"Tuak manis" jadi incaran menu buka puasa
Sabtu, 3 Juni 2017 20:32 WIB
Seorang warga memanjat pohon aren untuk menyadap dan menampung air nira di Tikala, Toraja Utara, Sulsel, Jumat (5/7). Air nira tersebut bahan baku untuk diolah menjadi gula merah dan minuman tradisional yang bernilai ekonomi bagi warga setempat. (ANT
Mataram (Antarasumsel.com) - Minuman tradisional "tuak manis" atau air nira di Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat, masih menjadi incaran masyarakat Pulau Lombok menjadi menu berbuka puasa.
Fajri (37) salah seorang pedagang Tuak Manis di kawasan Wadon, Kekait Kecamatan Gunung Sari, Lombok Barat, Sabtu, mengatakan, tuak manis yang dijajakan setiap hari tidak pernah tersisa.
"Dalam sehari saya membawa 25-20 botol tuak manis menggunakan botol bekas air mineral isi 1,5 liter, selalu habis bahkan kadang kurang," katanya.
Soal pelanggan, Fajri tidak kalah saing karena untuk tidak membuat pelanggannya jera dengan rasa tuak manis yang dijual, ia sangat memprioritaskan kualitas tuak manis yang dijual, sehingga pelanggannya tidak kecewa.
Tuak manis yang dijualnya merupakan tuak manis segar yang diambil dari pohon nira miliknya dan sejumlah petani lainya dari kawasan wisata Pusuk, Kabupaten Lombok Utara.
"Dengan kualitas yang baik, meskipun lokasi saya berjualan relatif jauh tapi mereka akan datang ke sini. Kadang kalau telat datang, mereka tidak kebagian," katanya.
Menurut Fajri, pelanggannya banyak berasal dari Kota Mataram. Harga yang ditawarkan juga masih sama dengan tahun-tahun sebelumnya yakni Rp10.000 per botol dengan isi 1,5 liter.
Dikatakan, bulan puasa merupakan bulan penuh berkah sebab selama satu bulan penuh ia bisa menjual tuak manis sebagai bekal untuk menyambut hari kemenangan.
"Di luar puasa, peminat tuak manis sangat kurang dan hasil air nira diolah menjadi gula merah dan dijual maksimal Rp5.000 perbiji," katanya.
Namun untuk mengolah air nira menjadi gula merah membutuhkan waktu lama, karena harus melalui beberapa proses.
"Kalau menjual tuak manis, sangat praktis tidak diperlukan pengolahan lagi setelah air nira ditampung dari pohonnya kita bisa langsung jual," ujar dia.
Omzet yang dihasilkan saat menjual tuak manis dalam sehari bisa mencapai 250 ribu hingga Rp300 ribu, dan dirasa cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga serta menambung untuk Hari Raya Idul Fitri.
Fajri (37) salah seorang pedagang Tuak Manis di kawasan Wadon, Kekait Kecamatan Gunung Sari, Lombok Barat, Sabtu, mengatakan, tuak manis yang dijajakan setiap hari tidak pernah tersisa.
"Dalam sehari saya membawa 25-20 botol tuak manis menggunakan botol bekas air mineral isi 1,5 liter, selalu habis bahkan kadang kurang," katanya.
Soal pelanggan, Fajri tidak kalah saing karena untuk tidak membuat pelanggannya jera dengan rasa tuak manis yang dijual, ia sangat memprioritaskan kualitas tuak manis yang dijual, sehingga pelanggannya tidak kecewa.
Tuak manis yang dijualnya merupakan tuak manis segar yang diambil dari pohon nira miliknya dan sejumlah petani lainya dari kawasan wisata Pusuk, Kabupaten Lombok Utara.
"Dengan kualitas yang baik, meskipun lokasi saya berjualan relatif jauh tapi mereka akan datang ke sini. Kadang kalau telat datang, mereka tidak kebagian," katanya.
Menurut Fajri, pelanggannya banyak berasal dari Kota Mataram. Harga yang ditawarkan juga masih sama dengan tahun-tahun sebelumnya yakni Rp10.000 per botol dengan isi 1,5 liter.
Dikatakan, bulan puasa merupakan bulan penuh berkah sebab selama satu bulan penuh ia bisa menjual tuak manis sebagai bekal untuk menyambut hari kemenangan.
"Di luar puasa, peminat tuak manis sangat kurang dan hasil air nira diolah menjadi gula merah dan dijual maksimal Rp5.000 perbiji," katanya.
Namun untuk mengolah air nira menjadi gula merah membutuhkan waktu lama, karena harus melalui beberapa proses.
"Kalau menjual tuak manis, sangat praktis tidak diperlukan pengolahan lagi setelah air nira ditampung dari pohonnya kita bisa langsung jual," ujar dia.
Omzet yang dihasilkan saat menjual tuak manis dalam sehari bisa mencapai 250 ribu hingga Rp300 ribu, dan dirasa cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga serta menambung untuk Hari Raya Idul Fitri.
Pewarta : Nirkomala
Editor : Ujang
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Tembus pasar Eropa dan Malaysia, harga kayu manis petani Agam justru dinilai terlalu rendah
22 February 2026 16:35 WIB
Kejutan manis di pengujung tahun, Pertamina gelar khitanan sasar 1.000 anak yatim dan duafa
03 January 2026 10:42 WIB
Komitmen GRC Berbuah Manis, Semen Baturaja kembali dianugerahi TOP GRC Awards 2025
11 September 2025 15:32 WIB
Hindari makanan manis dan lemak jahat guna kurangi kolesterol berlebih
11 October 2024 11:25 WIB, 2024
Apindo desak konsultasi publik soal aturan cukai minuman berpemanis
23 September 2024 14:41 WIB, 2024