Tradisi "ngobeng" akan terus dipertahankan warga Palembang

id ngobeng, tradisi warga palembang

Tradisi "ngobeng" akan terus dipertahankan warga Palembang

Wali Kota Palembang Eddy Santana Putra (2 kanan) didampingi sejumlah pejabat menikmati makan siang bersama dengan hidangan atau ngobeng di Museum Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang (Foto Antarasumsel.com/13/Nila Fuadi/Parni)

Palembang (Antara Sumsel) - Tradisi "ngobeng" warga Kota Palembang, akan terus dipertahankan, terbukti sebanyak 40 hidangan yang menyajikan nasi minyak lengkap dengan lauk pauk dan makanan pelengkap lainnya disediakan dalam tradisi tersebut.

"Ngobeng merupakan tradisi makan bersama guna mempererat silaturahmi yang kini mulai jarang dilakukan masyarakat Palembang," kata Ketua Dewan Adat setempat Roni Hanan, di Museum Sultan Mahmud Badaruddin II, Selasa.

Menurut dia, tradisi "ngobeng" sangat kental dengan masyarakat Palembang karena warisan budaya leluhur.

Tradisi itu, kini mulai jarang dijumpai karena masyarakat lebih memilih menjamu tamu dengan prasmanan.

Ia mengatakan, "ngobeng" sangat dalam maknanya menghargai tamu dan mempererat silaturahmi.

Ketika masuk rumah tamu langsung disiapkan cucian tangan dan kemudian menuju hidangan yang telah siap.

Dia menjelaskan, satu hidangan diperuntukan bagi delapan orang yang menyantap beragam makanan khas.

Nasi minyak menjadi santapan utamanya dilengkapi opor ayam, gulai kambing dan daging sapi masak malbi.

Selain itu, ditambah acar dan tumisan buncis diberi santan serta sambal nanas.

Tak ketinggalan makanan penutup srikaya yang terbuat campuran telur santan dan gula diberi pewarna suji dimasak dengan cara dikukus.

Wali Kota Palembang Eddy Santana Putra menambahkan, tradisi "ngobeng" ini sangat luar biasa maknanya.

Tradisi budaya menjamu tamu dan mempererat silaturahmi harus dipertahankan jangan tergilas oleh perkembangan masyarakat modern.

Dia menjelaskan, pemkot akan berupaya optimal mendorong lestarinya tradisi-tradisi adat dan budaya yang diwariskan leluhur Palembang.

Tentunya, dukungan pemerintah harus diimbangi dengan partisipasi masyarakat dalam melestarikan adat dan budaya.(Nila)


Editor: Awi
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.