Menyusuri perjalanan dan makna "pulang" lewat film "Mudik"

id film mudik,ibnu jamil,asmara abigail,putri ayudya,berita sumsel, berita palembang, antara sumsel, antara palembang, antara hari ini, palembang hari in

Menyusuri perjalanan dan makna "pulang" lewat film  "Mudik"

Cuplikan film "Mudik" (2020). (Lifelike Pictures & Mola TV)

Jakarta (ANTARA) - "Mudik" bercerita tentang Aida (Putri Ayudya) dan suaminya Firman (Ibnu Jamil) yang sedang memiliki konflik dan memutuskan untuk mudik ke kampung halaman menjelang Lebaran Idul Fitri.

Di tengah perjalanan, mereka mengalami sebuah peristiwa tragis yang membuatnya bertemu dengan Santi (Asmara Abigail), seorang perempuan desa.

Baca juga: Tanggapan Dian soal penayangan film melalui platfrom digital

Perjalanan dan pertemuan mereka dengan Santi pun pada akhirnya justru mengubah pandangan hidup Aida dan Firman tentang rumah tangga dan masa depan Aida dan Firman.

Berfokus dengan pendekatan karakter sebagai penggerak cerita, sutradara Adriyanto Dewo menempatkan banyak pecahan puzzle yang bisa penonton susun seiring berjalannya film.

Baca juga: "Bucin" tayang perdana secara global di Netflix

Penonton segera diajak mengikuti perjalanan mudik Aida dan Firman meninggalkan Jakarta menuju kampung halaman. Banyak pemandangan familiar yang disuguhkan di sepanjang perjalanan darat dengan mobil itu, mulai dari seperti apa nuansa mudik, dan tentunya kedua tokoh utamanya.

 
Cuplikan film "Mudik" (2020). (Lifelike Pictures & Mola TV)


Bicara tentang tokoh utama, Firman, menurut aktor Ibnu Jamil, merupakan laki-laki yang ingin segala hal cepat terselesaikan dan instan.

Aktor menjelaskan bahwa karakter ini "berada di tengah masalah rumah tangga dan batinnya yang sedang bergejolak".

Sementara Putri Ayudya berpendapat, Aida yang ia perankan merupakan karakter perempuan yang cenderung memendam masalah dan berusaha menangani masalah sendiri.

Tak jauh berbeda dengan yang dijelaskan kedua lakon utama, Aida dan Firman memiliki dinamika hubungan yang cukup rumit.

Kombinasi keduanya sukses dibawakan dengan "dingin" oleh sutradara, dengan banyak mengandalkan ekspresi dan bahasa tubuh alih-alih dialog rapat dan cepat sebagai stimulus cerita.

Hal ini membuat penonton harus lebih sabar untuk mengulik cerita dari kedua tokoh utama tersebut lebih dalam lagi, karena terkesan dibawakan dengan lambat.

Adriyanto juga memanfaatkan sejumlah teknik yang mendukung nuansa dingin dan tegang yang terbangun. Sejak awal, ia banyak menggunakan pengambilan gambar berdurasi panjang (long take) dan follow di sejumlah adegan.

Alih-alih membuat bosan, teknik ini rasanya cukup efektif untuk menimbulkan antisipasi bagi penonton mengenai kejadian apa yang menanti karakternya. Ini juga seakan mengajak penonton benar-benar ikut dalam perjalanan para lakonnya.

Mudik, yang bisa dibilang merupakan budaya yang lekat dengan masyarakat Indonesia, juga dengan apik disajikan di film ini. Terdapat beberapa detail kecil yang menggambarkan suasana khas di momen tahunan ini.

Baca juga: Tujuh film perjuangan membangkitkan jiwa nasionalisme

Mulai dari bergantian menyetir mobil, berhenti di rest area untuk makan malam hingga ke toilet, keramaian di sepanjang tol Cikampek, dan hal-hal sepele lainnya yang agaknya menimbulkan rasa rindu bagi penonton yang mungkin tak bisa merasakan pengalaman itu di tahun ini karena pandemi.

Bicara tentang konflik di kisah ini, juga terbilang cukup familiar dan nyata. Di balik hiruk pikuk dan kemeriahan mudik, ada sejumlah tragedi yang harus dihadapi sebuah keluarga, seperti misalnya masalah rumah tangga, hingga kecelakaan maut.

Santi, tokoh yang diperankan Asmara Abigail, yang ditinggal meninggal oleh suaminya yang tertabrak di perjalanan pulang, menjadi sisi menarik untuk dikulik.

Sebagai seorang janda di desa, diiringi dengan penyelidikan polisi hingga adanya pemerasan dari warga yang melihat bencana sebagai ladang uang, juga dikisahkan dengan apik.

Kehadirannya seakan menjadi warna dan ruang baru bagi kisah-kisah serupa yang mungkin suaranya tak terlalu terdengar di tengah meriahnya mudik lebaran.

Selain penokohan dan kisahnya, "Mudik" memiliki visual yang cantik, walaupun sebagian besar scene dibangun dengan tone warna yang dingin. Banyak latar yang ditangkap dengan estetik, dengan tak meninggalkan kesederhanaan nan nyata yang menyelimuti road-trip ini.

Secara keseluruhan, "Mudik" tak hanya sekadar menampilkan perjalanan para tokohnya dari perantauan menuju kampung halaman, namun juga mengerti lebih dalam lagi mengenai arti dan makna dari kata "pulang".

Bukan hanya pulang ke rumah dan bertemu dengan orang-orang terkasih, namun juga "pulang" dari rasa hampa, rasa bersalah, dan mengenal diri sendiri.

Filosofi "pulang" dan "memulai kembali" yang lekat di momen lebaran, tak hanya berlaku dari diri sendiri ke orang lain, namun juga untuk memaafkan diri sendiri atas kesalahan, penyesalan, dan pilihan yang dibuat.

Film "Mudik" yang telah berkompetisi di 4th International Film Festival & Awards Macao (IFFAM) pada Desember 2019 serta CinemAsia Film Festival pada Maret 2020 ini sudah tayang di layanan streaming Mola TV sejak 28 Agustus 2020, dengan durasi 1,5 jam.