Logo Header Antaranews Sumsel

Mendiagnosis jenis demam lewat keringat tubuh

Selasa, 5 Mei 2026 07:50 WIB
Image Print
Tiffney Tyara Setyoko peraih Juara Terbaik 1 PILMAPRES LLDIKTI Wilayah III 2026, mahasiswa Universitas Pelita Harapan (UPH). Program Studi (Prodi) Pendidikan Dokter. (ANTARA/HO/UPH)

Jakarta (ANTARA) - Satu pertanyaan yang terus mengganggu penulis sejak awal mempelajari dunia kedokteran adalah mengapa sesuatu yang tampak sederhana, seperti demam, justru sering menjadi titik awal keterlambatan penanganan penyakit infeksi.

Di ruang kelas, umumnya mahasiswa kedokteran belajar bahwa demam adalah respons alami tubuh. Di lapangan, banyak terjadi sesuatu yang berbeda.

Sebagian besar orang tidak memiliki cukup informasi untuk menilai apakah kondisi yang mereka alami masih aman atau sudah mengarah pada fase yang lebih serius.

Pertanyaan itu tidak pernah benar-benar hilang. Tapi terus mengikuti penulis, menjadi semacam kegelisahan yang tidak selesai.

Hingga pada satu kesimpulan, bisa disadari bahwa ternyata masalahnya bukan semata pada kurangnya pengetahuan medis, melainkan pada ketiadaan alat bantu yang mampu menjembatani pemahaman tersebut di tingkat masyarakat.

Dalam banyak kasus, keputusan yang diambil ketika seseorang mengalami demam sering kali didasarkan pada intuisi. Mereka bertanya pada diri sendiri atau orang terdekat, mencoba mengingat pengalaman sebelumnya, lalu mengambil langkah yang dirasa paling masuk akal.

Hal itu menjadi semakin abu-abu dan sulit dipertanggungjawabkan secara logika ilmu pengetahuan. Tanpa parameter objektif, memang akan susah menentukan apakah tubuh sedang dalam kondisi yang masih stabil atau justru sedang menuju kondisi kritis.

Kegelisahan ini semakin kuat ketika penulis mengamati data kasus penyakit infeksi di Kabupaten Tangerang yang menunjukkan tingginya proporsi kasus berstatus suspek.

Angka-angka tersebut bukan sekadar statistik, tapi mencerminkan kenyataan bahwa banyak kondisi tidak terdeteksi secara dini, sehingga penanganan menjadi terlambat.

Dalam beberapa situasi, keterlambatan ini bisa berujung pada komplikasi serius, bahkan mengancam nyawa.

Dari situ, penulis mulai mencoba melihat persoalan ini dari sudut pandang yang berbeda. Jika masyarakat kesulitan membaca kondisi tubuhnya sendiri, apakah mungkin bisa ada alat yang bisa membantu mereka memahami sinyal-sinyal tersebut secara lebih objektif.

Bukan untuk menggantikan tenaga medis, tetapi untuk memberikan panduan awal yang lebih akurat dalam mengambil keputusan.


Smart Febrile Patch

Pemikiran ini kemudian berkembang menjadi gagasan tentang pengembangan Smart Febrile Patch, sebuah sensor wearable non-invasif yang dirancang untuk memantau biomarker fisiologis melalui keringat.

Ide dasarnya sederhana bahwa tubuh manusia sebenarnya sudah memberikan banyak sinyal, tetapi mereka belum memiliki cara yang cukup praktis untuk membacanya dalam kehidupan sehari-hari.

Patch ini dirancang untuk mengukur tiga indikator utama, yaitu suhu tubuh, pH keringat, dan kadar laktat.

Ketiga parameter ini bukan dipilih secara acak. Suhu tubuh menjadi indikator paling umum dari respons infeksi. pH keringat memberikan gambaran tentang keseimbangan fisiologis, sementara laktat berkaitan dengan kondisi metabolisme dan dapat menjadi tanda awal gangguan perfusi jaringan.

Dengan memantau ketiga biomarker tersebut secara real-time, penulis membayangkan sebuah sistem yang dapat memberikan gambaran lebih utuh tentang kondisi tubuh seseorang.

Bukan sekadar apakah seseorang itu demam, tetapi bagaimana tubuhnya merespons kondisi tersebut. Apakah masih dalam batas adaptif, atau sudah menunjukkan tanda-tanda yang perlu diwaspadai lebih lanjut.

Bagi penulis, inti dari riset ini bukan hanya pada teknologi yang dikembangkan, tetapi pada perubahan cara berpikir yang ingin didorong. Selama ini, banyak keputusan kesehatan diambil ketika kondisi sudah memburuk.

Pendekatan yang bisa coba ditawarkan justru bergerak ke arah sebaliknya, yakni bagaimana bisa seseorang mengenali tanda-tanda awal, sebelum kondisi menjadi lebih serius.

Dalam prosesnya, penulis juga semakin menyadari bahwa masalah kesehatan tidak pernah berdiri sendiri, tetapi selalu berkelindan dengan aspek sosial, ekonomi, dan budaya.

Misalnya, praktik swamedikasi yang tidak rasional, termasuk penggunaan antibiotik tanpa indikasi yang jelas, sering kali dipengaruhi oleh keterbatasan akses informasi dan layanan kesehatan. Tanpa intervensi yang tepat, kebiasaan ini dapat berkontribusi pada meningkatnya resistensi antibiotik.

Di sinilah dapat dilihat bahwa inovasi sederhana bisa memiliki dampak yang lebih luas. Jika masyarakat memiliki akses terhadap data yang lebih objektif tentang kondisi tubuhnya, maka keputusan yang diambil pun bisa menjadi lebih rasional.

Dengan demikia, risiko keterlambatan penanganan dapat ditekan, dan penggunaan obat yang tidak tepat dapat dikurangi.


Mempertanyakan asumsi

Perjalanan mengembangkan gagasan ini juga mengajarkan bahwa riset bukan hanya tentang menemukan jawaban, tetapi juga tentang terus mempertanyakan asumsi yang dimiliki.

Banyak hal yang sebelumnya dianggap banyak orang sudah jelas, ternyata menyimpan kompleksitas yang lebih dalam ketika dihadapkan dengan realitas di lapangan.

Kompetisi, seperti pemilihan mahasiswa berprestasi menjadi ruang yang sangat berharga dalam proses ini.

Bukan hanya sebagai ajang untuk menguji gagasan, tetapi juga sebagai kesempatan untuk mengasah cara berpikir dan berkomunikasi.

Dalam setiap tahap seleksi, pesertanya ditantang untuk menyusun ide secara lebih terstruktur, mempertajam argumen, dan menghubungkannya dengan konteks yang lebih luas, termasuk isu global, seperti kesehatan dan keberlanjutan.

Namun, yang paling penting adalah bagaimana pengalaman ini membentuk cara seseorang melihat peran seorang mahasiswa.

Penulis yang turut serta dalam kompetisi ini mulai memahami bahwa menjadi mahasiswa bukan hanya tentang menyerap ilmu, tetapi juga tentang mengambil tanggung jawab untuk menggunakan ilmu tersebut dalam menjawab persoalan nyata di masyarakat.

Langkah menuju tingkat nasional tentu menjadi tantangan berikutnya. Penulis menyadari bahwa masih banyak hal yang perlu dipelajari dan dikembangkan, baik dari sisi akademik maupun pengalaman.

Tetapi, proses ini bukan sekadar tentang meraih hasil terbaik, melainkan tentang memastikan bahwa gagasan yang dibawa tetap relevan dan memiliki potensi untuk memberikan manfaat yang nyata.

Hal ini, termasuk hasilnya, yakni sebuah riset yang berangkat dari sebuah pertanyaan sederhana tentang demam, tetapi membawa pada pemahaman yang lebih luas tentang pentingnya deteksi dini, akses informasi, dan pengambilan keputusan yang berbasis data.

Penulis percaya bahwa setiap pertanyaan yang lahir dari kepekaan terhadap masalah memiliki potensi untuk menjadi solusi, selama kita bersedia untuk menelusurinya dengan sungguh-sungguh.

Dan mungkin, di situlah letak makna dari sebuah perjalanan riset. Hal yang tidak hanya menghasilkan temuan, tetapi juga membentuk cara seseorang memahami dunia dan peran kita di dalamnya.


*) Tiffney Tyara Setyoko adalah Juara Terbaik 1 PILMAPRES LLDIKTI Wilayah III 2026, mahasiswi Program Studi (Prodi) Pendidikan Dokter UPH



Pewarta:
Editor: Dolly Rosana
COPYRIGHT © ANTARA 2026