Saat ini Dedi memilih tinggal dan membangun kampung halamannya yang kini dikenal dengan Lembur Pakuan.
Kampung tersebut ditata berdasarkan prinsip ramah lingkungan dengan menyediakan berbagai kebutuhan pokok seperti areal persawahan, perikanan, peternakan, perkebunan hingga areal hutan kecil di tengahnya.
"Jadi urusan berbakti pada masyarakat dan hidup dengan berinteraksi di tengah masyarakat, bagi saya tidak perlu menunggu pemilihan gubernur karena tugas-tugas itu sampai hari ini saya sudah kerjakan," katanya.
Bagi Dedi, hal tersebut hanya urusan menunggu waktu agar memiliki porsi yang lebih luas dan alokasi anggaran yang lebih besar.
"Saya hanya tinggal menunggu waktu punya porsi yang lebih luas dan ada alokasi anggaran yang lebih besar agar orang lembur (orang desa) mendapat keadilan. Jalannya mulus, rumah rakyat miskinnya alus (bagus), aparat desa, RT sampai Linmas terurus tubuh mereka tidak kurus-kurus," katanya.
Sementara itu, pada Jumat (19/4) malam hingga Sabtu dini hari, area rumah Dedi Mulyadi dipenuhi warga dari berbagai pelosok daerah di Jawa Barat. Mereka hadir dalam acara silaturahmi yang dikemas dalam acara "Nyoreang Lampah Kasorang" yang merupakan sebuah pagelaran sastra, tari dan wayang golek empat dalang.
Keempat dalang yang terdiri dari Dadan Sunandar Sunarya, Wawan Dede Amung Sutarya, Iman Cecep Supriyadi dan Khanha Ade Kosasih Sunarya itu berkolaborasi bermain wayang golek dalam satu panggung di Taman Bunisora, Lembur Pakuan Subang.
Taman Bunisora merupakan areal terbuka yang dibangun oleh KDM dengan arsitektur khas Sunda. Taman ini dibangun sebagai tempat interaksi warga dalam bentuk panggung terbuka dihiasi oleh berbagai ornamen cantik yang memanjakan mata.
Rangkaian acara yang berakhir pada Sabtu dini hari itu pun semakin meriah dengan kehadiran bintang tamu pemenang ajang pencarian bakat X Factor, Kris Tomahu, dengan membawakan sejumlah lagu hits dan pelawak kawakan Ohang yang berkolaborasi dengan keempat dalang.
