Wapres nilai isu komunisme untuk menarik perhatian
Jumat, 13 Mei 2016 15:06 WIB
Wakil Presiden Jusuf Kalla (ANTARA FOTO/Yudhi Mahatma)
Jakarta (ANTARA Sumsel) - Wakil Presiden Jusuf Kalla menilai isu komunisme yang akhir-akhir ini muncul kembali di Tanah Air bukan sebagai ancaman tapi hanya untuk menarik perhatian.
"Saya tidak yakin kondisi hari ini akan ada paham komunis tumbuh di negara manapun di dunia ini. Bahwa itu mungkin mereka buat isu saja atau untuk menarik perhatian, bisa saja," kata Wapres di Jakarta, Jumat.
Hal itu disampaikan Wapres menyikapi munculnya kembali berbagai isu komunisme dan penyitaan beberapa atribut berlambang komunis.
Wapres mengatakan, komunisme merupakan paham dan paham tersebut terbukti gagal. Karena itu di negara yang dulunya komunis hampir semua berubah seperti Rusia, China dan Eropa Timur paham tersebut sudah tidak ada lagi.
"Partainya ada tapi sudah demokratis dalam tingkat tertentu, apalagi kita. Saya tidak yakin paham itu ada," katanya.
Lebih lanjut dia mengatakan, satu-satunya negara komunis yang tersisa adalah Korea Utara. Sementara negara lain seperti Kuba juga sudah berubah pahamnya.
Sebelumnya marak beredar atribut terkait komunisme akhir-akhir ini menimbulkan keresahan masyarakat.
Menyikapi hal tersebut, Kepolisian segera melakukan tindakan agar keadaan ini tidak dimanfaatkan oleh pihak tak bertanggung jawab.
Dalam menanggulangi bahaya penyebaran paham komunis, Kepolisian menggandeng saksi ahli untuk menyelidiki penyebaran paham komunis di beberapa daerah di Indonesia.
"Saya tidak yakin kondisi hari ini akan ada paham komunis tumbuh di negara manapun di dunia ini. Bahwa itu mungkin mereka buat isu saja atau untuk menarik perhatian, bisa saja," kata Wapres di Jakarta, Jumat.
Hal itu disampaikan Wapres menyikapi munculnya kembali berbagai isu komunisme dan penyitaan beberapa atribut berlambang komunis.
Wapres mengatakan, komunisme merupakan paham dan paham tersebut terbukti gagal. Karena itu di negara yang dulunya komunis hampir semua berubah seperti Rusia, China dan Eropa Timur paham tersebut sudah tidak ada lagi.
"Partainya ada tapi sudah demokratis dalam tingkat tertentu, apalagi kita. Saya tidak yakin paham itu ada," katanya.
Lebih lanjut dia mengatakan, satu-satunya negara komunis yang tersisa adalah Korea Utara. Sementara negara lain seperti Kuba juga sudah berubah pahamnya.
Sebelumnya marak beredar atribut terkait komunisme akhir-akhir ini menimbulkan keresahan masyarakat.
Menyikapi hal tersebut, Kepolisian segera melakukan tindakan agar keadaan ini tidak dimanfaatkan oleh pihak tak bertanggung jawab.
Dalam menanggulangi bahaya penyebaran paham komunis, Kepolisian menggandeng saksi ahli untuk menyelidiki penyebaran paham komunis di beberapa daerah di Indonesia.
Pewarta : Desi Purnamawati
Editor : Ujang
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Wagub Sumsel targetkan Jembatan Musi V beroperasi saat arus mudik Lebaran 2026
07 February 2026 17:37 WIB
Jaksa tuntut eks Wakil Wali Kota Palembang Fitrianti Agustinda dihukum 8,5 tahun penjara
21 January 2026 6:19 WIB
Mantan Wakil Wali Kota Palembang jalani sidang perdana, jaksa sebut gunakan dana PMI untuk keperluan pribadi
30 September 2025 16:19 WIB
KPK perpanjang penahanan mantan Wakil Menteri Ketenagakerjaan Immanuel Ebenezer
11 September 2025 11:54 WIB