Logo Header Antaranews Sumsel

Pertamina EP Field Adera ajak warga Pengabuan hidup sehat dari kebun sendiri

Selasa, 14 April 2026 08:19 WIB
Image Print
Hermanila, warga Desa Pengabuan, Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), Sumatera Selatan, memilah tanaman untuk dijadikan obat herbal. (ANTARA/HO/PHR4)

Palembang (ANTARA) - Matahari baru saja mengintip di ufuk timur saat Hermanila (45) mulai menyisir kebun di samping rumahnya di Desa Pengabuan, Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), Sumatera Selatan. Tangannya yang cekatan memilah helai demi helai daun kelor dan memetik bunga telang yang merekah biru.

Di sela barisan jahe dan temulawak, ia tak lagi sekadar menanam, tetapi sedang merawat "apotek hidup" bagi keluarganya.

Bagi warga Desa Pengabuan, Kecamatan Abab, tanaman herbal bukan hal baru. Keterbatasan akses dan mahalnya biaya pengobatan sempat memaksa mereka akrab dengan rimpang dan dedaunan berkhasiat. Namun, selama bertahun-tahun, potensi hijau itu hanya tumbuh liar tanpa sentuhan manajemen yang baik.

Kondisi tersebut mulai berubah saat Pertamina EP (PEP) Adera Field hadir melalui program Pertanian Mandiri Desa Tangguh (PERMATA). Lewat pemetaan sosial yang mendalam, perusahaan di bawah naungan Pertamina Hulu Rokan (PHR) Zona 4 ini menangkap asa warga untuk hidup lebih sehat secara mandiri.

Anggota KWT Selaras Alam bersama-sama mengurus tanaman obat di di Desa Pengabuan, Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), Sumatera Selatan. (ANTARA/HO/PHR4)

Perubahan besar bermula dari Kelompok Wanita Tani (KWT) Selaras Alam. Para ibu di desa ini mulai diperkenalkan pada teknik pengolahan herbal yang higienis. Tak ada lagi penjemuran di bawah terik matahari secara terbuka, kini mereka memiliki rumah pengering (dry house) dan rumah kaca (greenhouse) untuk menjaga mutu tanaman.

Modernisasi pun merambah ke sistem pengairan. PEP Adera Field memasang sistem irigasi tetes (drip irrigation) otomatis. Teknologi tersebut memastikan setiap bibit bawang dayak hingga Centella asiatica mendapatkan asupan air yang presisi dan efisien.

"Dulu kami hanya menanam dan memanfaatkan seadanya. Sekarang kami lebih paham cara menjaga kesehatan dari hasil kebun sendiri," ujar Hermanila, Senin (13/4).

Mendulang Laba

Dampak program PERMATA tidak hanya terasa di raga, tetapi juga di kantong. Budidaya tanaman obat keluarga (toga) ini mampu memangkas biaya kesehatan rumah tangga warga hingga 30 persen per bulan.

Lebih jauh, kreativitas anggota KWT Selaras Alam mulai menghasilkan pundi-pundi rupiah. Produk turunan seperti sirup rosella, ramuan instan, hingga teh herbal (tisane) mulai merambah pasar lokal. Hasilnya signifikan, pendapatan kelompok melonjak drastis dari rata-rata Rp1,5 juta menjadi Rp4,2 juta per bulan.

"Rasanya lebih tenang karena kami bisa lebih mandiri untuk keluarga kami," tambah Hermanila.

Anggota KWT Selaras Alam yang merupakan binaan Pertamina EP Adera Field mempromosikan produk olahan dari tanaman herbalnya. (ANTARA/HO/PHR4)

Manager Community Involvement & Development (CID) PHR, Iwan Ridwan Faizal, menekankan bahwa kesehatan adalah fondasi kemandirian. Baginya, PERMATA adalah ajakan bagi warga untuk mengubah cara pandang terhadap pola hidup sehat.

"Menjaga kesehatan tidak selalu harus dimulai dari fasilitas besar, tetapi bisa dimulai dari apa yang mereka tanam dan konsumsi setiap hari," kata Iwan.

Hingga saat ini, sebanyak 60 orang telah merasakan manfaat langsung dari program ini. Menariknya, lebih dari separuh penggeraknya adalah perempuan. Langkah kecil dari kebun herbal di Desa Pengabuan ini kini menciptakan efek berganda (multiplier effect), menyebarkan semangat pertanian sehat ke pelosok PALI.

Di bawah naungan PHR Regional Sumatra Zona 4 dan pengawasan SKK Migas Perwakilan Sumatera Bagian Selatan (Sumbagsel), PEP Adera Field terus membuktikan bahwa kemandirian sebuah desa bisa bermula dari sepetak tanah di samping rumah. (adv)



Pewarta:
Editor: Dolly Rosana
COPYRIGHT © ANTARA 2026