Palembang (ANTARA Sumsel) - Metode kontrasepsi jangka panjang semakin diminati di Sumatera Selatan menyusul capaian positif Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional yang mencatat 59.701 orang peserta baru untuk program Keluarga Berencana tersebut.
"Metode kontrasepsi jangka panjang (MKJP) yakni implant dan IUD kian diminati berkat edukasi yang cukup genjar dilakukan dalam dua tahun terakhir. Saat ini banyak peserta KB aktif pengguna pil dan suntik memilih beralih ke implant dan IUD," kata Kepala Seksi Advokasi, Informasi, dan Komunikasi Kantor Perwakilan BKKBN Sumsel Mukminin di Palembang, Minggu.
Ia mengemukakan, BKKBN menargetkan penambahan peserta baru metode kontrasepsi jangka panjang untuk menyikapi stagnannya capaian program penekanan jumlah penduduk dalam sepuluh tahun terakhir.
Penggunaan MKJP yakni berupa implant dan Intra Uterine Device (IUD) ini dipandang sangat efektif dalam menekan angka pertambahan penduduk mengingat memiliki rentan waktu cukup lama dalam memproteksi dibandingkan dengan jenis pil atau suntik.
Pemasangan alat kontrasepsi jenis IUD dapat berfungsi hingga 10 tahun dan implant untuk masa 3 tahun sehingga mengurangi potensi "drop out" pemakaian kontrasepsi.
"Pemakaian alat kontrasepsi jenis suntik dan pil membutuhkan kedisplinan pemakai mengingat masa waktu hanya sekitar tiga bulan. Keadaan ini berbeda dengan MKJP karena aseptor tidak perlu repot-repot memakan obat secara reguler sehingga peluang terjadi kehamilan bisa ditekan," ujarnya.
Pada tahun 2013, Sumsel mampu melampai target pencapaian peserta baru MKJP sebesar 117,80 persen setelah mencatat angka 59.709 orang dari proyeksi 50.679 orang.
Sementara capaian paling memuaskan untuk metode operasi wanita (mow) dengan melampaui hingga 221,43 persen atau 2.356 orang peserta baru dari target hanya 1.064 orang, disusul alat kontrasepsi implant dengan 119,61 persen (45.295 orang peserta baru), dan IUD sebesar 107,26 persen (11.488 peserta baru).
Meski menuai hasil positif, tapi untuk metode operasi pria (vasektomi) mengalami penurunan cukup tajam karena hanya mampu merealisasikan target sebesar 54,30 persen atau sekitar 526 orang proyeksi 1.035 orang.
"BKKBN tidak akan pernah berhenti apapun hasil capaiannya karena masalah kependudukan ini tidak hanya sekadar mengurangi jumlah penduduk, tapi juga bagaimana menjadikan suatu keluarga sejahtera karena memiliki anak yang berkualitas," ujarnya.
Program Kependudukan dan Keluarga Berencana sendiri belum berjalan dengan semestinya berdasarkan hasil Survey Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2012 mengingat terjadi peningkatan jumlah total angka kelahiran atau Total Fertility Rate (TFR).
Angka TFR tercatat 2,6 per wanita usia subur (dalam 10 wanita usia subur terdapat 26 anak yang terlahirkan) atau menyamai catatan SDKI 2007 (stagnasi).
