Logo Header Antaranews Sumsel

Keliling dunia "bersama" Batik Riau

Kamis, 20 Juni 2013 15:13 WIB
Image Print
Batik Riau (FOTO ANTARA)

Batik merupakan warisan budaya sebagai wujud ekspresi masyarakat yang memiliki makna simbolis, bernuansa unik dan nilai estetika yang tinggi bagi khalayak di negeri ini.

Dahulu, batik merupakan salah satu tradisi dari produk kebudayaan Tanah Jawa yang hingga hari ini terus berkembang dengan begitu pesat.

Perlahan, berbagai wilayah luar Jawa juga turut mengadopsi batik namun dengan pola dan motif yang berbeda-beda hingga memiliki cirikhas tersendiri. Salah satunya adalah Provinsi Riau yang kini turut melekatkan warisan budaya itu dengan nama batik Riau.

"Permisi...!" dua wanita muda itu hanya tersenyum tanpa menjawab sapaan dari seorang pria yang menghampirinya.

Ketika itu, Rabu (19/6), keduanya tengah asyik melukis motif bunga-bunga di atas kain putih panjang menggunakan peralatan membatik yang sehari-hari digunakan untuk "menciptakan" sebuah karya dengan nilai yang cukup menjanjikan.

"Mereka sedang berlatih membatik. Datang dari Selatpanjang, Kabupaten Kepulauan Meranti," kata Muhammad Rizki, selaku Manager Batik pada Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Provinsi Riau.

Gedung sederhana Dekranasda yang berada di Jalan Sisingamangaraja Nomor 140, Pekanbaru, merupakan tempat bagi para perajin batik Riau pemula. Mereka melatih keterampilan dalam mendesain dan mengukir motif-motif di atas kain.

"Saat ini, untuk yang berlatih membatik ada sekitar lima orang. Mereka semuanya dari Kepulauan Meranti," kataya.

Rizki mengaku telah menjabat sebagai Manager Batik Dekranasda Riau sejak empat tahun lalu. Dia mengatakan, untuk para perajin batik terlatih, saat ini ada tersisa delapan orang dengan hasil produksi yang tidak begitu banyak.

Menurut ceritanya, batik Riau telah hadir sejak 1985 melalui ide untuk melestarikan desain dan budaya Riau Melayu melalui kain dan pakaian adat bercirikhas. Namun dengan berbagai kendala, Batik Riau baru diluncurkan pada tahun 2005.

Rizki bercerita, sejak diluncurkan, batik Riau telah memberikan manfaatkan yang cukup besar bagi daerah maupun masyarakat sekitar.

Meski kerap berganti-ganti perajin, demikian Rizki, batik Riau tidak pernah "luntur" dari cirikhasnya, yakni baduan warna dan desain motif yang berbeda dengan batik-batik pada umumnya.

Kalau batik Jawa identik dengan keris dan wayangnya yang begitu melegenda serta memiliki banyak variasi motif, batik Riau justru lebih terkesan harmonis dengan motif bunga-bunga berpadu dengan nuansa warna yang lembut serta alur tegak lurus yang disebut sebagai tabir.

Dengan motif alur tegak lurus ini, menurut dia, akan memberikan kesan mewah dan pengena pakaian batik khas ini akan tampak lebih langsing.

Sampai saat ini, menurut Rizki, batik Riau telah memiliki lebih dari 300 motif dengan perpaduan warna-warna lembut.

Namun diantara sekian banyak motif tersebut, yang telah dipatenkan haknya adalah sebanyak 39 motif, semisal motif kembang berisi keluk anak, kembang penuh putri berhias, daun paku buluh bertunas, kembang berhias tumpang tindih, bunga matahari mutiara bersusun, bunga mekar kuntum bersanding, bunga kapas putri berhias, bunga matahari bertabur kuntum, dan motif bunga cengkeh mekar penuh serta masih banyak lagi.

Dari sekian banyak motif yang telah dipatenkan tersebut, demikian Rizki, ada beberapa motif batik yang paling laris dipasaran, yakni motif bunga tanjung, bintang, melur, ceremai, raya, seno, dan motif bunga semangat.

Sejarah
Batik Riau sangat identik dengan batik tabir yang memiliki pola berciri khas tegak lurus. Namun pada mulanya, menurut sejarah, batik Riau telah dimulai sejak zaman kerajaan Daik Lingga dan Kerajaan Siak, berpuluh abad silam.

