Menko Darmin sebut kualitas SDM Indonesia jadi tantangan fintech
Rabu, 4 September 2019 13:23 WIB
Menteri Koordinator bidang Perekonomian Darmin Nasution dalam acara Indonesia Fintech Forum di Jakarta, Rabu (4/9/2019). (ANTARA/AstridFaidlatulHabibah)
Jakarta (ANTARA) - Menteri Koordinator (Menko) bidang Perekonomian Darmin Nasution menyebutkan bahwa kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) merupakan salah satu tantangan dalam mengembangkan financial technology (fintech) di Indonesia.
Menurutnya, pendidikan dasar yang diterima oleh masyarakat selama ini masih kurang cukup untuk menjadikan pribadi tersebut sebagai programmer yang mampu mengembangkan dunia fintech.
“Kita kan belajarnya dengan cepat karena selalu yg praktis-praktis saja yang dipelajari seperti tambah, kurang, kali, dan menghitung. Kita tidak pernah mengembangkan logika sehingga sekarang ini (tenaga kerja) dukung berkurang dari yang basic sampai programmer,” katanya saat di Auditorium Dhanapala, Jakarta, Rabu.
Darmin menuturkan peningkatan kualitas SDM untuk pengembangan fintech di Indonesia menjadi salah satu tantangan yang harus segera diantisipasi sehingga pada 2020 mendatang pemerintah akan fokus untuk memberikan pendidikan dan pelatihan vokasi.
“Pemerintah dan otoritas mengantisipasi tantangan yang muncul dari pengembangan fintech di Indonesia, namun tetap membuka ruang adanya inovasi,” ujarnya.
Ia menjelaskan adanya inovasi terutama dalam peningkatan kualitas SDM demi kemajuan fintech adalah investasi bagi masa depan sebab di era digital pekerjaan akan cepat berubah karena perkembangannya bersifat eksponensial.
“Ekonomi digital secara khusus adalah job masa depan. Ada yang tinggal enggak muncul lagi, ada yang baru dan akan lahir lagi. Fintech adalah salah satu area di mana job masa depan terus diciptakan,” katanya.
Selain itu, pertumbuhan digital di Indonesia yang semakin meningkat yakni dengan adanya nilai transaksi online mencapai Rp47,16 miliar pada 2018 atau naik sebesar 281,39 persen dari 2017 yaitu Rp12,38 miliar yang menandakan bahwa pemerintah harus terus memberikan fasilitas pendukung terhadap fintech agar dapat melaju dengan berbagai inovasinya.
Darmin melanjutkan melalui SDM yang berkualitas maka akan turut serta membantu pemerintah dalam memfasilitasi ekosistem pendukung fintech tersebut seperti perkembangan teknologi, big data, dan infrastruktur pendukung lainnya.
“Diperlukan ekosistem yang baik dengan lembaga keuangan dan regulator kalau secara backbone untuk digital di Indonesia pemerintah sudah menyelesaikan sekitar 100 persen di kawasan timur Palapa Ring jadi kecepatan dan kualitasnya bagus di setiap daerah,” katanya.
Menurutnya, pendidikan dasar yang diterima oleh masyarakat selama ini masih kurang cukup untuk menjadikan pribadi tersebut sebagai programmer yang mampu mengembangkan dunia fintech.
“Kita kan belajarnya dengan cepat karena selalu yg praktis-praktis saja yang dipelajari seperti tambah, kurang, kali, dan menghitung. Kita tidak pernah mengembangkan logika sehingga sekarang ini (tenaga kerja) dukung berkurang dari yang basic sampai programmer,” katanya saat di Auditorium Dhanapala, Jakarta, Rabu.
Darmin menuturkan peningkatan kualitas SDM untuk pengembangan fintech di Indonesia menjadi salah satu tantangan yang harus segera diantisipasi sehingga pada 2020 mendatang pemerintah akan fokus untuk memberikan pendidikan dan pelatihan vokasi.
“Pemerintah dan otoritas mengantisipasi tantangan yang muncul dari pengembangan fintech di Indonesia, namun tetap membuka ruang adanya inovasi,” ujarnya.
Ia menjelaskan adanya inovasi terutama dalam peningkatan kualitas SDM demi kemajuan fintech adalah investasi bagi masa depan sebab di era digital pekerjaan akan cepat berubah karena perkembangannya bersifat eksponensial.
“Ekonomi digital secara khusus adalah job masa depan. Ada yang tinggal enggak muncul lagi, ada yang baru dan akan lahir lagi. Fintech adalah salah satu area di mana job masa depan terus diciptakan,” katanya.
Selain itu, pertumbuhan digital di Indonesia yang semakin meningkat yakni dengan adanya nilai transaksi online mencapai Rp47,16 miliar pada 2018 atau naik sebesar 281,39 persen dari 2017 yaitu Rp12,38 miliar yang menandakan bahwa pemerintah harus terus memberikan fasilitas pendukung terhadap fintech agar dapat melaju dengan berbagai inovasinya.
Darmin melanjutkan melalui SDM yang berkualitas maka akan turut serta membantu pemerintah dalam memfasilitasi ekosistem pendukung fintech tersebut seperti perkembangan teknologi, big data, dan infrastruktur pendukung lainnya.
“Diperlukan ekosistem yang baik dengan lembaga keuangan dan regulator kalau secara backbone untuk digital di Indonesia pemerintah sudah menyelesaikan sekitar 100 persen di kawasan timur Palapa Ring jadi kecepatan dan kualitasnya bagus di setiap daerah,” katanya.
Pewarta : Astrid Faidlatul Habibah
Editor : Aang Sabarudin
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Konsumen perempuan kerap jadi target kekerasan "debt collector" pinjol
05 December 2023 15:52 WIB, 2023
Aftech sebut pentingnya perlindungan data pribadi dan keamanan siber
26 November 2023 16:19 WIB, 2023
OJK: Fintech berperan strategis jaga perekonomian pada tahun pemilu
01 November 2023 14:49 WIB, 2023
AdaKami akan tempuh jalur hukum terkait dugaan nasabah yang bunuh diri
22 September 2023 15:34 WIB, 2023
Pentingnya "digital trust" dalam aktivitas ekonomi di ranah digital
24 December 2022 19:17 WIB, 2022
Verifikasi cepat dan aman sangat penting seiring pertumbuhan bank digital
30 June 2022 12:57 WIB, 2022
Akulaku Finance Indonesia gelar literasi keuangan ke mahasiswa UIN Raden Fatah
17 June 2022 16:25 WIB, 2022
Amartha gandeng BPR salurkan pinjaman modal Rp50 miliar ke UMKM di Sumsel
16 June 2022 16:47 WIB, 2022
Terpopuler - Info Bisnis
Lihat Juga
Kopi Tebat Benawa, saat tradisi dan inovasi Pusri bertemu di kaki Gunung Dempo
22 April 2026 16:45 WIB