
KPAI: "Perang sarung" puncak gunung es krisis ruang bermain anak

Jakarta (ANTARA) - Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyebutkan bahwa fenomena "perang sarung" pada bulan Ramadhan merupakan puncak gunung es dari krisis ruang bermain, lemahnya pengawasan, dan gagalnya lingkungan memfasilitasi kebutuhan pemenuhan hak anak.
"Fenomena 'perang sarung' yang marak, bahkan hingga merenggut nyawa dan menyebabkan gegar otak bukanlah sekadar kenakalan remaja biasa. Ini adalah sinyal darurat dari krisis ruang bermain, lemahnya pengawasan, dan gagalnya lingkungan memfasilitasi energi anak-anak kita," kata Wakil Ketua KPAI Jasra Putra saat dihubungi, di Jakarta, Senin.
Menurut dia, "perang sarung" umumnya terjadi di perkampungan padat penduduk.
"Pada saat lahan-lahan luas telah berubah menjadi pabrik atau area parkir, ruang gerak anak menjadi sangat sempit. Akibatnya, ketika Ramadhan tiba dan anak-anak memiliki alasan untuk keluar rumah pada malam hari, mereka berlari mencari ruang seluas-luasnya untuk berekspresi," kata Jasra Putra.
Ia mengatakan bahwa negara sebenarnya telah menjamin hak pemenuhan waktu luang anak yang tertuang pada Klaster 4 Pemenuhan Hak Anak dalam Kabupaten/Kota Layak Anak (KLA), namun implementasinya di lapangan masih membutuhkan dukungan anggaran dan rekayasa lingkungan yang sistematis.
Sebelumnya polisi menggagalkan aksi "perang sarung" di Surabaya, Jawa Timur, Sabtu (28/2) dengan mengamankan 16 anak.
Sementara di Kabupaten Garut, Jawa Barat, Minggu (1/3), polisi membubarkan paksa sekelompok masyarakat yang melakukan "perang sarung".
Di Ponorogo, Jawa Timur, polisi melakukan razia di kawasan Alun-Alun Ponorogo untuk mencegah "perang sarung" dan balap liar.
Kemudian di Bantul, DIY, Senin, polisi menggelar patroli subuh untuk mencegah "perang sarung" dan petasan.
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: KPAI: "Perang sarung" puncak gunung es krisis ruang bermain anak
Pewarta: Anita Permata Dewi
Uploader: Aang Sabarudin
COPYRIGHT © ANTARA 2026
