Alamat web sebagai instrumen kedaulatan negara

id alamat web,.id,kedaulatan,ruang digital,domain .id

Alamat web sebagai instrumen kedaulatan negara

Kementerian Komunikasi dan Informatika menghadirkan situs web aduannomor.id jadi wadah bagi masyarakat adukan nomor terindikasi penipuan. (ANTARA/Livia Kristianti)

Jakarta (ANTARA) - Sepanjang tahun 2025, jumlah pengguna nama domain berakhiran .id menembus angka 1.431.865, melampaui target tahunan yang ditetapkan sebesar 1,35 juta. Demikian menurut catatan Pengelola Nama Domain Internet Indonesia (PANDI).

Capaian itu mengukuhkan posisi Indonesia sebagai pengelola domain tingkat negara (country code Top Level Domain/ccTLD) terbesar di kawasan Asia Tenggara, mengalahkan negara tetangga, seperti Vietnam (.vn) dan Malaysia (.my).

Tentu saja, lonjakan penggunaan domain .id ini menarik dicermati, tapi bukan karena angkanya yang besar. Pasalnya, angka bisa naik-turun, dan itu wajar. Hal yang menarik justru bagaimana orang, kini mulai melihat pilihan domain ini secara berbeda.

Dulu, banyak yang memilih domain hanya karena murah dan mudah. Murah berarti harganya terjangkau, bisa dibeli, tanpa harus mikir panjang. Mudah berarti proses pendaftarannya simpel, tinggal klik-klik dan dalam hitungan menit, domain sudah aktif.

Sekarang, orang mulai menilai domain bukan cuma dari harga atau kecepatan pendaftaran. Mereka memilih yang dekat dan bisa dipercaya. Dekat maksudnya domain berada di bawah pengelolaan Indonesia sendiri. Jadi, kalau ada masalah, bisa cepat ditangani. Bisa dipercaya berarti orang yakin situs itu aman, kredibel, dan tidak mudah disalahgunakan untuk penipuan atau konten ilegal.

Dengan begitu, pilihan domain tidak lagi netral. Membeli domain .id kini seperti memberi sinyal: “Saya memilih ruang digital yang aman, yang dikelola di sini, yang bisa diandalkan.” Ini bukan soal gengsi atau nasionalisme semata, tapi soal rasa aman dan percaya saat beraktivitas di dunia maya.

Dalam dunia digital, kepercayaan adalah fondasi yang tak terlihat. Ia tidak pernah muncul di layar gawai, tapi menentukan apakah orang berani klik tombol bayar. Sekali kepercayaan runtuh, teknologi secanggih apa pun menjadi tak berguna. Dan membangun ulang kepercayaan, harganya selalu lebih mahal.



Konteksnya berubah

Domain global seperti .com pernah -- dan mungkin masih -- dipandang sebagai simbol profesionalisme. Seolah-olah yang global pasti lebih serius, lebih mapan, lebih kredibel. Banyak pelaku usaha lokal mengejarnya demi terlihat “kelas dunia”. Dan itu wajar pada masanya.

Persepsi itu agaknya mulai berubah, bukan karena domain .com memburuk, melainkan karena konteksnya berubah. Dunia digital, kini penuh jebakan. Nama global tak lagi menjamin niat baik.

Tak heran, ruang digital pun semakin padat oleh penipuan, phishing, dan manipulasi identitas. Dan pelaku kejahatan justru gemar memakai wajah global. Mereka bersembunyi di balik anonimitas dan lintas yurisdiksi. Di situ, yang global sering kali justru sulit disentuh.

Di titik inilah domain lokal menemukan momentumnya, bukan karena nasionalisme sempit atau romantisme bendera negara, melainkan karena kebutuhan akan kendali. Orang perlu tahu, jika terjadi apa-apa, siapa yang bisa dimintai pertanggungan-jawaban.

Oleh sebab itu, aspek kontrol menjadi kata kunci. Ini mencakup kontrol atas identitas digital, kontrol atas data, kontrol atas ruang tempat transaksi berlangsung. Hal ini bukan untuk membatasi, melainkan untuk memastikan ada yang berjaga. Tanpa kontrol, kepercayaan hanya bergantung pada harapan.

Pewarta :
Uploader: Aang Sabarudin
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.