Muara Enim (ANTARA) - Sebanyak 19 kecamatan di Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan dipetakan rawan rawan terjadi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) saat musim kemarau panjang.
Kepala Pelaksana BPBD Muara Enim Abdurrozieq Putra saat dihubungi dari Baturaja, Jumat mengatakan bahwa menghadapi musim kemarau panjang tahun ini pemerintah daerah setempat telah menetapkan status siaga darurat karhutla.
Dia mengatakan, penetapan status tersebut sebagai upaya pencegahan dan penanggulangan sedini mungkin terhadap peristiwa karhutla yang berlaku selama 123 hari terhitung mulai 1 Mei hingga 31 Agustus 2026.
Dalam penetapan status tersebut pihaknya telah memetakan sebanyak 19 kecamatan di daerah itu rawan terjadi karhutla.
Daerah rawan karhutla tersebut meliputi Kecamatan Muara Belida, Gelumbang, Lawang Kidul, Tanjung Agung, Belida Darat, Kelekar, Lembak, Lubai, Lubai Ulu, dan Rambang.
Kemudian, Kecamatan Empat Petulai Dangku, Belimbing, Gunung Megang, Ujan Emas, Panang Enim, Sungai Rotan, Semende Darat Ulu, Semende Darat Tengah, dan Semende Darat Laut.
Dia menjelaskan, daerah-daerah ini dipetakan rawan terjadi karhutla karena masih banyak terdapat lahan gambut dan organik serta dekat dengan lokasi pertambangan yang mudah terbakar saat kemarau panjang melanda.
"Berdasarkan data sepanjang 2024 hingga 2025 tercatat sekitar 40 hektare lahan terbakar dengan titik hotspot terbanyak berada di Kecamatan Gelumbang," katanya.
Terkait hal itu, masyarakat diimbau untuk menghindari kegiatan yang dapat memicu terjadinya karhutla seperti membuka lahan pertanian dengan cara dibakar karena berpotensi menimbulkan bencana kabut asap.
Sebagai upaya penanggulangan, pihaknya mengaktifkan kembali posko di setiap kecamatan di Kabupaten Muara Enim yang diisi oleh personel BPBD dibantu masyarakat peduli api untuk siaga memantau titik panas yang berpotensi menimbulkan karhutla.
"Posko penanggulangan bencana ini diaktifkan kembali agar peristiwa karhutla dapat ditanggulangi sedini mungkin," ujarnya.