Mi goreng dan rendang digemari di tenda Ramadhan London

id rendang,mi goreng,masakaan indonesia,tenda ramadhan londone,berita sumsel,berita palembang

Rendang. (ANTARA)

London (ANTARA News Sumsel) - Menu nasi putih plus rendang Padang dan mi goreng yang disediakan oleh beberapa keluarga Indonesia yang tinggal di London serta sumbangan dari lembaga amal, Human Aid Initiative digemari masyarakat Inggris dalam acara buka puasa yang diadakan organisasi Ramadan Tent Project ini di London, akhir pekan.

Pendiri Ramadan Tent Project, Omar Salha yang menyelenggarakan acara buka puasa bersama sejak 2013 mengakui dalam acara buka puasa kali ini dihadiri sekitar 250 tamu dan Ini Minggu tersibuk sejauh ini.

Sebanyak 340 kotak nasi putih plus rendang Padang dan Mi goreng merupakan sumbangan beberapa warga Indonesia di London untuk proyek Ramadan Tent Project di London. Ini tahun kedua kami menyumbang makanan Indonesia di acara buka puasa yang diadakan Ramadan Tent Project, ujar salah seorang warga Indonesia yang tak ingin disebutkan namanya kepada Antara London, Senin yang bersama lima keluarga Indonesia memasak nasi, rendang, dan mi goreng.

"Kami senang tamu yang hadir puas dengan rendang dan mi goreng yang kami sediakan," ujarnya.

Ide Ramadan Tent Project di London yang di gagas Omar Salha saat ia menjadi mahasiswa School of Oriental and African Studies (SOAS). Ide Tenda Ramadan datang karena di London ketika itu tidak ada tempat yang dipakai oleh warga Muslim untuk bersama-sama berbuka puasa, ujarnya.

Buka puasa pertama yang ia gelar bertempat di kampus SOAS dengan dihadiri sekitar 150 orang, hampir semuanya mahasiswa internasional, ditambah dengan sejumlah turis dan tunawisma.

Para tamu yang hadir di acara buka puasa bersama di London hari Minggu (27/5) tidak bisa menyembunyikan kegembiraan begitu mengetahui menu yang disediakan panitia adalah nasi putih, rendang dan mi goreng.

"Wah baunya enak sekali, rasanya pasti luar biasa," kata Hasan, pengunjung yang baru pertama kali hadir di acara buka puasa yang diselenggarakan oleh organisasi Ramadan Tent Project ini. Sementara Ash, tamu lain, mengatakan senang bisa menjumpai masakan Indonesia. Enak, enak sekali. Terima kasih kepada panitia yang menyediakan menu Indonesia. Jarang kami mendapati menu seperti ini. Salah satu hidangan paling enak selama hadir di acara buka puasa bersama," katanya.

"Teman-teman saya mengatakan mereka suka dengan masakan Indonesia ini," ujar Ash.

Acara Ramadan Tent Project ternyata sangat popular yang membuat Omar dan beberapa kawan menyewa taman di Malet Street Gardens, kawasan Bloomsbury, untuk dipakai sebagai tempat berbuka puasa. Di sini didirikan tenda agar para tamu bisa nyaman, terutama ketika cuaca sedang tidak bersahabat. Yang menarik, semuanya boleh datang, baik Muslim maupun non-Muslim, baik warga Inggris maupun pendatang. Bahkan tidak jarang, orang-orang yang sedang lewat pun mampir untuk ikut acara.

Selama sebulan penuh, tenda Ramadan di Malet Street Gardens terbuka untuk siapa saja.Acara buka puasa diawali dengan sambutan, salat Magrib berjamaah dan kemudian menyantap makanan utama.Sambutan disampaikan pembicara, dari mulai pegiat sosial, aktivis, akademisi, pengusaha, anggota parlemen, hingga pemain speak bola Liga Primer.

Selain di London, Ramadan Tent Project juga menggelar tur buka puasa di tiga kota lain di Inggris, yaitu Bradford, Manchester dan Birmingham. Di luar Inggris, Ramadan Tent Project menggelar buka puasa bersama di Istanbul (Turki) dan Portland (Amerika Serikat).

Omar mengatakan sejauh ini pihaknya telah melayani hampir 9.000 tamu dan 60.000 kotak makanan. Menu yang disediakan beragam, mulai dari kentang goreng, makanan Jamaika, Turki, Malaysia dan tentu saja favorit pengunjung, menu masakan Indonesia.

Acara buka puasa Ramadan Tent Project dipuji banyak kalangan karena dinilai tidak hanya sebagai perekat komunitas di London yang beragam tapi juga sebagai medium dakwah Islam. Buka puasa Ramadan Tent Project digambarkan sebagai wajah Islam yang menyejukkan di tengah kemunculan suara-suara sumbang terhadap Islam di Barat.
Pewarta :
Editor: Aang Sabarudin
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar