Mamanda, teater rakyat yang mulai ditinggalkan
Kamis, 24 Oktober 2013 15:42 WIB
Pagelaran teater tradisional "Mamanda" asal Kalsel. (teatermamanda.blogspot.com/)
Dengan setengah berlari, tiga lelaki tegap keluar dari belakang panggung, menuju arah pentas dan mengambil posisinya masing-masing.
Berdiri membentuk segitiga, mereka mulai berdialog. Tak ketinggalan, mereka pun berbagi peran masing-masing. Ada yang memerankan saudara pertama, saudara kedua, dan saudara ketiga. Setiap awal percakapan, selalu dimulai dengan menyebut peran masing-masing. Kaki dan tangan luwes bergerak, seperti menari ditempat.
Ya, mereka adalah para peladon yang bertugas membuka pertunjukan Mamanda. Teater rakyat yang berasal dari daratan Kalimantan.
Penasihat Sanggar Panji Berseri Ahmad Rusli mengatakan sesi baladon yang dibawakan para peladon itu, semacam pendahuluan atau salam pembukaan.
"Semacam berbalas pantun antara saudara pertama, kedua dan ketiga," kata Rusli usai mementaskan Mamanda, Minggu malam.
Saat tampil, peladon mengenakan baju raja dan celana panjang tanpa mengenakan tutup kepala.
Usai peladon tampil, latar belakang panggung pun berubah. Ada singasana raja beserta pernak-perniknya. Tak ketinggalan, raja beserta permaisurinya pun keluar.
Kali ini, bercerita mengenai Kerajaan Sadewi yang raib beserta dengan raja-rajanya. Ceritanya, Kerajaan Sadewi dengan Raja Anggasora dan Kerajaan Martakerawang dengan rajanya Sri Raja Mahasakti.
Pada mulanya kedua kerajaan tersebut bersahabat, namun pada suatu kesempatan Anggasora terjadi perselisihan dan Sri Raja Mahasakti tewas ditangan Anggasora.
Tak terima dengan kejadian itu, Pangeran Kerajaan Martakerawang Aryakemuning membalas dendam dan berhasil. Dengan kondisi perut ditusuk senjata tajam, Anggasora pulang ke istana dan tak berapa lama kemudian istana dan isi-isinya raib beserta Anggasora.
Yah, itulah cuplikan dari Mamanda, teater rakyat di daerah Kalimantan. Tepatnya di Kutai Kertanegara.
Rusli yang menekuni seni drama itu menjelaskan Mamanda mempunyai arti ibu. Kesenian ini serupa dengan Lenong dari Jakarta, Mak Yong dari Kepulauan Riau, Ludruk dari Jawa Timur, maupun Randai dari Sumatera Barat.
Sindiran
Mamanda lebih banyak bercerita mengenai kehidupan kerajaan pada masa lalu. Isi ceritanya, hampir 100 persen adalah fiksi karangan sutradaranya.
"Tidak ada menghafal skenario, semuanya kepandaian (improvisasi) dari pemainnya," kata Rusli.
Selain berisi cerita mengenai kerajaan, Mamanda juga jadi ajang bagi pemainnya untuk menyindir pemerintah setempat. Sindiran halus melalui media seni.
Sindiran dimasukkan dalam dialog antara raja dan hulubalangnya. Di Mamanda, hulubalang disebut dengan pahlawan.
"Misalnya menyindir jalan yang rusak ataupun sampah yang berserakan dimana-mana," tambah lelaki 58 tahun itu.
Dulunya Mamanda merupakan kesenian yang bergengsi, selalu ditampilkan di depan Sultan ketika ada Erau atau hari ulang tahun Kota Tenggarong. Ataupun ketika ada hajatan.
Namun seiring perkembangan zaman, Mamanda mulai dilupakan. Acara pernikahan lebih banyak diisi orkes dangdut daripada Mamanda.
"Baru kali ini, kami manggung sejak tiga tahun yang lalu."
Selain mulai ditinggalkan, pelaku seni juga banyak yang mangkat.Setidaknya hanya ada beberapa orang yang menekuninya.Nasibnya sama dengan Bahasa Kutai yang mulai punah.
"Sangat menyedihkan," katanya singkat.
Selain itu, seni tersebut juga banyak mengalami pembaharuan seiring dengan berkembangnya zaman, seperti durasi maupun alur cerita.
"Kalau dulu, lama tampil itu sekitar dua hingga dua setengah jam. Sekarang, satu jam saja orang sudah bosan," keluhnya.
Seorang pemain Mamanda, Maulida (19), mengaku dirinya turut ikut berperan dalam Mamanda karena kecintaannya pada seni drama tersebut.
"Memang jarang dipentaskan, yang bisa pun tidak banyak," kata Maulida.
Meski Mamanda menarik, seorang penikmat seni Andara = mengatakan terlalu banyak dialog yang diulang-ulang sehingga membuat penonton bosan.
"Alur ceritanya juga lambat. Penonton bosan jadinya," kata Andara.
Rekonstruksi Ulang
Melihat semakin dilupakannya kesenian tersebut, Pemerintah Kabupaten Kutai Kertanegara melakukan rekonstruksi seni drama Mamanda dan tari Jepen yang mulai terancam punah.
"Kami merekonstruksi seni lokal yang ada di Kutai Kertanegara," ujar Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Kutai Kertanegara Sri Wahyuni.
Rekonstruksi seni lokal tersebut, lanjut Sri, ditampilkan dalam Festival Kota Raja II yang dimulai pada tanggal 28 September hingga 28 Oktober 2013.
Seni drama Mamanda, lanjut Sri, sama dengan seni drama Ludruk di Jawa atau Lenong di Jakarta. Seni Mamanda dalam pertunjukannya berinteraksi dengan penonton.
"Pada Mamanda menceritakan kehidupan kerajaan, tetapi kadang-kadang ada sindiran buat pemerintah, pun ada pesan moral yang disampaikan," jelas Sri
Selain seni budaya, kata Sri Wahyuni, Pemerintah Kutai Kertanegara juga telah menggelar pentas seni nusantara yang merupakan paguyuban dari semua daerah. Untuk seni budaya kontemporer, ada festival film pendek, karnaval, dan lampion.
Ketua Yayasan Total Indonesia Edi Mulyadi mengatakan bahwa Total E&P Indonesie melalui Yayasan Total Indonesia mempunyai kepedulian terhadap seni budaya tradisional, khususnya seni budaya Kutai Kertanegara.
"Untuk tahun ini, kami menganggarkan sebesar Rp8 miliar untuk pelestarian budaya lokal," ujar Eddy.
Eddy mengatakan berbagai budaya yang turut dilestarikan dan direkontruksi seperti seni teater mamanda, tari jepen, wayang, kuda bepang, hingga tarsul.
"Selain memberikan dana bagi sanggar dan pelaku seni untuk membantu pelestariannya, kami juga membukukannya sehingga tidak hilang," lanjut Eddy.
Buku-buku tersebut diberikan kepada sekolah-sekolah sebagai acuan atau referensi pelajaran muatan lokal. Dengan demikian, kata Eddy, ada dokumentasi dari seni tersebut sehingga tidak akan punah digerus zaman.
Berdiri membentuk segitiga, mereka mulai berdialog. Tak ketinggalan, mereka pun berbagi peran masing-masing. Ada yang memerankan saudara pertama, saudara kedua, dan saudara ketiga. Setiap awal percakapan, selalu dimulai dengan menyebut peran masing-masing. Kaki dan tangan luwes bergerak, seperti menari ditempat.
Ya, mereka adalah para peladon yang bertugas membuka pertunjukan Mamanda. Teater rakyat yang berasal dari daratan Kalimantan.
Penasihat Sanggar Panji Berseri Ahmad Rusli mengatakan sesi baladon yang dibawakan para peladon itu, semacam pendahuluan atau salam pembukaan.
"Semacam berbalas pantun antara saudara pertama, kedua dan ketiga," kata Rusli usai mementaskan Mamanda, Minggu malam.
Saat tampil, peladon mengenakan baju raja dan celana panjang tanpa mengenakan tutup kepala.
Usai peladon tampil, latar belakang panggung pun berubah. Ada singasana raja beserta pernak-perniknya. Tak ketinggalan, raja beserta permaisurinya pun keluar.
Kali ini, bercerita mengenai Kerajaan Sadewi yang raib beserta dengan raja-rajanya. Ceritanya, Kerajaan Sadewi dengan Raja Anggasora dan Kerajaan Martakerawang dengan rajanya Sri Raja Mahasakti.
Pada mulanya kedua kerajaan tersebut bersahabat, namun pada suatu kesempatan Anggasora terjadi perselisihan dan Sri Raja Mahasakti tewas ditangan Anggasora.
Tak terima dengan kejadian itu, Pangeran Kerajaan Martakerawang Aryakemuning membalas dendam dan berhasil. Dengan kondisi perut ditusuk senjata tajam, Anggasora pulang ke istana dan tak berapa lama kemudian istana dan isi-isinya raib beserta Anggasora.
Yah, itulah cuplikan dari Mamanda, teater rakyat di daerah Kalimantan. Tepatnya di Kutai Kertanegara.
Rusli yang menekuni seni drama itu menjelaskan Mamanda mempunyai arti ibu. Kesenian ini serupa dengan Lenong dari Jakarta, Mak Yong dari Kepulauan Riau, Ludruk dari Jawa Timur, maupun Randai dari Sumatera Barat.
Sindiran
Mamanda lebih banyak bercerita mengenai kehidupan kerajaan pada masa lalu. Isi ceritanya, hampir 100 persen adalah fiksi karangan sutradaranya.
"Tidak ada menghafal skenario, semuanya kepandaian (improvisasi) dari pemainnya," kata Rusli.
Selain berisi cerita mengenai kerajaan, Mamanda juga jadi ajang bagi pemainnya untuk menyindir pemerintah setempat. Sindiran halus melalui media seni.
Sindiran dimasukkan dalam dialog antara raja dan hulubalangnya. Di Mamanda, hulubalang disebut dengan pahlawan.
"Misalnya menyindir jalan yang rusak ataupun sampah yang berserakan dimana-mana," tambah lelaki 58 tahun itu.
Dulunya Mamanda merupakan kesenian yang bergengsi, selalu ditampilkan di depan Sultan ketika ada Erau atau hari ulang tahun Kota Tenggarong. Ataupun ketika ada hajatan.
Namun seiring perkembangan zaman, Mamanda mulai dilupakan. Acara pernikahan lebih banyak diisi orkes dangdut daripada Mamanda.
"Baru kali ini, kami manggung sejak tiga tahun yang lalu."
Selain mulai ditinggalkan, pelaku seni juga banyak yang mangkat.Setidaknya hanya ada beberapa orang yang menekuninya.Nasibnya sama dengan Bahasa Kutai yang mulai punah.
"Sangat menyedihkan," katanya singkat.
Selain itu, seni tersebut juga banyak mengalami pembaharuan seiring dengan berkembangnya zaman, seperti durasi maupun alur cerita.
"Kalau dulu, lama tampil itu sekitar dua hingga dua setengah jam. Sekarang, satu jam saja orang sudah bosan," keluhnya.
Seorang pemain Mamanda, Maulida (19), mengaku dirinya turut ikut berperan dalam Mamanda karena kecintaannya pada seni drama tersebut.
"Memang jarang dipentaskan, yang bisa pun tidak banyak," kata Maulida.
Meski Mamanda menarik, seorang penikmat seni Andara = mengatakan terlalu banyak dialog yang diulang-ulang sehingga membuat penonton bosan.
"Alur ceritanya juga lambat. Penonton bosan jadinya," kata Andara.
Rekonstruksi Ulang
Melihat semakin dilupakannya kesenian tersebut, Pemerintah Kabupaten Kutai Kertanegara melakukan rekonstruksi seni drama Mamanda dan tari Jepen yang mulai terancam punah.
"Kami merekonstruksi seni lokal yang ada di Kutai Kertanegara," ujar Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Kutai Kertanegara Sri Wahyuni.
Rekonstruksi seni lokal tersebut, lanjut Sri, ditampilkan dalam Festival Kota Raja II yang dimulai pada tanggal 28 September hingga 28 Oktober 2013.
Seni drama Mamanda, lanjut Sri, sama dengan seni drama Ludruk di Jawa atau Lenong di Jakarta. Seni Mamanda dalam pertunjukannya berinteraksi dengan penonton.
"Pada Mamanda menceritakan kehidupan kerajaan, tetapi kadang-kadang ada sindiran buat pemerintah, pun ada pesan moral yang disampaikan," jelas Sri
Selain seni budaya, kata Sri Wahyuni, Pemerintah Kutai Kertanegara juga telah menggelar pentas seni nusantara yang merupakan paguyuban dari semua daerah. Untuk seni budaya kontemporer, ada festival film pendek, karnaval, dan lampion.
Ketua Yayasan Total Indonesia Edi Mulyadi mengatakan bahwa Total E&P Indonesie melalui Yayasan Total Indonesia mempunyai kepedulian terhadap seni budaya tradisional, khususnya seni budaya Kutai Kertanegara.
"Untuk tahun ini, kami menganggarkan sebesar Rp8 miliar untuk pelestarian budaya lokal," ujar Eddy.
Eddy mengatakan berbagai budaya yang turut dilestarikan dan direkontruksi seperti seni teater mamanda, tari jepen, wayang, kuda bepang, hingga tarsul.
"Selain memberikan dana bagi sanggar dan pelaku seni untuk membantu pelestariannya, kami juga membukukannya sehingga tidak hilang," lanjut Eddy.
Buku-buku tersebut diberikan kepada sekolah-sekolah sebagai acuan atau referensi pelajaran muatan lokal. Dengan demikian, kata Eddy, ada dokumentasi dari seni tersebut sehingga tidak akan punah digerus zaman.
Pewarta : Oleh: Indriani
Editor : AWI-SEO&Digital Ads
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Kemendikbud Ristek dukung penuh pelestarian sastra tutur lahan basah Sumsel
26 March 2024 20:52 WIB, 2024
Terpopuler - Artikel
Lihat Juga
Aminah Syukur dan Dorinawati, srikandi perintis pendidikan di Kalimantan Timur
21 April 2026 10:53 WIB