMKM yang selama ini telah dijalankan. Ini wujud apresiasi pemerintah terhadap UMKM dalam pertumbuhan ekonomi di kabupaten ini.

Tujuan feastival yang digelar secara luring di Atrium Jogja City Mall pada Desember 2020 untuk memberikan ruang dan kesempatan kepada pelaku UMKM untukmeningkatkan kapasitas, fasilitasi solusi permasalahan usaha, fasilitasi kemitraan, dan promosi produk.

Era disrupsi telah mengubah setidaknya tiga hal, yaitu pasar, peluang, dan model bisnis. Hal ini diperkuat kehadiran teknologi digital yang menyebabkan perubahan radikal terhadap model bisnis tradisional. Karena itu, pola-pola kolaboratif perlu dimunculkan untuk pengembangan bisnis yang memberdayakan dan menyejahterakan pelaku UMKM.

Dalam pelaksanaan "Festival UMKM Sembada" juga diselenggarakan pameran virtual yang dikemas dalam Pekan Digital Sembada (Kendi Sembada). Sasarannya para pelaku UMKM mitra binaan Dinas Koperasi, Usaha Kecil, dan Menengah Kabupaten Sleman sebanyak 143 UMKM.

Dalam kegiatan ini digelar Bazaar produk UMKM dengan menyediakan 64  stan  pameran yang diisi 143 UMKM Sleman terdiri atas 19 UMKM kerajinan, 36 UMKM fashion, 82 UMKM kuliner, enam UMKM flora, dan lainnya.

Adanya berbagai kegiatan promosi dan pemasaran produk IKM dan UMKM diakui para pelaku usaha dapat membantu membangkitkan dari keterpurukan akibat pandemi COVID-19 melalui fasilitasi pemasaran daring dan pameran luring.

Salah satu pelaku UMKM, Farida (36) yang mendapatkan fasilitas pameran dalam Festival UMKM Sembada mengaku sangat terbantu dengan adanya kegiatan tersebut. 

Produsen kuliner rumahan roti basah "Blunder Ratu" ini mengaku terbantu dalam mengenalkan produk kepada masyarakat lebih luas sehingga mampu meningkatkan meningkatkan pemasaran.

Pada masa pandemi COVID-19, usaha yang belum lama dirintisnya tersebut dapat dikatakan langsung terkena imbasnya. Karena cukup sulit untuk mengenalkan dan memasarkan produk di tengah situasi masyarakat yang sedang dilanda kekhawatiran akan munculnya wabah penyakit. 

Farida mengaku sangat kesulitan memasarkan produk yang dikembangkan dari resep kolonial untuk diolah dan dinikmati di zaman milenial ini, sehingga tidak banyak produknya panganan yang dikalim manisnya pas di lidah itu dapat dipasarkan secara luas. 

Namun berkat adanya fasilitas pameran tersebut,  "Blunder Ratu" yang diproduksi di dapur rumahnya Dusun Kepuh, Wedomartani, Ngemplak, Sleman tersebut saat ini sudah banyak di kenal masyarakat dan pemasaran meningkat.

Saat ini setiap hari rata-rata Farida bisa menjual produk "Blunder Ratu" sebanyak 30 hingga 50 dus per hari dengan harga per dus isi 6 Bluder Ratu Rp46 ribu hingga Rp50 ribu.

Semua pihak tak bisa memprediksi sampai kapan pandemi COVID-19 akan berakhir, namun masyarakat harus bangkit, berani keluar untuk beraktivitas, terutama dalam kegiatan perekonomian.

Dengan penerapan protokol kesehatan maka aktivitas ekonomi dapat berjalan beriringan. Kegiatan ekonomi masyarakat dapat berlangsung dan penyebaran COVID-19 dapat diantisipasi.

Hal paling penting adalah memiliki tanggung jawab bersama,  saling menjaga, dan saling mendukung agar pandemi ini segera berakhir dan perekonomian masyarakat, terutama sektor UMKM segera pulih dan bangkit.

 
Pewarta :
Uploader: Aang Sabarudin
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar