Perempuan berkacamata dengan bingkai hitam penuh, berdiri di hadapan puluhan rekan-rekannya dengan suara penuh semangat.

Perempuan yang ketika itu mengenakan baju batik coklat itu bercerita mengenai keinginan dan mimpi-mimpinya.

"Saya berminat karena merasa ada sesuatu yang kosong. Sesuatu yang tidak sesuai dengan hati," ujar perempuan yang bernama lengkap  AA Dwi Wulandari.

Dwi, panggilannya, adalah  dokter muda lulusan Universitas Udayana. Dokter kelahiran 30 April 1984 itu, sebelumnya bertugas sebagai dokter Pegawai Tidak Tetap (PTT) di Desa Kintamani, Kabupaten Bangli, Bali.

Selama dua tahun dia bertugas di desa yang menjadi salah satu tujuan pariwisata Bali itu, Dwi harus berhadapan dengan praktik dukun yang masih kuat.

Hal itu karena masyarakat masih banyak meyakini mitos-mitos yang beredar di desa itu. Itu menjadi tantangan tersendiri bagi dara asli Bali itu.

Namun, semua itu ternyata tak membuatnya puas. Dwi merasa tidak nyaman dengan kondisi yang ada. Hatinya memberontak.

Beruntung pada pertengahan tahun ini, Dwi dari akun jejaring sosial miliknya, mendapat informasi mengenai penerimaan tenaga kesehatan yang tergabung dalam Pencerah Nusantara.

Dwi, salah satu dari 32 peserta yang lolos seleksi dari 1.043 pendaftar.

Mereka akan bekerja selama satu tahun di tujuh daerah pelosok yakni Mentawai, Karawang, Pasuruan, Berau, Lindu, Hittua, dan Ende.

Di daerah terluar dan sulitnya akses kesehatan di wilayah itu, mereka akan dibagi dalam tim (yang terdiri dari empat hingga lima orang) yang terdiri atas dokter, perawat, bidan, dan tenaga kesehatan lainnya.

"Ada sesuatu yang kosong dalam hati. Kalau di rumah sakit, saya hanya duduk di puskesmas dan menunggu orang yang datang berobat," jelas dia.

Di daerah penugasan, mereka tidak hanya bekerja menunggu pasien. Mereka akan memberi layanan primer dan mengajak masyarakat untuk hidup sehat mulai dari rumah.
   
          Panggilan
Lain lagi cerita peserta termuda Pencerah Nusantara, Shafhan Dustur (25), dokter lulusan Universitas Syah Kuala, Banda Aceh.

"Saya merasa hampa setelah kuliah selama enam tahun. Namun tidak bekerja untuk masyarakat," ujar lelaki yang akrab disapa Idus itu.

Sebelumnya, Idus mengaku sudah mengikuti seleksi dokter PTT. Namun sayangnya, Idus tidak lolos seleksi. Gagal seleksi, anak ketiga dari lima bersaudara itu mengikuti seleksi Jamsostek.

"Tapi begitu lulus, ternyata orang tua tak mengizinkan keluar dari Aceh," ujar anak dari pasangan Nazaruddin (60) dan Nurwahidah (56) itu.

Terlebih lagi, ketika itu ibunya sedang sakit. Sehingga sulit untuk meninggalkan perempuan yang melahirkannya itu.

"Apalagi, di keluarga hanya saya yang menjadi dokter," keluhnya.

Pendirian orang tuanya ternyata goyah, begitu Idus lulus seleksi Pencerah Nusantara.

Idus meyakinkan kedua orang tuanya, bahwa dia bisa berbuat lebih untuk masyarakat. Tidak hanya memberi pelayanan kesehatan ketika mereka sakit.

Untuk tahap awal, Idus mengakui tidak mungkin langsung bisa memaksa masyarakat setempat untuk mengikuti programnya. Dirinya dan teman-temannya mencoba untuk membangun komunikasi terlebih dahulu dengan masyarakat setempat.
   
         Terbatas
Utusan Khusus Presiden Republik Indonesia untuk MDGs, Prof Dr dr Nila Moeloek SpM(K), mengatakan di daerah terpencil masih terbatas akan ketersedian tenaga kesehatan.

Ditambah dengan keterbatasan sarana sangat menghambat pelayanan kesehatan di daerah dan membuat pelayanan dokter dan tenaga kesehatan jadi tidak maksimal sehingga membuat masyarakat memilih berobat ke alternatif.

"Ide ini bermula dari konsep dokter keluarga yang menjaga kesehatan masyarakat, bukan mengobati. Selama ini, kita tidak menjaga kesehatan dari hulu ke hilir melainkan hanya saat mengobatinya saja," jelas Nila.

Itu adalah kesalahan fatal, lanjut Nila, apalagi era telah berubah. Ditambah dengan tingginya semangat pemuda, pihaknya menginisiasi program Pencerah Nusantara.

"Di Indonesia ada sekitar 80.000 dokter umum. Kalau mereka banyak uang, mereka akan bersekolah lagi. Tapi kalau mereka tidak punya uang masa hanya menjadi dokter di klinik 24 jam," terang Guru Besar UI itu.

Oleh karena itu, Nila mengajak para pemuda untuk bersama-sama menjaga kesehatan masyarakat. Para pemuda itu akan bekerja secara tim dan melakukan kegiatan preventif, promotif dan edukatif.

Nila memberi contoh jika anak yang mengalami cacingan, maka tenaga kesehatan tidak hanya memberi obat saja. Tetapi juga dilihat bagaimana kondisi rumahnya, apakah masih berlantaikan tanah atau sudah disemen.

Jika belum, Nila mengharapkan para Pencerah Nusantara itu mendorong agar pemangku kepentingan bisa turun tangan.

Perempuan yang masih terlihat bugar di usia 63 tahun itu mengatakan para tenaga kesehatan itu telah mendapatkan pelatihan intensif dan komperehensif selama tujuh pekan.

Pelatihan itu, kata Nila, membuat para tenaga kesehatan tersebut semakin kompak dalam timnya masing-masing, dan dapat menjalin kemitraan antar pemangku kepentingan dalam usaha membangun kemandirian masyarakat secara berkesinambungan.

Mantan Menteri Lingkungan Hidup, Emil Salim, mengklaim bahwa gerakan itu adalah aksi nyata yang ditunggu-tunggu oleh masyarakat. Terutama di daerah terpencill.

"Saya meminta agar pengalaman selama di daerah tidak terlewatkan begitu saja, tapi bisa ditulis dalam sebuah buku," pinta Ketua Dewan Pertimbangan Presiden itu. (ANT-I025)