Pada saat itu batik merupakan suatu kerajinan tangan yang terkenal di lingkungan kerajaan para bangsawan istana, namun masih dalam bentuk kerajinan batik cap.

Pada masa itu, batik cap menggunakan bahan cap yang terbuat dari perunggu yang berisikan motif-motif khas yang unik.

Pola dan cara membatik dengan batik cap ini sangat berbeda dengan batik tulis dan batik lainnya di masa modern.

Seiring berjalannya waktu, kerajinan batik terus membudaya bahkan mengakar menjadi warisan budaya yang sangat identik.

Dalam wujud semangat untuk tetap melestarikan dan menghidupkan kembali nuansa batik dimasa kerajaan, Pemerintah Provinsi Riau pada tahun 1985 mengambil inisiatif untuk menumbuh kembangkan batik ini dengan cara memberikan pelatihan membatik kepada masyarakat sekitar.

Namun bukan lagi pelestarian batik cap, melainkan membatik yang mempunyai kesamaan dengan batik Jawa, yakni menggunakan perangkat tulis (catting).

Kendati pengerjaannya nyaris serupa dengan batik Jawa, motif yang dipergunakan adalah murni motif Melayu Riau.

Pada 2004, Ketua Dekranasda Provinsi Riau, Septina Primawati Rusli, kembali membangkitkan kerajinan batik Melayu dengan menggunakan pola baru pada desain.

Upaya ini adalah suatu harapan untuk lebih menemukan khas dari Batik Riau tersebut dan memiliki perbedaan dengan batik daerah lainnya melalui tangan terampil seorang seniman yang juga pengurus Dekranasda Provinsi Riau, Encik Amrun Salmon.

Kala itu, dibuatlah percobaan demi percobaan yang akhirnya dapat menghasilkan suatu pola baru dengan membuat batik tulis berpola ilham tabir belang budaya Melayu Riau yang bergaris memanjang dari atas ke bawah dengan motif-motif Melayu yang ada.

Di kemudian hari, dari motif-motif yang ada, kembali dikembangkan menjadi sebuah motif baru yang diberi nama sesuai aslinya, yakni batik Riau.

Keliling Dunia
Sampai saat ini, menurut Manager Batik Riau Dekranasda, Muhammad Rizki, Batik Riau telah dikenal tidak hanya di dalam negeri, namun secara mancanegara dengan "berkeliling" dunia sejak awal diluncurkan.

Batik Riau telah berulang mengikuti promosi mancanegara seperti ke Jepang, Belanda, Prancis, Belgia, Malaysia, Singapura, dan sejumlah negara lainnya lewat ragam kegiatan pemerintah.

Meski telah dikenal luas di berbagai negara-negara maju, pangsa pasar batik Riau tetap "berputar-putar" di daerah sendiri dengan jumlah peminat yang terus menurun.

Bahkan pemerintah daerah saat ini kesulitan untuk memasarkan batik Riau secara luas dengan berbagai kendala.

"Salah satunya, minimnya pengetahuan masyarakat tentang batik dan persaingan industri yang begitu ketat," katanya.

Rizki mengatakan, meski zaman kini telah mencapai puncak teknologi, namun bati Riau tetap bernuana sama seperti saat pertama kali diluncurkan.

"Tidak ada penggunaan mesin atau lainnya. Yang asli tetap dikerjakan secara tradisional dan butuh waktu minimum 15 hari untuk menyelesaikannya. Hal ini yang membuat harganya begitu mahal, mulai dari Rp300 ribu hingga mencapai jutaan," katanya.

Harga yang begitu mahal membuat batik Riau tidak begitu diminati kalangan masyarakat secara luas. "Hanya golongan masyarakat kaya raya yang bisa membeli batik Riau," ujarnya.

Kendati demikian, kata dia, semangat untuk mempertahankan warisan budaya tersebut harus tetap ada dengan kiat-kiat pengembangan. Salah satunya yakni melatih anak-anak daerah untuk kemudian mengembangkannya di daerah masing-masing.

Sangat diharapkan, demikian Rizki, batik Riau tidak hanya sekedar berkeliling dunia, tetapi juga berhasil meraup keuntungan dengan meluaskan pangsa pasar hingga ke mancanegara.



Pewarta:
Editor: AWI-SEO&Digital Ads
COPYRIGHT © ANTARA 2026