Satgas Pangan Polri periksa empat produsen beras, tindak lanjuti laporan Mentan

id mentan,produksi beras,beras,pupuk ilegal,pupuk,satgas pangan

Satgas Pangan Polri periksa empat produsen beras, tindak lanjuti laporan Mentan

Pedagang beras menjajakan dagangannya di Pasar Sleman, D.I Yogyakarta, Kamis (12/6/2025).ANTARA FOTO/Andreas Fitri Atmoko/bar

Jakarta (ANTARA) - Satgas Pangan Polri telah menindaklanjuti laporan Kementerian Pertanian (Kementan) terkait laporan dugaan adanya 212 produsen beras nakal.

Tindak lanjut itu dengan memeriksa empat produsen beras pada Kamis (10/7) sebagai langkah penyelidikan.

“Betul, dalam proses pemeriksaan,” kata Ketua Satgas Pangan Polri sekaligus Direktur Tindak Pidana Ekonomi Khusus (Dirtipideksus) Bareskrim Polri Brigjen Pol. Helfi Assegaf dikutip di Jakarta, Sabtu.

Empat produsen beras itu berinisial WG, FSTJ, BPR, dan SUL/JG.

Terkait rincian substansi pemeriksaan, Brigjen Pol. Helfi tidak membeberkannya.

Baca juga: Mentan serahkan penindakan 212 produsen beras nakal ke penegak hukum

Adapun Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mengungkapkan 10 dari 212 produsen beras nakal telah diperiksa Satgas Pangan Polri bersama Bareskrim Polri sebagai langkah membongkar praktik curang dan melindungi konsumen.

Langkah itu merupakan tindak lanjut dari laporan 212 merek beras yang dianggap tidak sesuai standar mutu, baik dari sisi volume, kualitas maupun kejelasan label, yang dikirim langsung ke Kapolri dan Kejaksaan Agung.

Amran menekankan momen penindakan itu tepat karena stok beras nasional sedang dalam kondisi melimpah sehingga intervensi tidak menimbulkan risiko kekurangan pasokan di pasaran. Stok saat ini mencapai 4,2 juta ton.

Baca juga: Lima jenis pupuk ilegal beredar, rugikan petani Rp3,2 triliun

Menurut dia, pemeriksaan tersebut diharapkan menjadi pintu masuk membongkar praktik kecurangan yang merugikan konsumen.

Amran menyebutkan pengawasan dan penindakan ini adalah bagian dari upaya pemerintah menciptakan keadilan bagi petani, pelaku usaha jujur dan masyarakat sebagai konsumen utama.

"Ini harus kita selesaikan, kesempatan emas kita selesaikan. Di saat produksi kita, stok kita banyak. Kalau stok kita sedikit, tidak mungkin hal ini kita bisa lakukan karena bisa nanti memukul balik. Tapi sekarang stok kita banyak," tegas Amran.

Baca juga: Program cetak sawah di Sumsel berjalan sesuai rencana

Pewarta :
Editor: Dolly Rosana
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.