Mevlut sempat teriak "Jangan lupakan Aleppo!"
Selasa, 20 Desember 2016 12:34 WIB
Duta Besar Rusia ke Turki Andrei Karlov terletak di tanah setelah ia ditembak oleh pria tak dikenal di sebuah galeri seni di Ankara. (REUTERS)
Jakarta (Antarasumsel.com) - Pembunuh Duta Besar Rusia untuk Turki Andrey
Karlov yang diidentifikasi sebagai agen polisi berusia 22 tahun bernama
Mevlut Mert Altintas sempat berteriak "Jangan lupa Aleppo! Jangan lupa
Suriah!" sebelum menembak mati Karlov yang berada tepat di belakang sang
dubes.
Altintas sendiri tewas dilumpuhkan pasukan khusus Turki.
Altintas terekam menembak mati sang dubes Rusia dari belakang dengan pistol semiotomatisnya ketika dubes Rusia itu sedang meresmikan pameran foto.
Para pejabat Turki berkilah Altintas saat itu tidak sedang bertugas.
Setelah menembak dubes didahului teriakan dalam Bahasa Turki "jangan lupakan Aleppo", Altintas juga mengancam para wartawan yang sedang mengabadikan peristiwa itu.
"Mundur! Mundur! Hanya kematian yang bisa mengeluarkan saya dari sini. Siapa pun yang punya peran dalam penindasan (di Suriah) akan mati satu per satu," kata Altintas.
Ketika situasi semakin kacau, Altintas berteriak 'Allahu akbar'.
Kementerian dalam negeri Turki sendiri sudah membenarkan si penembak adalah polisi yang bekerja pada unit polisi anti huru-hara di Ankara dalam dua setengah tahun terakhir.
Mevlut Mert Altintas adalah kelahiran 1994. Ayahnya, Esrafil, ibunyar Hamidiye, dan adik perempuannya, Seher Ozeroglu, yang bekerja di sebuah butik pakaian, ditangkap di kota Soke, Provinsi Aydin.
Semasa muda Altintas aktif dalam partai AKP yang merupakan asal Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, dan kemudian kemungkinan punya kaitan dengan Front Nusra yang menjadi salah satu penentang Presiden Suriah Bashar al-Assad.
Seorang saksi menceritakan bahwa Altintas berpakaian sangat rapi dengan jas hitam dan dasi serta berdiri tepat di belakang dubes Rusia itu ketika sang dubes berbicara.
"Dia mencabut senjatanya dan menembak duta besar dari belakang. Kami menyaksikan dia tumbang di lantai dan kemudian kami berlarian," kata saksi mata itu dalam laman Daily Mail.
Wali Kota Ankara Melih Gokcek memperkirakan penggunaan slogan Islam oleh si penembak kemungkinan adalah untuk mengambinghitamkan siapa yang bertanggung jawab atas serangan ini. Dia bahkan menilai si penembak memiliki kaitan dengan kelompok Fethullah Gulen yang dituding berada di balik kudeta gagal 15 Juli silam.
Altintas sendiri tewas dilumpuhkan pasukan khusus Turki.
Altintas terekam menembak mati sang dubes Rusia dari belakang dengan pistol semiotomatisnya ketika dubes Rusia itu sedang meresmikan pameran foto.
Para pejabat Turki berkilah Altintas saat itu tidak sedang bertugas.
Setelah menembak dubes didahului teriakan dalam Bahasa Turki "jangan lupakan Aleppo", Altintas juga mengancam para wartawan yang sedang mengabadikan peristiwa itu.
"Mundur! Mundur! Hanya kematian yang bisa mengeluarkan saya dari sini. Siapa pun yang punya peran dalam penindasan (di Suriah) akan mati satu per satu," kata Altintas.
Ketika situasi semakin kacau, Altintas berteriak 'Allahu akbar'.
Kementerian dalam negeri Turki sendiri sudah membenarkan si penembak adalah polisi yang bekerja pada unit polisi anti huru-hara di Ankara dalam dua setengah tahun terakhir.
Mevlut Mert Altintas adalah kelahiran 1994. Ayahnya, Esrafil, ibunyar Hamidiye, dan adik perempuannya, Seher Ozeroglu, yang bekerja di sebuah butik pakaian, ditangkap di kota Soke, Provinsi Aydin.
Semasa muda Altintas aktif dalam partai AKP yang merupakan asal Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, dan kemudian kemungkinan punya kaitan dengan Front Nusra yang menjadi salah satu penentang Presiden Suriah Bashar al-Assad.
Seorang saksi menceritakan bahwa Altintas berpakaian sangat rapi dengan jas hitam dan dasi serta berdiri tepat di belakang dubes Rusia itu ketika sang dubes berbicara.
"Dia mencabut senjatanya dan menembak duta besar dari belakang. Kami menyaksikan dia tumbang di lantai dan kemudian kami berlarian," kata saksi mata itu dalam laman Daily Mail.
Wali Kota Ankara Melih Gokcek memperkirakan penggunaan slogan Islam oleh si penembak kemungkinan adalah untuk mengambinghitamkan siapa yang bertanggung jawab atas serangan ini. Dia bahkan menilai si penembak memiliki kaitan dengan kelompok Fethullah Gulen yang dituding berada di balik kudeta gagal 15 Juli silam.
Pewarta :
Editor : Ujang
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Kunjungi ANTARA, Dubes Rumania sebut keramahan warga Indonesia kunci sukses pariwisata
28 November 2024 22:37 WIB, 2024
Dubes AS: Kunjungan Presiden Prabowo ke AS perkuat komitmen kemitraan strategis
20 November 2024 16:27 WIB, 2024
Universitas Sriwijaya jalin kerja sama pendidikan dengan Kedubes Ukraina
16 November 2024 8:00 WIB, 2024
Inggris panggil dubes Israel menyusul tewasnya pekerja bantuan di Gaza
03 April 2024 10:37 WIB, 2024