Bagir Manan: Ada tiga kriteria pers sehat
Jumat, 7 Februari 2014 14:49 WIB
Bagir Manan (FOTO ANTARA)
Bengkulu (ANTARA Sumsel) - Ketua Dewan Pers Bagir Manan mengatakan ada tiga kriteria yang harus dimiliki media massa atau pers, sehingga dapat dikatakan pers sehat.
Ia mengemukakan itu saat menjadi pemateri dalam lokakarya Hari Pers Nasional 2014 di Universitas Bengkulu, Jumat.
Tema lokakarya yang diikuti insan pers dan mahasiswa tersebut yakni "Mewujudkan Indonesia informatif melalui literasi media dalam membaca berita kampanye pemilu dan manfaat media sosial".
Pers sehat kata dia harus merdeka atau bebas dari intervensi. Jika ada pihak yang membatasi media maka bertentangan dengan prinsip kebebasan pers.
Kriteria kedua yakni harus profesional dengan menganut unsur-unsur integritas, pengetahuan yang luas dan nilai-nilai kode etik yang ditaati.
"Sedangkan kriteria ketiga adalah media massa harus komitmen terhadap sifat alamiah dimana pers merupakan institusi sosial dan kedepankan kepentingan publik," ucapnya, menerangkan.
Menurutnya, politisi yang memiliki media massa tidak menjadi persoalan sepanjang prinsip-prinsip jurnalistik dipertahankan.
Meski demikian, menurutnya politik tidak bisa dipisahkan dari kepentingan atau media massa yang lebih mengutamakan fungsi ekonomi sehingga mengabaikan nilai-nilai jurnalistik.
Ia menambakan bahwa pers di daerah juga mampu memberi warna dalam mencerdaskan masyarakat dan tidak terpaku pada induk media tersebut di pusat.
Terkait keberadaan media sosial menurutnya sangat bagus untuk memperluas partisipasi masyarakat dalam berkomunikasi, sehingga muncul istilah jurnalisme warga atau "citizen jurnalism".
"Keunggulan lain dari media sosial adalah kecepatan. Namun, ada masalah dalam pertanggungjawaban jurnalistik dan hukum," tuturnya.
Media sosial kata dia tidak diikat dalam prinsip-prinsip jurnalisme, sehingga ini menjadi kelemahannya.
Sementara pakar komunikasi politik dari Universitas Bengkulu Lamhir Syam Sinaga berpendapat tema yang diangkat dalam HPN 2014 yakni "Pers Sehat Rakyat Berdaulat" sangat tepat.
"Karena kondisi pers saat ini banyak yang belum sehat sehingga harus ada perbaikan," katanya.
Menurutnya pers sehat adalah pers tidak merusak perasaan kalangan tertentu, tidak mengganggu ketertiban dan keamanan.
Selain itu menurutnya pers sehat adalah pers yang tidak menyebarluaskan kebencian dan tendensius.
"Media lokal dan nasional masih banyak yang menebar kebencian dan pemberitaan yang tendensius serta tidak berimbang," ujarnya.
Ia mengemukakan itu saat menjadi pemateri dalam lokakarya Hari Pers Nasional 2014 di Universitas Bengkulu, Jumat.
Tema lokakarya yang diikuti insan pers dan mahasiswa tersebut yakni "Mewujudkan Indonesia informatif melalui literasi media dalam membaca berita kampanye pemilu dan manfaat media sosial".
Pers sehat kata dia harus merdeka atau bebas dari intervensi. Jika ada pihak yang membatasi media maka bertentangan dengan prinsip kebebasan pers.
Kriteria kedua yakni harus profesional dengan menganut unsur-unsur integritas, pengetahuan yang luas dan nilai-nilai kode etik yang ditaati.
"Sedangkan kriteria ketiga adalah media massa harus komitmen terhadap sifat alamiah dimana pers merupakan institusi sosial dan kedepankan kepentingan publik," ucapnya, menerangkan.
Menurutnya, politisi yang memiliki media massa tidak menjadi persoalan sepanjang prinsip-prinsip jurnalistik dipertahankan.
Meski demikian, menurutnya politik tidak bisa dipisahkan dari kepentingan atau media massa yang lebih mengutamakan fungsi ekonomi sehingga mengabaikan nilai-nilai jurnalistik.
Ia menambakan bahwa pers di daerah juga mampu memberi warna dalam mencerdaskan masyarakat dan tidak terpaku pada induk media tersebut di pusat.
Terkait keberadaan media sosial menurutnya sangat bagus untuk memperluas partisipasi masyarakat dalam berkomunikasi, sehingga muncul istilah jurnalisme warga atau "citizen jurnalism".
"Keunggulan lain dari media sosial adalah kecepatan. Namun, ada masalah dalam pertanggungjawaban jurnalistik dan hukum," tuturnya.
Media sosial kata dia tidak diikat dalam prinsip-prinsip jurnalisme, sehingga ini menjadi kelemahannya.
Sementara pakar komunikasi politik dari Universitas Bengkulu Lamhir Syam Sinaga berpendapat tema yang diangkat dalam HPN 2014 yakni "Pers Sehat Rakyat Berdaulat" sangat tepat.
"Karena kondisi pers saat ini banyak yang belum sehat sehingga harus ada perbaikan," katanya.
Menurutnya pers sehat adalah pers tidak merusak perasaan kalangan tertentu, tidak mengganggu ketertiban dan keamanan.
Selain itu menurutnya pers sehat adalah pers yang tidak menyebarluaskan kebencian dan tendensius.
"Media lokal dan nasional masih banyak yang menebar kebencian dan pemberitaan yang tendensius serta tidak berimbang," ujarnya.
Pewarta : Pewarta : Helti Marini Sipayung
Editor : AWI-SEO&Digital Ads
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Sumsel tetap tak izinkan angkutan batu bara pemasok PLTU Bengkulu melintas
28 January 2026 20:45 WIB
Gubernur Sumsel Herman Deru pertimbangkan diskresi angkutan batu bara PLTU Bengkulu
23 January 2026 18:44 WIB
Pertamina Lubricants Resmikan Bengkel Sahabat Nelayan di Kampung Bahari Bengkulu
14 January 2026 12:11 WIB
PLN Sumsel, Jambi dan Bengkulu siagakan 3.393 personel jaga keandalan listrik di akhir tahun
09 December 2025 8:30 WIB
Terpopuler - Polhukam
Lihat Juga
Ombudsman Sumsel buka gerai pengaduan di Sungsang Banyuasin, dekatkan layanan ke warga pesisir
09 March 2026 20:47 WIB
Profil Mojtaba Khamenei, pemimpin tertinggi ketiga Iran penerus Ali Khamenei
09 March 2026 12:57 WIB