Pembangunan rumah di Sumsel turun 30 persen
Kamis, 19 November 2020 9:34 WIB
Ketua Real Estate Indonesia (REI) Sumsel Zewwy Salim, Rabu (18/11) (ANTARA/Aziz Munajar/20)
Palembang (ANTARA) - Realisasi pembangunan rumah di Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) turun 20 hingga 30 persen selama pandemi COVID-19 karena daya beli masyarakat menurun dan perbankan kian selektif memberikan pinjaman.
Ketua Real Estate Indonesia (REI) Sumsel Zewwy Salim di Palembang, Rabu, mengatakan target pembangunan rumah pada awal 2020 sebanyak 12.500 unit, namun hingga akhir tahun ini diperkirakan pembangunan rumah hanya terealisasi 10.000 unit.
“Dampaknya 310 perusahaan anggota REI Sumsel harus mengkoreksi kembali target,” ujarnya pada Musda REI Sumsel.
Menurut dia, daya beli masyarakat juga diperparah dengan meningkatnya Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) sehingga pemberian kredit dari perbankan lebih selektif untuk menghindari gagal bayar.
Para pengembang menyiasati penurunan daya beli tersebut dengan berbagai program, seperti penawaran pembayaran bertahap dan memberikan hadiah bagi pelanggan yang membayar tunai.
Meski turun 30 persen, REI Sumsel berupaya menggenjot lagi pembangunan rumah pada 2021 dengan target mencapai 15.000 unit rumah.
"Dari 15.000 unit rumah itu 85 persen di antaranya diperuntukkan untuk masyarakat berpenghasilan rendah melalui rumah bersubsidi, sisanya untuk rumah komersil," kata dia.
Meski realisasi pembangunan turun, namun tingkat pertambahan pembangunan rumah di Sumsel pada 2020 sudah melebihi target 2.000 unit per tahun.
Ia juga memperkirakan kebutuhan rumah di Sumsel akan meningkat yakni mencapai 500.000 hingga 2021.
Percepatan pembangunan pada 2021 juga didukung semakin mudahnya akses perizinan dari pemerintah serta asumsi bahwa kondisi pandemi COVID-19 pada 2021 sudah dapat diatasi.
Ketua Real Estate Indonesia (REI) Sumsel Zewwy Salim di Palembang, Rabu, mengatakan target pembangunan rumah pada awal 2020 sebanyak 12.500 unit, namun hingga akhir tahun ini diperkirakan pembangunan rumah hanya terealisasi 10.000 unit.
“Dampaknya 310 perusahaan anggota REI Sumsel harus mengkoreksi kembali target,” ujarnya pada Musda REI Sumsel.
Menurut dia, daya beli masyarakat juga diperparah dengan meningkatnya Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) sehingga pemberian kredit dari perbankan lebih selektif untuk menghindari gagal bayar.
Para pengembang menyiasati penurunan daya beli tersebut dengan berbagai program, seperti penawaran pembayaran bertahap dan memberikan hadiah bagi pelanggan yang membayar tunai.
Meski turun 30 persen, REI Sumsel berupaya menggenjot lagi pembangunan rumah pada 2021 dengan target mencapai 15.000 unit rumah.
"Dari 15.000 unit rumah itu 85 persen di antaranya diperuntukkan untuk masyarakat berpenghasilan rendah melalui rumah bersubsidi, sisanya untuk rumah komersil," kata dia.
Meski realisasi pembangunan turun, namun tingkat pertambahan pembangunan rumah di Sumsel pada 2020 sudah melebihi target 2.000 unit per tahun.
Ia juga memperkirakan kebutuhan rumah di Sumsel akan meningkat yakni mencapai 500.000 hingga 2021.
Percepatan pembangunan pada 2021 juga didukung semakin mudahnya akses perizinan dari pemerintah serta asumsi bahwa kondisi pandemi COVID-19 pada 2021 sudah dapat diatasi.
Pewarta : Aziz Munajar
Editor : Aang Sabarudin
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Ombudsman Sumsel dorong Disdik sediakan kanal pengaduan pelaksanaan masuk sekolah
20 May 2026 21:21 WIB
HUT Lahat ke-157, Bank Sumsel Babel gelar promo belanja kuliner Rp157 lewat BSB Mobile
20 May 2026 16:32 WIB
Pertamina EP Zona 4 kembangkan Sumur LBK-030 di Muara Enim, berpotensi produksi 3.073 BOPD
19 May 2026 20:45 WIB
Pemprov Sumsel bantu petani jagung tingkatkan produksi, dukung ketahanan pangan
19 May 2026 20:30 WIB
MPR RI dorong RUU Obligasi Daerah segera disahkan, perkuat pembiayaan pembangunan
19 May 2026 20:23 WIB