Waspadai obsesi terhadap idola bisa ganggu keseimbangan hidup

id Obsesi,Mengidolakan secara bijak

Waspadai obsesi terhadap idola bisa ganggu keseimbangan hidup

Arsip foto - Sejumlah penggemar grup K-Pop Blackpink memadati kawasan Stadion Utama Gelora Bung Karno sebelum berlangsungnya konser di Jakarta, Sabtu (11/3/2023). ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay/nym.

Jakarta (ANTARA) - Psikolog lulusan Universitas Indonesia Teresa Indira Andani, M.Psi., Psikolog menjelaskan bahwa menjadi obsesi dalam mengidolakan seseorang bisa muncul perilaku yang mengganggu keseimbangan hidup.

"Dalam psikologi, ketika kekaguman berubah menjadi obsesi, bisa muncul pola perilaku yang mengganggu keseimbangan hidup atau relasi sosial," ujar Teresa, ketika dihubungi ANTARA di Jakarta, pada Kamis.

Menurut psikolog yang saat ini berpraktik di Vajra Gandaria Jakarta itu tanda peringatan yang bisa menjadi refleksi bahwa dalam mengidolakan seseorang sudah berdampak negatif, seperti mengabaikan tanggung jawab pribadi demi mengikuti semua aktivitas idola.

Pewarta :
Uploader: Aang Sabarudin
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.