
Orang miskin (tidak) dilarang kuliah (2)

"Kadang aku berpikir, apa aku bisa kuliah dengan beasiswa penuh? Aku anak seorang buruh dan penjual makanan keliling, apa aku bisa menjadi sarjana?," tutur Hudha Abdul Rohman.
Huda adalah salah satu dari 750 penerima program Bidik Misi (beasiswa pendidikan miskin berprestasi) tahun 2011 yang menempuh studi di Universitas Airlangga (Unair) Surabaya.
"Aku sadar betul dengan kemampuan ekonomi orang tua, apalagi bapak dan ibuku pernah berkata bahwa mereka hanya sanggup membiayai sekolahku hingga SMA," ujar anak pertama dari empat bersaudara dari Sukoharjo, Surakarta itu.
Dalam lintasan pikirannya, ia sempat ingin menempuh studi di UI, tapi orang tua melarang kuliah di Jakarta. Berikutnya, terlintas mimpi untuk kuliah di PTN di Kota Solo, tapi nilai matematika tidak mendukungnya.
"Aku pun putus asa. Ya, hanya lulus SMA rasanya cukup sudah untukku. Tapi, ada seorang teman yang mendorongku untuk mencari informasi dari internet, apalagi aku sudah menabung sejak kelas X, uang dari hadiah lomba, honor menulis, dan mengajar les," jelasnya.
Sambil menunggu hasil tes masuk di UGM, penerima Bidik Misi di Jurusan Sastra Indonesia (S1) Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Unair, itu melakukan antisipasi dengan mendaftar lewat Bidik Misi di Unair dan juga mendaftar ke APN (Akademi Pelayaran Nasional).
"Sekolahku pernah menerima kedatangan kakak-kakak dari ITS dan Unair yang menyosialisasikan Bidik Misi, ternyata Unair-lah yang memberi kesempatan bagi siswa sepertiku yang memiliki prestasi non-akademik," tandasnya.
Akhirnya, peraih juara 3 LKTI se-Jateng itu bersama dua rekannya lolos seleksi administrasi, dan harus mengikuti tes PMDK-Prestasi di Unair.
"Ya, setela mengubur namaku di UI dan UNS, saya bergegas meminjam 'laptop' teman untuk melihat pengumumam dengan mengakses laman Unair. Alhamdulillah, aku diterima," ungkapnya.
Ia pun bersyukur bisa kuliah gratis di Unair. "Aku membuktikan kepada orang tuaku bahwa aku bisa membanggakan mereka dengan kuliah tanpa membebani mereka. Aku juga membuktikan, nilai rapor dan peringkat memang penting, tapi kemampuan non-akademik juga menolong," paparnya.
Asumsi Hudha itu dibenarkan Direktur Kemahasiswaan Unair Prof Imam Mustofa. Menurut dia, mahasiswa Bidik Misi itu memang diberikan dengan dua syarat yakni miskin dan berprestasi, baik prestasi akademik maupun nonakademik.
"Sebenarnya, Bidik Misi itu berawal dari ide Unair yang memberlakukan beasiswa total bagi mahasiswa miskin, tapi berprestasi sejak tahun 2009. Itu semacam kepedulian lembaga pendidikan kepada masyarakat miskin," tukasnya.
Saat itu (2009), Unair membebaskan biaya studi bagi 35 mahasiswa miskin dan berprestasi. "Mungkin dianggap baik, maka sejak tahun 2010 dijadikan program nasional oleh pemerintah. Penerimanya tidak membayar sama sekali sejak mendaftar hingga kuliah, bahkan ada biaya hidup per bulan," paparnya.
Bukan miskin cita-cita
Rasanya sulit dibayangkan, Dwi Ernawati mempertahankan untuk bisa sekolah SMA dengan berjualan hasil kebun, atau menjadi tukang setrika pada tetangga. Terkadang mengasuh anak tetangga atau memupuk sawah milik orang.
