Logo Header Antaranews Sumsel

YPKP: biasakan baca label makanan yang dikonsumsi

Sabtu, 24 November 2018 20:12 WIB
Image Print
Arsip - Sidak Mie Impor Tanpa Label Halal Wakil Walikota Palembang Fitrianti Agustinda (kedua kiri) memeriksa mie instan impor yang dijual di salah satu pusat perbelanjaan yang ada di Palembang, Sumatera Selatan, Selasa (24/1). Inspeksi mendadak tersebut guna mengantisipasi peredaran mie instan impor asal Korea dan China yang belum memiliki label halal dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan diduga mengandung lemak dan daging babi, seperti ditemukan di wilayah Madura dan beberapa daerah lain. (Antarasumsel.com/Nova Wahyudi/)

Jakarta (ANTARA News Sumsel) - Yayasan Pemerhati Kesehatan Publik (YPKP) mengimbau kepada masyarakat untuk membiasakan membaca label pada kemasan makanan yang dikonsumsi untuk mengetahui kandungan gizi.

Dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Sabtu, peneliti YPKP Amaliya mengimbau masyarakat sebagai konsumen lebih cerdas serta tanggap terhadap literasi nutrisi yang terkandung pada setiap makanan yang dikonsumsi.

Hal ini sejalan dengan Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Nomor 31 Tahun 2018 tentang Label Pangan Olahan yang baru dirilis akhir Oktober lalu.

Aturan tersebut memperkuat Peraturan Kepala BPOM Nomor 21 tahun 2016 tentang Kategori Pangan yang menjelaskan kandungan berbagai produk pangan, termasuk susu.

YPKP memberikan perhatian lebih pada kasus malnutrisi dan peningkatan tren penyakit tidak menular.

Menurut Amaliya, persoalan kesehatan tersebut terutama disebabkan gaya hidup seperti kurangnya aktivitas fisik, sanitasi yang buruk, dan asupan gizi yang tidak seimbang. Semua faktor harus menjadi perhatian dan diselesaikan secara komprehensif.

Dibandingkan tahun 2013, data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 mencatat masyarakat Indonesia yang menerapkan gaya hidup tidak aktif (sedentari) naik dari 26,1 persen menjadi 33,5 persen.

Sementara persoalan gizi buruk akibat malnutrisi mulai mengalami perbaikan. Proporsi status stunting atau kerdil turun dari 37,2 persen menjadi 30,8 perseb. Demikian juga proporsi status gizi buruk dan gizi kurang berkurang dari 19,6 perseb menjadi 17,7 persen.

“Masyarakat perlu sadar betapa pentingnya memerhatikan gaya hidup dan kandungan nutrisi seimbang di setiap asupan yang masuk ke dalam tubuh. Untuk memenuhi gizi masyarakat, susu dan produk olahannya menjadi salah satu sumber gizi yang memiliki peranan penting,” ujar Amaliya.

Khusus mengenai asupan gizi seimbang, Amaliya menjelaskan, susu memiliki berbagai kandungan nutrisi antara lain protein, lemak, dan vitamin yang sangat dibutuhkan untuk mendukung perkembangan seseorang dalam setiap tahap kehidupan dari anak-anak hingga dewasa.



Pewarta:
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026