Alat pendeteksi residu pestisida segera dipasarkan
Rabu, 25 April 2018 11:46 WIB
Petani nyemprot tanaman padi untuk mencegah hama. (Ist)
Jakarta (ANTARA News Sumsel) - Alat "portable" pendeteksi residu pestisida pada tanaman sayuran dan pangan rampung dirakit oleh Badan Litbang Pertanian dan segera dilepas ke pasar.
Kepala Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian Prof. Dr Dedi Nursyamsi, M Agr di Jakarta, Rabu, mengatakan dengan alat tersebut residu pestisida dapat dideteksi dalam waktu 5 menit. "Dulu deteksi residu harus dikirim ke laboratorium berlisensi yang butuh berminggu-minggu" katanya.
Ia mengatakan, alat tersebut disebut perangkat uji residu pestisida (PURP) yang dapat menguji langsung di lapangan. "Prinsipnya alat tersebut cepat, murah, dan praktis sehingga bisa dibawa kemana-mana," kata Dedi. Menurut Dedi alat tersebut dapat mendeteksi residu seperti organoklorin yang bersifat karsinogenik. Sementara menurut Kepala Laboratorium Residu Bahan Agrokimia, Eman Sulaeman, alat tersebut dapat menggantikan 2 alat sebelumnya sekaligus yaitu gas chromatogtraphy (GC) dan high performance liquid chromatography (HPLC)). "PURP dapat bekerja jauh lebih cepat dari alat GC dan HPLC dalam menganalisis residu pestisida," katanya.
PURP seukuran telepon genggam dengan harga jual yang direncanakan berkisar Rp15 juta, dinilai cocok bagi petani, aparat pertanian, bahkan ibu rumah tangga. "Aparat pertanian seperti penyuluh dapat manfaatkan alat ini untuk deteksi residu," katanya. Kepala Balai Penelitian Lingkungan Pertanian Pati Dr Asep Nugraha menyatakan alat tersebut merupakan hasil perjalanan panjang penelitian sejak 2011. "Prinsip kerja alat tersebut berdasarkan tahanan atau resisten (R). Setiap unsur atau senyawa memiliki tahanan yang spesifik," kata Asep. PURP mampu menganalisis residu pestisida antara lain organoklorin (aldrin, dieldrin, toksafen, DDT, heptaklor, endrin, klordan, BHC, endosulfan) dan organofosfat (klorpirifos, diazinon, diklorvos, klorfenvinfos, metamidofos, monokrotofos) pada tanah, air, pangan, dan sayuran.
"Alat PURP didisain sangat praktis, cukup dua tombol. Tombol menghidupkan dan mematikan alat serta tombol pembacaan hasil analisis," kata Asep.
Kepala Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian Prof. Dr Dedi Nursyamsi, M Agr di Jakarta, Rabu, mengatakan dengan alat tersebut residu pestisida dapat dideteksi dalam waktu 5 menit. "Dulu deteksi residu harus dikirim ke laboratorium berlisensi yang butuh berminggu-minggu" katanya.
Ia mengatakan, alat tersebut disebut perangkat uji residu pestisida (PURP) yang dapat menguji langsung di lapangan. "Prinsipnya alat tersebut cepat, murah, dan praktis sehingga bisa dibawa kemana-mana," kata Dedi. Menurut Dedi alat tersebut dapat mendeteksi residu seperti organoklorin yang bersifat karsinogenik. Sementara menurut Kepala Laboratorium Residu Bahan Agrokimia, Eman Sulaeman, alat tersebut dapat menggantikan 2 alat sebelumnya sekaligus yaitu gas chromatogtraphy (GC) dan high performance liquid chromatography (HPLC)). "PURP dapat bekerja jauh lebih cepat dari alat GC dan HPLC dalam menganalisis residu pestisida," katanya.
PURP seukuran telepon genggam dengan harga jual yang direncanakan berkisar Rp15 juta, dinilai cocok bagi petani, aparat pertanian, bahkan ibu rumah tangga. "Aparat pertanian seperti penyuluh dapat manfaatkan alat ini untuk deteksi residu," katanya. Kepala Balai Penelitian Lingkungan Pertanian Pati Dr Asep Nugraha menyatakan alat tersebut merupakan hasil perjalanan panjang penelitian sejak 2011. "Prinsip kerja alat tersebut berdasarkan tahanan atau resisten (R). Setiap unsur atau senyawa memiliki tahanan yang spesifik," kata Asep. PURP mampu menganalisis residu pestisida antara lain organoklorin (aldrin, dieldrin, toksafen, DDT, heptaklor, endrin, klordan, BHC, endosulfan) dan organofosfat (klorpirifos, diazinon, diklorvos, klorfenvinfos, metamidofos, monokrotofos) pada tanah, air, pangan, dan sayuran.
"Alat PURP didisain sangat praktis, cukup dua tombol. Tombol menghidupkan dan mematikan alat serta tombol pembacaan hasil analisis," kata Asep.
Pewarta : Hanni Sofia
Editor : Aang Sabarudin
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Profil alat pendeteksi banjir di Sungai Ulu Ogan, ini penjelasannya
13 December 2024 23:00 WIB, 2024
Mahasiswa UGM ciptakan jaket pendeteksi kecelakaan lalu lintas bagi pengguna sepeda motor
09 September 2022 4:52 WIB, 2022
Pendeteksi kebangkrutan bank di Indonesia antarkan Taufiq Hidayat raih doktor Unpad
08 February 2022 17:16 WIB, 2022
Terpopuler - Info Bisnis
Lihat Juga
Kopi Tebat Benawa, saat tradisi dan inovasi Pusri bertemu di kaki Gunung Dempo
22 April 2026 16:45 WIB