"Ya, berat tapi harus! Ayahku hanya buruh tani yang hasilnya hanya cukup untuk makan sehari-hari, sedangkan ibuku mempunyai penyakit kejang sejak aku lahir yang jika terlalu berat bekerja akan kambuh," tuturnya.
Bila sekolah di SMA saja sudah terasa berat, maka melanjutkan studi ke universitas ibarat pungguk merindukan bulan, apalagi biaya pendaftaran masuk perguruan tinggi negeri (PTN) saat itu cukup mahal.
Namun, sewaktu melakukan "browsing" di internet, ia membaca tentang beasiswa masuk universitas yang namanya Bidik Misi, sehingga semangatnya pun membara, apalagi orang tuanya juga mendukung, meski mereka hanya mampu mendukung dengan doa. Ya, memang hanya itu yang mereka punya.
"Aku pun menyiapkan berkas untuk program itu di Unair, namun hanya aku dan orang tuaku yang tahu, karena aku tak mau dibilang orang miskin yang terlalu banyak berharap," tukas alumni SMAN 1 Pulung, Ponorogo itu.
Cobaan seakan tak berhenti, ibunya opname di rumah sakit di saat menjelang UN, maka ia pun sulit belajar, karena pikirannya bercampur aduk, apalagi saat UN tinggal selangkah justru Tuhan berkehendak lain, karena tepat 2 Maret 2010, ibunya mengembuskan napas yang terakhir.
"Semuanya pun kacau saat itu, karena ibu merupakan suporter utama dalam hidupku. Kedatangan sanak saudara dan teman-temanku tak bisa menutupi rasa kehilangan itu. Rasanya, ibu hanya pergi sebentar, bukan untuk selamanya," ujar mahasiswi kelahiran Ponorogo pasa 27 Mei 1992 itu.
Satu minggu berlalu, ada seorang sahabat datang ke rumahnya. Dia datang untuk menasihatinya agar segera meninggalkan kesedihan yang menyelimutinya. Ia pun tak ingin ibunya menyaksikan kesedihan dirinya, maka ia pun harus mengejar ketertinggalan UN yang tinggal seminggu lagi.
"Aku bersyukur, saat UN usai, surat dari Unair datang. Mungkin ini adalah jawaban awal dari Tuhan, maka aku pun mempersiapkan sisa tenaga yang ada untuk mengikuti ujian masuk PMDK Prestasi Unair," papar mahasiswi yang sering masuk 'lima besar' saat SMA itu.
Namun lagi-lagi, jadwal tes itu bersamaan dengan peringatan 40 hari kepergian ibuku. Ia pun terpaksa mendoakan ibunya dari Asrama Haji Sukolilo Surabaya yang menjadi tempat menginap penerima beasiswa sebelum tes beasiswa masuk Unair (BMU) itu.
"Alhamdulillah, konsentrasiku mengikuti tes dalam kesedihan ternyata tidak sia-sia, aku diterima di Fakultas Perikanan dan Kelautan Unair. Aku harus berjuang lebih keras lagi sebagai rasa terima kasihku kepada ayah, ibu, saudara, teman, dan Unair yang mengorbankan semuanya untukku," ucapnya.
Ya, pengorbanan, semangat, dan kerja keras itu pula yang sudah dibuktikan sendiri oleh Mendikbud Prof Dr Ir H Mohammad Nuh DEA. "Saya 10 bersaudara, ayah saya seorang petani yang nggak lulus SD, ayah pernah jualan kerupuk dan es, tapi malamnya ayah banyak berdoa," timpalnya.
Oleh karena itu, ia berpendapat orang harus mempunyai cita-cita, karena orang yang mempunyai cita-cita itulah yang akan memiliki masa depan. "Orang boleh miskin, tapi orang miskin tidak boleh kehilangan masa depan," katanya.
(ANT-E011/C004)
Pewarta: Edy M Yakub
Editor: AWI-SEO&Digital Ads
COPYRIGHT © ANTARA 2026
