Negara maritim selayaknya juga suka konsumsi ikan

id ikan,produsen ikan,berita sumsel,berita palembang,program pakan ikan mandiri,zat Omega 3,mengonsumsi ikan

Masakan berbahan utama ikan (ANTARA)

Pemerintah setempat menilai tingkat konsumsi ikan masih rendah daripada produksi ikan di daerah tersebut
Jakarta (ANTARA News Sumsel) - Salah satu pernyataan dari Presiden RI Joko Widodo yang telah banyak dikutip beragam media dalam sejumlah kesempatan adalah "Kita sudah terlalu lama memunggungi laut".

Interpretasi dari pernyataan Kepala Negara tersebut adalah sudah saatnya bangsa Indonesia melirik kembali secara saksama dan mengoptimalkan kekayaan laut yang terdapat di kawasan perairan nasional untuk kesejahteraan masyarakat Nusantara.

Salah satu kekayaan laut tersebut tentu saja adalah komoditas pangan perikanan dan berbagai jenis hewan lautnya yang bisa disantap warga.

Oleh karena itu, tidak mengherankan bila Kementerian Kelautan dan Perikanan juga terus menggiatkan program Gerakan Memasyarakatkan Makan Ikan (Gemarikan) di berbagai daerah.

Bahkan, saat puasa, kampanye untuk menyukseskan program tersebut terus berjalan, seperti acara Safari Gemarikan dan Pasar Ikan Ramadan di Area Parkir Gedung Sarinah, Jakarta Pusat, Minggu (3/6).

Direktur Jenderal Penguatan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP) KKP Rifky Effendi Hardijanto dalam kesempatan tersebut memaparkan bahwa kegiatan ini dimeriahkan oleh 20 usaha kecil dan menengah (UKM) bidang kelautan dan perikanan, baik UKM produk perikanan segar, olahan, maupun kerajinan tangan.

Rifky juga mengingatkan bahwa Indonesia memiliki potensi sumber daya ikan sebesar 9,9 juta ton dan potensi luas lahan budi daya 83,6 juta hektare.

Menurut dia, potensi tersebut telah lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan protein ikan bagi masyarakat serta mampu membuka banyak lahan pekerjaan.

Guna mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya ikan ini, lanjut dia, pemerintah sejak 2004 telah mencanangkan Program Gemarikan.

Untuk itu, KKP pada tahun 2018 menargetkan angka konsumsi ikan Indonesia 50,65 kg per kapita per tahun, naik dibanding tahun sebelumnya yang sebesar 47,34 kg/kapita/tahun.

Guna memenuhi target baru tersebut, dibutuhkan tambahan ikan ke pasar domestik sekitar 800.000 ton dibandingkan tahun sebelumnya.

Dengan perikanan tangkap yang saat ini memiliki target produksi sekitar 7.000.000 ton, baik untuk tangkap maupun budi daya. Hal itu juga dinilai lebih dari cukup.

Menurut Rifky, pertumbuhan angka konsumsi ikan di Indonesia belakangan cukup baik. Hanya saja konsumsi ikan masyarakat di Pulau Jawa dan Lampung masih jauh tertinggal dibanding wilayah lainnya di Indonesia.

Selain dengan Safari Gemarikan, upaya peningkatan konsumsi ikan juga dilakukan melalui penyerahan bantuan budi daya lele sistem bioflok untuk pesantren dan sekolah berasrama lainnya.

Rifky menambahkan bahwa ikan berperan dalam berbagai program pemerintah untuk pembentukan kualitas sumber daya manusia yang produktif dan berdaya saing, di antaranya Program Kementerian Kesehatan Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas), program peningkatan gizi pada 1.000 hari pertama kehidupan (HPK) dan perkembangan otak anak-anak di bawah umur 2 tahun (Baduta), serta Program KKP Gemarikan.

Dirjen PSDKP juga mengingatkan bahwa kandungan gizi pada ikan sangat baik untuk pertumbuhan anak-anak guna mengurangi angka stunting (kekerdilan) dan mencegah kematian ibu hamil akibat melahirkan.

Sebagai informasi, pada Safari Gemarikan dan Pasar Ikan Ramadan juga dilakukan, antara lain, penyerahan 500 paket Gemarikan bagi anak yatim piatu lintas agama yang berasal dari 25 yayasan/organisasi binaan Kowani di wilayah DKI Jakarta.

Selain itu, juga dilaksanakan, antara lain, edukasi manfaat ikan, bazar produk perikanan dan kuliner, serta lomba mewarnai anak TK.

Ada pula dongeng perikanan oleh Klinik Psikologi Pelangi, demo memasak ikan kaleng, demo membuat olahan ikan, demo Mobil Alih Teknologi Ikan (ATI) Gemarikan, pemeriksaan kesehatan gratis, klinik mutu produk perikanan, dan mobil laboratorium mutu.

Pada kesempatan tersebut juga dilakukan penandatanganan perjanjian kerja sama (PKS) antara Ditjen PDSPKP dengan IBI yang ditandatangani oleh Dirjen PDSPKP Rifky Effendi Hardijanto dan Sekjen PP IBI Tuminah Wiratnoko, dan penandatanganan PKS antara Ditjen PDSPKP dengan Persatuan Wanita Republik Indonesia (Perwari) oleh Dirjen PDSPKP Rifky Effendi Hardijanto dengan Ketua Periodik Pimpinan Pusat Perwari Tri Andriastuti.

Kedua kerja sama tersebut diharapkan dapat meningkatkan partisipasi publik dan "co-ownership" (kepemilikan bersama) atas upaya peningkatan konsumsi ikan dalam mewujudkan generasi Indonesia yang sehat dan cerdas.

Produksi dan Stok Sebelumnya, Dirjen Perikanan Budidaya KKP Slamet Soebjakto mengharapkan tingkat konsumsi ikan di tengah masyarakat terus meningkat seiring dengan upaya pemerintah meningkatkan hasil produksi perikanan Nusantara.

Menurut Slamet Soebjakto, tingkat konsumsi ikan pada tahun 2019 diharapkan dapat menjadi sebesar 54 kg per kapita per tahun.

Dengan target tersebut, setidaknya dibutuhkan suplai ikan sebanyak 14,6 juta ton pada tahun 2019, namun hanya 6,18 juta ton, di antaranya yang diperkirakan berasal dari hasil perikanan tangkap, sedangkan sisanya atau sekitar 60 persennya akan bergantung pada hasil produksi budi daya.

Slamet juga telah menyampaikan bahwa stok ikan di sejumlah daerah telah mencukupi untuk memenuhi kebutuhan dari bulan puasa hingga Lebaran 2018.

Dalam kunjungannya ke Pasar Lembang, Palembang, Rabu (30/5), Slamet juga mengatakan bahwa pihaknya juga ingin memastikan harga stabil sesuai dengan daya beli warga.

Menurut Slamet, selama berinteraksi langsung dengan pedagang ikan, memang ada kenaikan harga pada kisaran Rp2.000 s.d. Rp3.000 per kilogram, khusus untuk ikan laut.

Berdasarkan pengakuan pedagang, kenaikan tersebut masih wajar dan bisa terjangkau.

Untuk itu, stabilisasi pangan berbasis ikan, utamanya sepanjang bulan puasa menjadi mutlak.

Ia juga menekankan pentingnya monitoring secara rutin yang harus dilakukan untuk memastikan sistem logistik berjalan efektif.

Selain itu, dengan melakukan pemantauan secara berkala tersebut juga dia menilai bakal mendapatkan gambaran untuk bagaimana melakukan intervensi saat kondisi pasar fluktuatif.

Sementara itu, Ketua Harian Ikatan Sarjana Kelautan Indonesia Moh Abdi Suhufan memandang perlu pemerintahlebih menggairahkan sektor perikanan tangkap, terutama mengingat stok perikanan di kawasan perairan nasional telah meningkat pesat selama ini.

Menurut Abdi Suhufan, langkah kebijakan yang dapat mendorong tersedianya skema asuransi kapal ikan dinilai bakal mendorong pihak perbankan di berbagai daerah untuk dapat mendukung permodalan usaha perikanan tangkap nasional.

Promosi Daerah Sebagaimana diketahui, sejumlah daerah terus menggiatkan program memasyarakatkan makan ikan, seperti di Kabupaten Boyolali. Pemerintah setempat menilai tingkat konsumsi ikan masih rendah daripada produksi ikan di daerah tersebut.

Kepala Bidang Perikanan Disnakkan Boyolali Bagiyo, Senin (14/5), menyatakan bahwa produksi ikan di daerahnya cukup melimpah tetapi tingkat konsumsi masyarakat yang masih rendah, yakni rata-rata sekitar 20 kilogram per kapita per tahun.

Bagiyo mengungkapkan bahwa masyarakat Boyolali masih cenderung lebih suka makan daging ayam sehingga dengan faktor itu, daerahnya masih sulit untuk mengejar standar pola pangan harapan untuk konsumsi ikan nasional.

Sementara itu, Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalteng, gencar melakukan sosialisasi dan mengajak masyarakat memperbanyak konsumsi ikan karena sangat banyak manfaatnya untuk kesehatan.

Wakil Bupati H.M. Taufiq Mukri di Sampit, Selasa (8/5), mengingatkan bahwa zat Omega 3 dan 6 yang terkandung bantu peningkatan kecerdasan dan menjaga stamina supaya panjang usia. Ikan juga rendah lemak sehingga jauh dari penyakit kolesterol.

Taufiq menegaskan bahwa mengonsumsi ikan sangat penting bagi ibu hamil, balita, anak, remaja, dan lanjut usia. Kurang mengonsumsi ikan, bisa berakibat terhadap kesehatan masyarakat, seperti ditandai bayi lahir pendek, kurus, dan obesitas.

Pemerintah Kota Kendari, Sulawesi Tenggara, juga terus berupaya mendorong warga untuk memperbanyak atau meningkatkan konsumsi ikan demi kesehatan dan peningkatan kualitas sumber manusia.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kendari Agus Salim Safarullah di Kendari, Senin (30/4), menyebutkan beberapa upaya, antara lain, kampanye gerakan makan ikan dengan menggelar kegiatan masak serba-ikan.

KKP juga mengingatkan bahwa manfaat peningkatan konsumsi ikan di tengah masyarakat juga bermanfaat dalam mengurangi ketergantungan pada impor.

Menurut Dirjen PSDKP KKP Rifky Effendi, ikan adalah sumber protein dengan komponen impor yang rendah dibandingkan telur ayam ras atau ayam ras itu sendiri.

Hal tersebut karena pakan untuk peternakan ayam umumnya masih menggunakan pakan impor.

Dengan demikian, kata Rifky, makin banyak makan ikan bisa mengurangi impor, misalnya pakan. Hal ini juga dibarengi program pakan ikan mandiri.

Dengan banyaknya manfaat yang diperoleh bangsa ini dengan meningkatkan konsumsi ikan lokal, sudah selayaknya bila negara maritim besar, seperti Republik Indonesia, juga makin menggiatkan diri untuk lebih banyak menyantap ikan sebagai hidangan.
 
Pewarta :
Editor: Aang Sabarudin
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar