Logo Header Antaranews Sumsel

Petani nanas kembangkan makanan olahan

Kamis, 9 Agustus 2012 15:47 WIB
Image Print
Buah nanas dikemas jadi makanan olahan (ANTARA FOTO)
....Buah nanas saat ini sudah diolah menjadi beragam makanan seperti sari buah, dodol nanas, fruit leather, dan keripik....

Palembang (ANTARA Sumsel) - Petani perkebunan nanas di Sumatera Selatan mengembangkan beragam makanan olahan untuk menambah pendapatan atas komoditas yang dihasilkan, kata Kepala Bidang Industri Kecil dan Menengah Dinas Perindustrian dan Perdagangan Sumatera Selatan Afrian Joni.

"Buah nanas saat ini sudah diolah menjadi beragam makanan seperti sari buah, dodol nanas, fruit leather, dan keripik. Para petani kita menjadi kreatif dengan sendirinya setelah bermunculan perkebunan nanas di Jawa," kata Joni di Palembang, Kamis.

Dikemukakannya, nanas asal Sumatera Selatan dikenal memiliki rasa manis, tidak berserat, berwarna kuning kemerahan, dan ukuran yang besar.

Sebagian besar kabupaten/kota di Sumsel memiliki perkebunan nanas. Akan tetapi, hanya tiga Kabupaten yang cukup dikenal akan komoditas itu yakni Muara Enim, Prabumulih dan Ogan Ilir.

Berdasarkan hasil penelitian Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Sumatera Selatan, karakteristik nanas Sumsel memiliki bentuk kerucut, dengan berat 1.204,43 gram, panjang 44,14 cm, diameter 17,5 cm, rasio panjang dan diameter 1,79, kandungan jus 60,5%, total padatan terlarut 15,25 % dan vitamin C tergolong tinggi yaitu 42,53 mg/100g.

Kemudian, memiliki kandungan TPT dan vitamin C lebih tinggi dibanding nanas Subang, nanas Bogor dan nanas Kediri.

"Nanas berukuran besar banyak dijual di Prabumulih, sedangkan yang berukuran kecil atau sering dijual di pasar tradisional berasal dari Ogan Ilir," ujarnya.

Konsumen menyukai nanas yang berukuran kecil karena harganya lebih terjangkau, sesuai untuk keperluan membuat sambal, memasak pindang ikan skala rumah tangga, atau dikonsumsi segar oleh satu hingga dua orang.

Akan tetapi seiring dengan fluktuatif harga nanas membuat sejumlah petani di Prabumulih beralih menanam karet atau sawit.

"Harga jual nanas sangat fluktuatif, ketika musim panen jatuh drastis. Sehingga dibutuhkan langkah nyata dari pemerintah kabupaten untuk mencegah semakin berkurangnya lahan perkebunan komoditas itu," katanya.

Kota Prabumulih merupakan produsen nanas terbesar di Sumsel pada era tahun 70-an dengan memasok ke Jawa dan sekitarnya.

Namun, seiring dengan diperkenalkannya budidaya karet pada awal tahun 80-an membuat petani beralih tidak lagi menanam nanas.

Berdasarkan data BPTP sumsel, luas lahan perkebunan nanas Prabumulih tinggal 315 Hektare.(Dolly)



Pewarta:
Editor: M. Suparni
COPYRIGHT © ANTARA 2026